JawaPos.com — Punya kebiasaan membisukan chat teman, membiarkan pesan menumpuk, atau baru membalas setelah berjam-jam? Bagi sebagian orang, perilaku tersebut mungkin terlihat seperti tanda tidak peduli atau sengaja menjauh.
Di tengah kehidupan yang hampir selalu terhubung, pesan masuk tidak hanya membawa informasi, tetapi juga tuntutan untuk merespons. Bahkan chat sederhana seperti “lagi apa?” atau obrolan grup yang sebenarnya tidak penting dapat terasa seperti gangguan ketika muncul terus-menerus.
Karena itu, orang yang sering mute chat belum tentu tidak menyukai teman-temannya. Mereka mungkin justru memiliki cara tertentu dalam mengatur energi, perhatian, dan waktu untuk berinteraksi.
Dilansir dari The Economic Times, Rabu (12/8), psikologi melihat kebiasaan mengurangi notifikasi dan interaksi digital sebagai sesuatu yang lebih kompleks daripada sekadar perilaku antisosial. Berikut ciri kepribadian yang mungkin tercermin dari kebiasaan suka mute chat dan jarang membalas pesan:
Baca Juga: 3 Zodiak Memasuki Fase Terbaik Mulai 12 Agustus, Kekuatan Batin Bangkit dan Hidup Berubah Total Kini
1. Butuh Kendali atas Apa yang Mereka Perhatikan
Orang yang sering membisukan chat mungkin lebih nyaman jika dirinya yang menentukan kapan harus membuka percakapan. Mereka tidak ingin setiap bunyi notifikasi otomatis mengalihkan perhatian dari pekerjaan atau aktivitas yang sedang dilakukan.
Ini bukan berarti mereka tidak mau berbicara. Mereka hanya tidak ingin setiap pesan terasa seperti kewajiban untuk segera menjawab.
Bayangkan sedang bekerja, lalu 30 pesan masuk dari satu grup. Bagi sebagian orang, membisukan percakapan adalah cara sederhana untuk mengatakan, “Nanti saya baca kalau sudah selesai.”
2. Jarang Balas Pesan Bisa Berarti Tidak Suka Interaksi yang Menuntut
Ada orang yang sebenarnya senang berbicara, tetapi tidak menyukai komunikasi yang berlangsung tanpa jeda. Mereka bisa menikmati percakapan ketika sedang siap, tetapi merasa terbebani ketika harus terus mengikuti arus pesan.
Penelitian tentang social-networking fatigue menunjukkan bahwa information overload dan communication overload dapat membuat penggunaan media sosial terasa melelahkan.
Kondisi tersebut dapat mendorong seseorang mengurangi aktivitas atau frekuensi keterlibatannya.
Jadi, kalau seseorang membaca pesan tetapi baru membalas beberapa jam kemudian, alasannya belum tentu, “Saya malas bicara dengan kamu.”
3. Cenderung Menjaga Batas antara Waktu Pribadi dan Sosial
Orang yang sering mute chat juga mungkin lebih tegas dalam memisahkan waktu untuk bekerja, beristirahat, dan bersosialisasi. Mereka tidak selalu menganggap teman atau keluarga memiliki akses ke perhatian mereka sepanjang hari.
Contohnya sederhana: chat teman dibisukan ketika bekerja, grup keluarga dimatikan saat tidur, lalu semuanya dibuka kembali ketika waktu luang tiba. Dengan kata lain, mereka bukan menghilangkan hubungan, tetapi mengatur akses terhadap dirinya.
4. Bisa Lebih Mudah Lelah oleh Percakapan yang Terlalu Ramai
Grup dengan ratusan pesan, notifikasi bertubi-tubi, dan banyak percakapan sekaligus dapat menciptakan beban mental. Seseorang bahkan bisa merasa lelah hanya dengan melihat jumlah pesan yang belum dibaca.
Penelitian mengenai social media fatigue menemukan bahwa kelebihan informasi, tuntutan sosial, serta kecemasan terkait jejaring sosial dapat berkaitan dengan keinginan seseorang untuk mengurangi penggunaan media sosial.
Karena itu, keluar dari grup atau membisukan percakapan terkadang merupakan cara untuk mengurangi kebisingan, bukan memutus hubungan.
5. Tidak Selalu Berarti Antisosial atau Tidak Peduli
Ini bagian yang sering salah dipahami. Seseorang dapat sangat menyayangi temannya tetapi tetap tidak ingin menerima puluhan pesan sepanjang hari.
Bahkan, orang tersebut mungkin lebih nyaman melakukan percakapan ketika benar-benar punya waktu dan energi untuk memperhatikan lawan bicara. Frekuensi balasan tidak selalu sejalan dengan kualitas hubungan.
Namun, konteks tetap penting. Jika seseorang terus menghindari semua interaksi, menarik diri dari hubungan yang bermakna, atau selalu menghindari komunikasi ketika menghadapi masalah, perilakunya tidak bisa begitu saja dianggap sebagai sekadar kebutuhan akan ketenangan.
Jadi, kalau kamu suka mute chat dan jarang membalas pesan, bisa jadi kamu memang lebih membutuhkan kendali atas perhatian, lebih nyaman dengan batas sosial yang jelas, atau lebih mudah lelah menghadapi komunikasi yang terlalu ramai.
Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kebiasaan itu menunjukkan kepribadian tertentu yang bersifat pasti. Psikologi tidak sesederhana satu tombol mute. Yang lebih penting adalah alasan di baliknya: apakah kamu sedang mengatur perhatian dan energi, atau justru terus-menerus menghindari hubungan yang sebenarnya penting?