JawaPos.com - Di era media sosial, mendapatkan informasi tentang kesehatan tidak lagi sulit. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan video tentang cara menyembuhkan penyakit, artikel tentang makanan tertentu, unggahan mengenai efek samping obat, hingga klaim bahwa suatu metode alami mampu menggantikan pengobatan medis.
Masalahnya, mudah mendapatkan informasi tidak berarti mudah mendapatkan informasi yang benar.
Banyak informasi kesehatan yang beredar di internet terlihat meyakinkan karena menggunakan istilah ilmiah, menampilkan testimoni, menyertakan foto sebelum dan sesudah, atau dibawakan oleh seseorang yang terlihat percaya diri. Padahal, sebuah informasi yang terdengar meyakinkan belum tentu didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (12/8), psikologi menunjukkan bahwa seseorang tidak selalu mempercayai informasi keliru karena kurang cerdas atau tidak mampu berpikir. Sering kali, ada pola psikologis tertentu yang membuat otak lebih mudah menerima informasi tertentu dan menolak informasi lainnya.
Jika Anda termasuk orang yang sering mempercayai klaim kesehatan yang ternyata keliru, mungkin Anda mengenali beberapa kecenderungan berikut.
Catatan penting: Enam hal di bawah ini bukan diagnosis kepribadian atau gangguan mental. Ini adalah kecenderungan psikologis dan pola berpikir yang dapat dimiliki siapa saja dalam tingkat yang berbeda-beda.
1. Anda Cenderung Mencari Informasi yang Menguatkan Keyakinan Sendiri
Salah satu kecenderungan psikologis yang paling umum adalah confirmation bias, atau bias konfirmasi.
Bias ini terjadi ketika seseorang cenderung mencari, mengingat, dan memberikan bobot lebih besar kepada informasi yang sesuai dengan keyakinannya, sementara informasi yang bertentangan lebih mudah diabaikan.
Misalnya, seseorang sudah percaya bahwa:
“Obat dokter sebenarnya lebih berbahaya daripada penyakitnya.”
Ketika ia menemukan sebuah unggahan yang mengatakan bahwa seseorang mengalami efek samping setelah menggunakan obat tertentu, ia mungkin langsung menganggapnya sebagai bukti bahwa keyakinannya benar.
Namun ketika menemukan penelitian yang menunjukkan manfaat obat tersebut pada kondisi tertentu, ia mungkin berkata:
“Itu penelitian yang dibiayai perusahaan.”
Masalahnya bukan semata-mata apakah penelitian tersebut memang memiliki keterbatasan. Masalahnya adalah standar pembuktiannya bisa menjadi tidak seimbang.
Informasi yang mendukung keyakinan diterima dengan cepat.
Informasi yang bertentangan diperiksa dengan sangat ketat.
Pola seperti ini dapat membuat seseorang semakin yakin terhadap suatu klaim, bahkan ketika bukti sebenarnya tidak mendukung keyakinan tersebut.
Mengapa otak melakukan hal ini?
Karena manusia tidak selalu memproses informasi secara objektif. Kita memiliki kecenderungan untuk mencari konsistensi antara informasi baru dan apa yang sudah kita yakini.
Jika informasi baru sesuai dengan pandangan kita, otak dapat merasa lebih nyaman.
Sebaliknya, informasi yang bertentangan dapat menimbulkan ketidaknyamanan psikologis.
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang bisa tetap mempertahankan keyakinan kesehatan tertentu meskipun telah diberikan bukti yang berlawanan.
Tanda-tandanya
Anda mungkin memiliki kecenderungan ini jika:
hanya mengikuti akun kesehatan yang memiliki pandangan sama dengan Anda;
menganggap informasi yang mendukung keyakinan sebagai “fakta”;
langsung menyebut informasi yang bertentangan sebagai kebohongan;
jarang membaca sumber yang memiliki perspektif berbeda;
atau hanya mencari informasi setelah terlebih dahulu menentukan kesimpulannya.
Cara sederhana untuk menguranginya adalah bertanya:
“Kalau saya ternyata salah, bukti seperti apa yang seharusnya bisa membuat saya berubah pikiran?”
Pertanyaan ini memaksa kita untuk tidak hanya mencari bukti yang mendukung.
2. Anda Mudah Terpengaruh oleh Cerita dan Testimoni Pribadi
Bayangkan dua jenis informasi.
Informasi pertama berbunyi:
“Dalam sebuah penelitian dengan jumlah peserta yang besar, metode tertentu tidak menunjukkan manfaat yang signifikan.”
Informasi kedua berbunyi:
“Dulu saya menderita penyakit ini selama bertahun-tahun. Setelah mencoba metode tersebut selama dua minggu, saya sembuh total.”
Bagi banyak orang, cerita kedua terasa jauh lebih kuat.
Mengapa?
Karena manusia sangat responsif terhadap narasi dan pengalaman personal.
Kita dapat lebih mudah mengingat cerita tentang seseorang dibandingkan angka statistik yang abstrak.
Masalahnya, pengalaman pribadi tidak selalu dapat digunakan untuk membuktikan bahwa suatu metode kesehatan efektif secara umum.
Seseorang bisa merasa lebih baik setelah melakukan sesuatu karena berbagai alasan.
Penyakitnya mungkin memang membaik secara alami.
Gejalanya mungkin mengalami fluktuasi.
Ia mungkin melakukan perubahan gaya hidup lain pada saat yang sama.
Ia mungkin mengalami efek placebo.
Atau diagnosis awalnya mungkin tidak tepat.
Tetapi karena pengalaman tersebut terasa nyata, orang tersebut dapat menyimpulkan:
“Saya sembuh karena metode itu.”
Kemudian cerita tersebut dibagikan kepada orang lain.
Orang yang mendengarnya pun berpikir:
“Kalau dia berhasil, mungkin saya juga akan berhasil.”
Di sinilah testimoni dapat menjadi sangat persuasif.
Bukan berarti semua pengalaman pribadi tidak berguna
Pengalaman seseorang tetap dapat menjadi informasi awal yang menarik.
Namun pengalaman pribadi sebaiknya tidak langsung diperlakukan sebagai bukti bahwa sebuah metode pasti efektif untuk semua orang.
Perbedaan ini sangat penting.
Testimoni menjawab:
“Apa yang terjadi pada orang ini?”
Sedangkan penelitian yang baik mencoba menjawab:
“Apakah metode ini benar-benar menyebabkan hasil tersebut, dan apakah hasilnya konsisten pada banyak orang?”
Dua pertanyaan tersebut tidak sama.
3. Anda Memiliki Kebutuhan Tinggi untuk Mendapatkan Kepastian
Kecenderungan ketiga berkaitan dengan intolerance of uncertainty, yaitu kesulitan menghadapi ketidakpastian.
Kesehatan merupakan bidang yang penuh ketidakpastian.
Bahkan dokter tidak selalu dapat memberikan jawaban absolut.
Satu pengobatan dapat membantu sebagian orang tetapi tidak memberikan hasil yang sama pada orang lain.
Sebuah gejala dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab.
Sebuah penelitian dapat menunjukkan manfaat tertentu, tetapi tidak berarti manfaat tersebut berlaku untuk setiap individu.
Bagi sebagian orang, ketidakpastian seperti ini terasa tidak nyaman.
Mereka ingin jawaban yang sederhana:
“Apakah makanan ini menyebabkan penyakit?”
“Apakah obat ini berbahaya?”
“Apakah cara ini pasti menyembuhkan?”
“Apakah saya harus menghindari makanan tersebut selamanya?”
Informasi kesehatan palsu sering menawarkan sesuatu yang sangat menarik:
kepastian.
Misalnya:
“Semua penyakit berasal dari satu penyebab.”
“Dokter tidak ingin Anda mengetahui rahasia ini.”
“Satu bahan ini dapat membersihkan seluruh racun tubuh.”
“Jika Anda melakukan tiga langkah ini, penyakit akan hilang.”
Klaim seperti itu memang terdengar meyakinkan karena mengubah masalah yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana.
Namun kenyataan biologis jauh lebih kompleks.
Mengapa kepastian terasa menarik?
Karena ketidakpastian dapat membuat seseorang merasa kehilangan kendali.
Ketika seseorang merasa tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya, sebuah jawaban sederhana dapat memberikan rasa lega.
Walaupun jawabannya belum tentu benar.
Itulah mengapa kita perlu belajar membedakan:
“Saya merasa yakin”
dengan
“Saya memiliki bukti yang cukup.”
Keduanya bukan hal yang sama.
Sebuah klaim bisa terasa sangat meyakinkan tetapi tetap salah.
4. Anda Cenderung Berpikir dalam Pola Hitam-Putih
Kecenderungan berikutnya adalah dichotomous thinking, atau pola berpikir serba dua sisi.
Contohnya:
“Kalau alami berarti aman.”
“Kalau kimia berarti berbahaya.”
“Kalau dokter mengatakan sesuatu, pasti benar.”
“Kalau informasi itu berasal dari internet, pasti salah.”
“Kalau satu penelitian menemukan manfaat, berarti metode itu terbukti.”
“Kalau satu orang mengalami efek samping, berarti metode tersebut berbahaya bagi semua orang.”
Padahal dunia kesehatan jarang sesederhana itu.
Sesuatu yang berasal dari alam tidak otomatis aman.
Sebaliknya, sesuatu yang dibuat secara sintetis tidak otomatis berbahaya.
Yang lebih penting adalah dosis, mekanisme, kondisi individu, interaksi, bukti keamanan, dan kualitas penelitian.
Pola pikir hitam-putih membuat seseorang lebih mudah menerima klaim yang memiliki struktur sederhana:
baik versus buruk.
alami versus kimia.
dokter versus alternatif.
obat versus racun.
Padahal dalam ilmu kesehatan, jawaban yang paling tepat sering kali berbunyi:
“tergantung.”
Dan kata “tergantung” memang kurang memuaskan dibandingkan jawaban yang sederhana.
Tetapi justru karena kesehatan kompleks, jawaban yang hati-hati sering kali lebih mendekati kenyataan.
5. Anda Mudah Mempercayai Orang yang Terlihat Percaya Diri
Ada sebuah kesalahan psikologis yang sangat manusiawi:
kita sering menganggap seseorang kompeten hanya karena ia terlihat percaya diri.
Di media sosial, hal ini menjadi semakin kuat.
Seseorang berbicara dengan suara tegas.
Menggunakan istilah medis.
Memakai jas putih.
Menampilkan grafik.
Menyebut beberapa nama zat atau hormon.
Kemudian membuat klaim yang terdengar sangat ilmiah.
Penonton akhirnya berpikir:
“Orang ini pasti tahu apa yang dia bicarakan.”
Padahal kemampuan berbicara dengan percaya diri dan kemampuan memberikan informasi kesehatan yang akurat adalah dua hal berbeda.
Seseorang bisa sangat percaya diri tetapi salah.
Sebaliknya, seorang ahli dapat berbicara dengan sangat hati-hati karena memahami kompleksitas bukti yang ada.
Mengapa kepercayaan diri begitu berpengaruh?
Otak manusia menggunakan berbagai jalan pintas untuk mengambil keputusan.
Ketika kita tidak memiliki cukup waktu atau pengetahuan untuk memeriksa sebuah klaim, kita dapat menggunakan isyarat sosial.
Salah satunya adalah penampilan dan gaya komunikasi seseorang.
Jika seseorang terlihat profesional, memiliki banyak pengikut, berbicara lancar, dan sering mendapatkan komentar positif, kita dapat secara tidak sadar memberikan kredibilitas lebih besar kepadanya.
Padahal jumlah pengikut bukan ukuran kualitas bukti.
Jumlah penonton bukan ukuran kebenaran.
Popularitas bukan ukuran kompetensi.
Dan penggunaan istilah ilmiah bukan jaminan bahwa kesimpulannya ilmiah.
Pertanyaan yang lebih penting
Daripada bertanya:
“Siapa yang mengatakan ini?”
cobalah bertanya:
“Apa bukti yang digunakan untuk mendukung klaim ini?”
Ini bukan berarti kita harus mencurigai semua orang.
Kita hanya perlu memisahkan kredibilitas orang dari kekuatan bukti.
6. Anda Terlalu Cepat Mempercayai Informasi yang Sering Diulang
Pernahkah Anda mendengar suatu klaim berkali-kali sampai akhirnya terasa benar?
Misalnya sebuah pernyataan muncul di TikTok.
Kemudian muncul di Instagram.
Lalu dibagikan teman melalui WhatsApp.
Kemudian muncul lagi dalam sebuah video.
Setelah mendengarnya berkali-kali, kita mulai merasa:
“Sepertinya memang benar.”
Fenomena psikologis yang relevan di sini adalah illusory truth effect.
Secara sederhana, pengulangan sebuah informasi dapat membuat informasi tersebut terasa lebih familiar. Dan sesuatu yang familiar dapat terasa lebih benar, meskipun pengulangan itu sendiri tidak menambah bukti terhadap kebenarannya.
Ini sangat penting dalam era algoritma.
Sebuah informasi kesehatan yang kontroversial dapat menjadi viral bukan karena benar, tetapi karena menarik perhatian.
Semakin banyak orang membicarakannya, semakin sering kita melihatnya.
Semakin sering melihatnya, semakin familiar.
Semakin familiar, semakin mudah kita menerimanya.
Akibatnya, popularitas dapat terlihat seperti validasi.
Padahal:
viral ≠ benar.
banyak yang percaya ≠ terbukti.
sering diulang ≠ menjadi fakta.
Mengapa Enam Kecenderungan Ini Berbahaya Jika Digabungkan?
Masalah terbesar muncul ketika beberapa kecenderungan tersebut bekerja sekaligus.
Bayangkan seseorang melihat video kesehatan yang mengatakan bahwa suatu bahan tertentu mampu menyembuhkan penyakit.
Video tersebut dibawakan dengan sangat percaya diri.
Orang tersebut memang sudah percaya bahwa pengobatan konvensional terlalu banyak menggunakan obat.
Ia kemudian menemukan banyak komentar dari orang-orang yang mengaku berhasil menggunakan bahan tersebut.
Video itu muncul berulang kali di algoritmanya.
Karena ingin mendapatkan jawaban sederhana dan pasti, ia semakin yakin.
Kemudian ketika menemukan penelitian yang memberikan hasil berbeda, ia menolaknya.
Dalam situasi seperti ini, seseorang dapat terjebak dalam lingkaran penguatan keyakinan.
Keyakinan awal membuatnya memilih informasi tertentu.
Informasi tersebut memperkuat keyakinan.
Algoritma kemudian memberikan informasi serupa.
Pengulangan membuat informasi semakin familiar.
Testimoni membuatnya terasa nyata.
Dan akhirnya, keyakinan menjadi semakin sulit untuk dipertanyakan.
Yang menarik adalah seseorang dapat mengalami proses ini tanpa merasa dirinya sedang dibohongi atau dimanipulasi.
Justru ia mungkin merasa sedang melakukan penelitian sendiri.
Jadi, Apakah Orang yang Percaya Informasi Kesehatan Keliru Berarti Tidak Cerdas?
Tidak.
Ini merupakan kesalahpahaman yang penting untuk diluruskan.
Orang yang mempercayai informasi kesehatan yang salah tidak otomatis bodoh.
Bahkan orang yang sangat berpendidikan pun dapat mengalami bias kognitif.
Perbedaannya adalah kita semua memiliki titik lemah dalam cara memproses informasi.
Seseorang mungkin sangat rasional ketika mengambil keputusan finansial tetapi mudah percaya pada informasi kesehatan.
Orang lain mungkin sangat kritis terhadap politik tetapi menerima begitu saja klaim mengenai makanan atau suplemen.
Artinya, kemampuan berpikir kritis bukan sesuatu yang otomatis aktif dalam semua situasi.
Kita perlu melatihnya secara sadar.
Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Sebuah Informasi Kesehatan Layak Dipercaya?
Sebelum mempercayai sebuah klaim kesehatan, cobalah menggunakan beberapa pertanyaan berikut.
1. Siapa yang membuat klaim tersebut?
Apakah sumbernya:
tenaga kesehatan yang relevan;
institusi kesehatan;
organisasi ilmiah;
jurnal ilmiah;
atau hanya akun media sosial anonim?
Identitas sumber bukan satu-satunya penentu kebenaran, tetapi tetap penting untuk diperiksa.
2. Apa bukti yang diberikan?
Apakah hanya:
testimoni;
pengalaman pribadi;
video viral;
komentar pengguna;
atau terdapat penelitian yang relevan?
Semakin besar klaimnya, semakin kuat pula bukti yang seharusnya diperlukan.
3. Apakah ada konflik kepentingan?
Jika seseorang mengatakan sebuah produk sangat efektif lalu ternyata ia juga menjual produk tersebut, kita perlu lebih berhati-hati.
Bukan berarti klaim tersebut otomatis salah.
Tetapi kepentingan finansial merupakan alasan tambahan untuk memeriksa bukti secara independen.
4. Apakah sumber lain yang kredibel mengatakan hal yang sama?
Jangan hanya mencari satu sumber.
Bandingkan beberapa sumber independen.
Jika sebuah klaim benar-benar kuat, biasanya akan ada bukti yang dapat ditemukan di lebih dari satu tempat.
5. Apakah bahasanya terlalu absolut?
Berhati-hatilah dengan kata-kata seperti:
“pasti menyembuhkan.”
“100 persen aman.”
“tanpa efek samping.”
“dokter tidak mau Anda tahu.”
“obat ini sebenarnya racun.”
“semua orang membutuhkan ini.”
Klaim kesehatan yang terlalu mutlak layak diperiksa lebih jauh.
Belajar Mengatakan “Saya Belum Tahu”
Salah satu bentuk kematangan berpikir yang sering dilupakan adalah kemampuan mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Tidak mengetahui sesuatu bukan berarti bodoh.
Justru dalam ilmu pengetahuan, mengakui ketidakpastian merupakan bagian penting dari proses mencari kebenaran.
Kita tidak harus segera memilih antara:
“Ini benar.”
atau
“Ini salah.”
Kadang-kadang posisi yang paling rasional adalah:
“Buktinya belum cukup untuk menyimpulkan.”
Sikap seperti ini membantu kita menghindari keputusan kesehatan yang terburu-buru.
Kesimpulan
Jika Anda sering mempercayai informasi kesehatan yang ternyata keliru, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda memiliki “kepribadian buruk” atau kurang cerdas.
Kemungkinan yang terjadi adalah Anda sedang mengalami beberapa kecenderungan psikologis yang sebenarnya dapat dialami siapa saja.
Enam di antaranya adalah:
Bias konfirmasi — lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan.
Ketertarikan pada testimoni — pengalaman pribadi terasa lebih meyakinkan daripada data abstrak.
Kebutuhan terhadap kepastian — jawaban sederhana terasa lebih nyaman daripada ketidakpastian.
Pola pikir hitam-putih — masalah kompleks dipandang sebagai dua pilihan ekstrem.
Terpengaruh oleh kepercayaan diri sumber — orang yang terdengar yakin dianggap lebih kompeten.
Efek kebenaran semu — informasi yang sering diulang terasa semakin benar.
Kabar baiknya, kecenderungan tersebut bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Kita dapat melatih diri untuk berhenti sejenak sebelum percaya.
Siapa yang mengatakan ini?
Apa buktinya?
Apakah ada penjelasan alternatif?
Apakah sumber lain yang kredibel mendukungnya?
Apakah saya mempercayainya karena memang ada bukti, atau karena saya ingin klaim tersebut benar?
Lima pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi rem ketika kita berhadapan dengan informasi kesehatan yang menarik, mengejutkan, atau menakutkan.
Pada akhirnya, berpikir kritis bukan berarti selalu menolak informasi.
Berpikir kritis berarti bersedia menerima informasi ketika bukti mendukungnya dan bersedia mengubah pikiran ketika bukti menunjukkan bahwa kita keliru.
Dan dalam urusan kesehatan, kebiasaan tersebut jauh lebih berharga daripada sekadar merasa yakin bahwa kita sudah mengetahui jawabannya.