← Beranda
Ingin Hidup Lebih Tenang? Waspadai 6 Kebiasaan yang Bisa Menguras Pikiran
Leni Setya WatiRabu, 12 Agustus 2026 | 21.38 WIB
Ilustrasi kebiasaan yang merusak ketenangan pikiran (freepik)

JawaPos.com - Ketenangan pikiran sering dianggap sebagai sesuatu yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang berada di tempat yang nyaman dan jauh dari kesibukan.

Padahal, rasa tenang juga sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Tanpa disadari, beberapa aktivitas sederhana justru dapat membuat pikiran terus berada dalam kondisi waspada, penuh distraksi, atau sibuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu.

Mengenali kebiasaan tersebut bisa menjadi langkah awal untuk mengubah rutinitas menjadi lebih sehat dan memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat.

Dilansir dari The Vessel, berikut enam kebiasaan yang dapat perlahan mengikis ketenangan pikiran.

Baca Juga: Bangun Tidur Masih Mengantuk? 5 Kebiasaan Ini Bisa Bantu Tingkatkan Kebugaran

1. Terlalu Lama Scrolling Media Sosial

Pernah berniat melihat media sosial selama beberapa menit, tetapi akhirnya terus menggulir layar hingga berjam-jam?

Kebiasaan mengonsumsi berbagai informasi negatif secara terus-menerus dikenal sebagai doomscrolling. Aktivitas ini dapat membuat seseorang terus terpapar berita buruk, konflik, dan berbagai skenario yang memicu kekhawatiran.

Awalnya mungkin hanya ingin mengetahui perkembangan terbaru. Namun, tanpa batas yang jelas, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru habis untuk membaca informasi yang membuat pikiran semakin lelah.

Membatasi waktu penggunaan media sosial dan memberikan jeda dari berita negatif dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga ketenangan.

2. Terus Mengulang Kekhawatiran yang Sama

Pernah mengalami satu masalah yang terus terlintas di kepala meskipun sebenarnya tidak sedang menghadapinya?

Memikirkan persoalan secara berulang tanpa menemukan solusi dapat membuat pikiran semakin terkuras. Kebiasaan ini sering disebut sebagai rumination atau perenungan berlebihan.

Seseorang bisa terus mengulang percakapan yang sudah berlalu, membayangkan kemungkinan buruk, atau menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak dapat diubah.

Ketika hal tersebut terjadi, cobalah membedakan antara memikirkan masalah untuk mencari solusi dan sekadar mengulang kekhawatiran yang sama.

3. Selalu Mengiyakan Permintaan Orang Lain

Menolong orang lain memang merupakan hal positif. Namun, selalu mengatakan "iya" ketika sebenarnya tidak memiliki waktu, tenaga, atau keinginan dapat menjadi beban tersendiri.

Kebiasaan tersebut bisa membuat seseorang mengabaikan kebutuhan pribadi hanya demi menghindari rasa bersalah atau mengecewakan orang lain.

Belajar mengatakan "tidak" secara sopan bukan berarti menjadi pribadi yang egois. Batasan yang sehat justru dapat membantu seseorang menjaga energi dan memberikan perhatian secara lebih seimbang.

4. Membiarkan Notifikasi Terus Mengganggu

Suara pesan masuk, getaran ponsel, atau notifikasi aplikasi yang muncul berkali-kali dapat memecah konsentrasi.

Gangguan kecil tersebut mungkin terlihat tidak berarti. Namun, ketika terjadi berulang kali, seseorang menjadi lebih sulit mempertahankan fokus pada pekerjaan maupun aktivitas yang sedang dilakukan.

Cobalah mematikan notifikasi yang tidak penting atau menggunakan mode jangan ganggu ketika membutuhkan waktu untuk fokus.

Dengan begitu, Anda tidak perlu terus-menerus merasa harus memeriksa ponsel setiap kali muncul pemberitahuan.

5. Terlalu Sering Membandingkan Kehidupan dengan Orang Lain

Media sosial membuat seseorang dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam hitungan detik. Mulai dari promosi pekerjaan, rumah baru, liburan, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna.

Jika terus dijadikan standar kehidupan sendiri, hal tersebut dapat menimbulkan perasaan tertinggal atau tidak cukup baik.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki kondisi, perjalanan, tantangan, dan waktunya masing-masing.

Daripada terus membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik melihat perkembangan diri sendiri dan menghargai pencapaian yang sudah berhasil diraih.

6. Membiarkan Ruangan Terlalu Berantakan

Kondisi lingkungan sekitar juga dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi.

Tumpukan barang, meja penuh benda, pakaian berserakan, atau piring yang belum dibereskan dapat menjadi rangsangan visual yang membuat pikiran terasa semakin penuh.

Tidak perlu langsung melakukan bersih-bersih besar. Luangkan sekitar 10 menit sebelum tidur untuk merapikan meja, menyimpan barang pada tempatnya, atau membereskan peralatan makan.

Ruangan yang lebih tertata dapat membuat suasana terasa lebih nyaman ketika memulai aktivitas pada keesokan harinya.

 

EDITOR: Setyo Adi Nugroho