JawaPos.com – Tidak semua hubungan terasa nyaman dan saling mendukung. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin berhadapan dengan individu yang kerap membuatnya merasa lelah secara emosional, tidak dihargai, atau bahkan terus-menerus diragukan.
Istilah toxic sering digunakan untuk menggambarkan pola interaksi yang secara konsisten memberikan dampak buruk terhadap orang lain. Namun, label tersebut bukan diagnosis psikologis dan tidak berarti seseorang yang sesekali melakukan salah satu perilaku di bawah ini otomatis merupakan “orang toxic”.
Yang lebih penting adalah memperhatikan pola perilaku yang berulang, dampaknya terhadap diri sendiri, serta apakah orang tersebut bersedia bertanggung jawab dan memperbaiki sikapnya.
Dilansir dari Geediting, berikut sembilan perilaku yang patut diwaspadai dalam sebuah hubungan.
Baca Juga: 12 Perilaku Zodiak Mengusir Bosan Saat Bekerja, Dari Melamun hingga Berkeliling Mencari Inspirasi
1. Selalu Merasa Dirinya Paling Benar
Berinteraksi dengan orang yang tidak pernah mau mengakui kesalahan dapat terasa sangat melelahkan.
Mereka cenderung menganggap pendapat sendiri sebagai satu-satunya yang benar dan sulit menerima sudut pandang berbeda. Perbedaan pendapat pun dapat berubah menjadi perdebatan panjang karena mereka lebih berfokus memenangkan argumen daripada memahami lawan bicara.
Dalam hubungan yang sehat, setiap orang seharusnya memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat dan mengakui kesalahan ketika memang diperlukan.
2. Terus-Menerus Memposisikan Diri sebagai Korban
Setiap orang tentu pernah mengalami masalah. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang selalu menempatkan dirinya sebagai korban dalam hampir setiap persoalan.
Mereka mungkin terus mengeluhkan ketidakadilan yang dialami tanpa bersedia melihat kontribusi atau tanggung jawabnya sendiri dalam suatu masalah.
Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, hubungan dapat menjadi tidak seimbang karena pihak lain akhirnya selalu merasa harus memahami, menenangkan, atau menyelesaikan masalah untuknya.
3. Selalu Melihat Sisi Negatif
Orang dengan pola pikir sangat negatif cenderung menemukan masalah dalam hampir setiap keadaan.
Pembicaraan dapat didominasi keluhan, pesimisme, dan perhatian terhadap hal-hal buruk. Bahkan ketika ada solusi, mereka mungkin justru mencari alasan mengapa solusi tersebut tidak akan berhasil.
Sesekali merasa negatif tentu merupakan hal yang normal. Yang perlu diwaspadai adalah pola negatif yang terus berulang dan membuat orang di sekitarnya ikut merasa terbebani.
4. Gemar Mengkritik secara Berlebihan
Kritik dapat membantu seseorang berkembang jika disampaikan dengan cara yang tepat. Masalah muncul ketika kritik berubah menjadi kebiasaan merendahkan atau menjatuhkan.
Individu dengan pola perilaku seperti ini mungkin lebih sering menunjukkan kekurangan orang lain daripada memberikan apresiasi. Komentarnya pun tidak bertujuan membantu, melainkan membuat lawan bicara merasa tidak cukup baik.
Perbedaan antara kritik membangun dan perilaku merendahkan terletak pada cara penyampaian, tujuan, serta dampaknya terhadap orang yang menerima kritik.
5. Sering Memanipulasi Orang Lain
Manipulasi terjadi ketika seseorang berusaha memengaruhi orang lain dengan cara yang tidak sehat demi mendapatkan keuntungan atau memenuhi keinginannya sendiri.
Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari memutarbalikkan percakapan, memainkan rasa bersalah, hingga membuat seseorang meragukan penilaiannya sendiri.
Jika pola semacam ini terjadi berulang kali, hubungan dapat menjadi tidak sehat karena salah satu pihak merasa harus selalu mengikuti keinginan pihak lainnya.
6. Kurang Memiliki Empati
Empati merupakan kemampuan untuk memahami atau mempertimbangkan perasaan dan perspektif orang lain.
Seseorang yang kurang menunjukkan empati mungkin cenderung mengabaikan perasaan orang lain, menganggap masalah mereka berlebihan, atau langsung menghakimi tanpa berusaha memahami situasinya.
Dalam hubungan yang sehat, perbedaan perasaan tetap dapat diterima. Seseorang tidak harus selalu setuju, tetapi tetap dapat menghargai apa yang dirasakan orang lain.
7. Sering Tidak Menepati Janji
Kepercayaan dibangun melalui konsistensi. Karena itu, seseorang yang berulang kali mengingkari janji atau gagal memenuhi komitmen dapat membuat hubungan menjadi sulit dipertahankan.
Masalahnya bukan pada satu janji yang sesekali terlewat. Yang patut diperhatikan adalah pola berulang tanpa adanya usaha untuk memperbaiki keadaan atau bertanggung jawab atas konsekuensinya.
8. Terlalu Suka Mengontrol
Kebutuhan untuk mengendalikan orang lain dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Seseorang mungkin berusaha menentukan dengan siapa pasangannya boleh berteman, bagaimana orang lain harus mengambil keputusan, atau apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Perhatian dan kepedulian berbeda dengan kontrol. Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang bagi setiap individu untuk memiliki pilihan, batasan, dan kehidupan pribadi.
9. Tidak Mau Mengakui Kesalahan atau Berubah
Setiap manusia tentu memiliki kekurangan dan dapat melakukan kesalahan. Yang membedakan adalah kemauan untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya.
Jika seseorang berulang kali melakukan tindakan yang menyakiti orang lain tetapi selalu menolak bertanggung jawab, pola tersebut dapat menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.
Perubahan memang tidak selalu terjadi dengan cepat. Namun, adanya kemauan untuk mendengarkan, mengakui kesalahan, dan melakukan perbaikan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat.