← Beranda
Bukan Sekadar Sibuk, 7 Perilaku Ini Bisa Menandakan Anda Sedang Menghindari Masalah
Leni Setya WatiRabu, 12 Agustus 2026 | 21.48 WIB
Ilustrasi orang yang selalu melarikan diri dari masalah (freepik/nikitabuida)

JawaPos.com – Menghadapi persoalan secara langsung membutuhkan keberanian. Sebaliknya, menghindari masalah mungkin terasa lebih nyaman dalam jangka pendek, tetapi persoalan yang tidak diselesaikan biasanya tetap menunggu untuk dihadapi.

Setiap orang tentu memiliki cara berbeda ketika menghadapi tekanan. Ada yang langsung mencari solusi, sementara sebagian lainnya memilih mengambil jarak, menunda keputusan, atau mengalihkan perhatian.

Kebiasaan menghindar sesekali merupakan hal yang manusiawi. Namun, jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut justru dapat membuat persoalan semakin rumit.

Mengenali tanda-tandanya menjadi langkah awal untuk mengubah kebiasaan tersebut.

Baca Juga: Jika Merasa Anak Anda Stuck dengan Hidupnya, Lakukan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Dilansir dari The Blog Herald, berikut tujuh perilaku yang sering dikaitkan dengan kecenderungan menghindari masalah.

1. Sering Menunda-nunda

Menunda pekerjaan atau keputusan bukan selalu berarti seseorang malas. Dalam beberapa situasi, penundaan dapat muncul karena rasa takut gagal, terlalu ingin mendapatkan hasil sempurna, atau kurang percaya diri.

Ketika berhadapan dengan persoalan yang rumit, seseorang mungkin memilih berkata, "Nanti saja saya pikirkan."

Masalahnya, kata "nanti" dapat terus bergeser hingga persoalan tersebut tidak pernah benar-benar disentuh.

Menunda memberikan rasa lega sementara karena seseorang tidak perlu menghadapi ketidaknyamanan saat itu. Namun, semakin lama ditunda, tekanan yang muncul justru bisa semakin besar.

Menyadari bahwa kebiasaan menunda merupakan bentuk penghindaran dapat menjadi awal untuk mengambil tindakan kecil dan menyelesaikan persoalan secara bertahap.

2. Berpura-pura Masalah Tidak Ada

Cara lain untuk menghindari persoalan adalah dengan bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Misalnya, ketika terjadi konflik dengan seseorang, mereka memilih diam dan tidak membicarakan penyebabnya. Tidak ada permintaan maaf, klarifikasi, ataupun usaha memperbaiki keadaan.

Padahal, diam tidak selalu berarti masalah selesai.

Persoalan yang dibiarkan dapat berubah menjadi rasa bersalah, kecemasan, atau ketegangan yang terus terbawa dalam pikiran.

Mengabaikan masalah hanya memberikan ketenangan sementara. Pada akhirnya, persoalan yang belum dibereskan tetap membutuhkan perhatian.

3. Terus-Menerus Mencari Kesibukan

Ada orang yang terlihat sangat sibuk hampir sepanjang waktu. Mereka selalu mencari pekerjaan, aktivitas, hiburan, atau kegiatan lain agar tidak memiliki waktu untuk berpikir.

Kesibukan seperti ini terkadang memang produktif. Namun, jika seseorang sengaja memenuhi waktunya hanya agar tidak perlu memikirkan persoalan utama, aktivitas tersebut dapat menjadi bentuk pengalihan.

Contohnya, seseorang mempunyai masalah pekerjaan tetapi justru menghabiskan berjam-jam bermain gim, menonton video, atau melakukan pekerjaan kecil yang sebenarnya tidak mendesak.

Gangguan tersebut mungkin membuat pikiran terasa lebih ringan untuk sementara. Tetapi akar persoalan tetap belum terselesaikan.

Karena itu, sesekali penting untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: masalah apa yang sebenarnya sedang ingin dihindari?

4. Menyangkal Kenyataan

Penyangkalan terjadi ketika seseorang kesulitan menerima bahwa sebuah masalah memang sedang berlangsung.

Mereka mungkin mengatakan semuanya baik-baik saja meskipun berbagai tanda menunjukkan sebaliknya.

Dalam situasi tertentu, penyangkalan dapat menjadi mekanisme pertahanan ketika seseorang belum siap menghadapi kenyataan yang menyakitkan atau tidak menyenangkan.

Namun, terus menyangkal tidak akan mengubah fakta.

Penerimaan menjadi langkah penting sebelum seseorang dapat mencari jalan keluar. Dengan mengakui keadaan sebagaimana adanya, seseorang mempunyai kesempatan untuk menentukan tindakan yang lebih tepat.

5. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Ketika menghadapi kegagalan, mencari pihak yang bisa disalahkan memang terasa lebih mudah daripada mengevaluasi diri sendiri.

Seseorang mungkin menyalahkan rekan kerja, keluarga, pasangan, keadaan, atau lingkungan atas masalah yang terjadi.

Tentu saja, dalam beberapa kasus orang lain memang dapat berkontribusi terhadap sebuah persoalan. Namun, terus-menerus melempar kesalahan tanpa melihat bagian diri sendiri dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar.

Evaluasi diri bukan berarti harus menyalahkan diri sendiri. Justru, dengan memahami bagian mana yang dapat diperbaiki, seseorang bisa mengambil kembali kendali atas langkah berikutnya.

6. Menghindari Percakapan yang Tidak Nyaman

Tidak semua pembicaraan terasa menyenangkan. Ada kalanya kita harus membicarakan masalah hubungan, menerima kritik, menyampaikan ketidaksetujuan, atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita dengar.

Orang yang cenderung menghindari masalah mungkin memilih tidak melakukan percakapan tersebut.

Mereka mempertahankan suasana seolah-olah harmonis karena khawatir pembicaraan justru menimbulkan konflik.

Padahal, persoalan yang tidak dibicarakan dapat berkembang menjadi kesalahpahaman yang lebih besar.

Percakapan sulit memang membutuhkan keberanian. Namun, komunikasi yang jujur dan dilakukan dengan cara yang tepat dapat membantu kedua pihak memahami persoalan sekaligus mencari jalan keluar.

7. Terlalu Terjebak pada Masa Lalu atau Masa Depan

Merenungkan masa lalu atau memikirkan masa depan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Masalah muncul ketika seseorang terlalu lama tinggal di salah satunya hingga lupa menghadapi keadaan saat ini.

Penyesalan terhadap keputusan masa lalu dapat membuat seseorang terus bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan. Sebaliknya, kecemasan terhadap masa depan dapat membuat pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Keduanya dapat membuat persoalan yang sedang terjadi justru tidak ditangani.

Masa lalu memang tidak dapat diubah, sementara masa depan belum sepenuhnya bisa dikendalikan. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah mengambil tindakan terhadap apa yang ada di depan mata sekarang.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho