JawaPos.com - Menjadi pasangan yang baik bukan berarti harus selalu romantis, selalu mengalah, atau mampu memenuhi semua keinginan pasangan.
Dalam hubungan yang sehat, menjadi pasangan yang lebih baik justru berkaitan dengan kemampuan untuk memahami diri sendiri, berkomunikasi dengan sehat, menghargai pasangan, serta mau memperbaiki kesalahan.
Tidak ada hubungan yang benar-benar sempurna. Dua orang yang saling mencintai tetap bisa berbeda pendapat, salah memahami ucapan satu sama lain, merasa kecewa, atau mengalami konflik.
Yang membedakan hubungan yang sehat dengan hubungan yang tidak sehat bukanlah ada atau tidaknya masalah, melainkan bagaimana kedua orang tersebut menghadapi masalah.
Psikologi hubungan menunjukkan bahwa kualitas hubungan banyak dipengaruhi oleh pola komunikasi, kemampuan mengelola emosi, rasa aman, empati, dan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kabar baiknya, Anda tidak harus menunggu bertahun-tahun untuk berubah menjadi pasangan yang lebih baik. Beberapa perubahan sederhana dapat mulai dilakukan sejak sekarang.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), jika Anda ingin segera menjadi pasangan yang lebih baik, berikut tujuh cara yang bisa dicoba.
1. Belajar Mendengarkan, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
Salah satu kesalahan paling umum dalam hubungan adalah mengira bahwa komunikasi berarti berbicara sebanyak mungkin.
Padahal, komunikasi yang sehat juga membutuhkan kemampuan mendengarkan.
Ketika pasangan sedang bercerita tentang masalahnya, terkadang kita terlalu cepat memikirkan jawaban. Kita ingin memberikan solusi, membela diri, atau menjelaskan mengapa pasangan sebenarnya salah.
Akibatnya, pasangan mungkin merasa tidak benar-benar didengarkan.
Misalnya, pasangan mengatakan:
"Aku akhir-akhir ini merasa sangat lelah dengan pekerjaan."
Respons yang kurang membantu mungkin:
"Aku juga capek. Semua orang juga punya masalah."
Meskipun mungkin benar, respons tersebut dapat membuat pasangan merasa pengalamannya tidak dianggap penting.
Cobalah menggantinya dengan respons seperti:
"Kedengarannya kamu benar-benar sedang kelelahan. Bagian mana yang paling membuat kamu terbebani?"
Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa Anda berusaha memahami, bukan langsung menghakimi.
Dalam psikologi hubungan, kemampuan untuk memberikan perhatian penuh kepada pasangan merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat. Mendengarkan secara aktif berarti berusaha memahami apa yang dirasakan pasangan, bukan sekadar mendengar kata-katanya.
Ketika pasangan berbicara, cobalah untuk:
meletakkan ponsel terlebih dahulu,
tidak memotong pembicaraan,
memperhatikan ekspresi dan nada suara,
mengajukan pertanyaan untuk memahami,
mengulangi inti pembicaraan jika diperlukan,
dan menahan keinginan untuk langsung memberikan solusi.
Ingat, tidak setiap keluhan membutuhkan solusi.
Terkadang pasangan hanya ingin merasa bahwa seseorang benar-benar memahami dirinya.
2. Belajar Mengelola Emosi Sebelum Bereaksi
Menjadi pasangan yang lebih baik bukan berarti tidak pernah marah.
Marah adalah emosi manusia yang normal. Yang penting adalah bagaimana Anda mengekspresikan kemarahan tersebut.
Ketika emosi sedang tinggi, kemampuan seseorang untuk berpikir secara jernih dapat menurun. Karena itu, mengatakan sesuatu ketika sedang sangat marah sering kali berakhir dengan penyesalan.
Anda mungkin mengatakan kalimat seperti:
"Kamu memang selalu seperti itu."
"Aku menyesal bersama kamu."
"Terserah, aku sudah tidak peduli."
Masalahnya, kalimat yang diucapkan dalam beberapa detik dapat meninggalkan luka yang bertahan jauh lebih lama.
Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam hubungan adalah belajar mengambil jeda sebelum bereaksi.
Ketika konflik mulai memanas, Anda bisa mengatakan:
"Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Aku ingin menenangkan diri dulu, setelah itu kita lanjutkan pembicaraannya."
Jeda bukan berarti melarikan diri dari masalah.
Jeda yang sehat berarti Anda mengambil waktu untuk menurunkan intensitas emosi agar dapat kembali berbicara dengan lebih rasional.
Namun, penting untuk membedakan antara mengambil jeda dan sengaja melakukan silent treatment.
Menghilang tanpa penjelasan, sengaja membuat pasangan cemas, atau menggunakan diam sebagai hukuman bukanlah cara yang sehat untuk menyelesaikan konflik.
Jeda yang sehat memiliki niat untuk kembali membicarakan masalah.
Dengan kata lain:
"Aku butuh waktu untuk tenang" berbeda dengan "Aku sengaja mengabaikanmu agar kamu menderita."
Semakin baik Anda mengelola emosi, semakin kecil kemungkinan Anda mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak Anda maksudkan.
3. Berhenti Menganggap Pasangan Bisa Membaca Pikiran Anda
Banyak konflik dalam hubungan sebenarnya bukan disebabkan oleh masalah besar, tetapi oleh ekspektasi yang tidak pernah dibicarakan.
Anda mungkin berpikir:
"Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia pasti tahu apa yang aku butuhkan."
Padahal, pasangan bukan pembaca pikiran.
Apa yang menurut Anda sudah sangat jelas belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh pasangan.
Misalnya, Anda ingin pasangan lebih sering menghubungi Anda ketika sedang sibuk. Namun, Anda tidak pernah mengatakannya karena berharap pasangan akan menyadarinya sendiri.
Ketika hal itu tidak terjadi, Anda merasa kecewa.
Pasangan kemudian bingung karena tidak memahami alasan Anda marah.
Akhirnya, masalah kecil berubah menjadi konflik besar.
Daripada berharap pasangan menebak kebutuhan Anda, belajarlah menyampaikannya secara langsung.
Misalnya:
"Aku merasa lebih tenang kalau kamu memberi kabar ketika sedang sangat sibuk. Tidak perlu sering, cukup beri tahu kalau kamu sedang tidak bisa membalas pesan."
Kalimat tersebut jauh lebih jelas daripada:
"Kamu sekarang sudah tidak perhatian."
Komunikasi yang spesifik membuat pasangan memiliki kesempatan untuk memahami kebutuhan Anda dan meresponsnya.
Tentu saja, komunikasi bukan berarti Anda boleh menuntut pasangan memenuhi semua keinginan Anda.
Hubungan yang sehat tetap membutuhkan negosiasi.
Namun, kebutuhan yang dikomunikasikan dengan jelas jauh lebih mudah dibicarakan daripada kebutuhan yang hanya disimpan dalam hati.
4. Biasakan Menghargai Hal-Hal Kecil yang Dilakukan Pasangan
Setelah hubungan berjalan cukup lama, perhatian dan kebaikan pasangan terkadang mulai terasa biasa.
Pasangan memasakkan makanan.
Pasangan mengantar Anda.
Pasangan mengingatkan sesuatu yang penting.
Pasangan mendengarkan cerita Anda.
Pasangan bekerja keras untuk masa depan bersama.
Karena hal-hal tersebut dilakukan berulang kali, kita bisa mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan.
Padahal, manusia pada dasarnya dapat beradaptasi dengan hal-hal yang sebelumnya terasa istimewa.
Karena itu, rasa terima kasih perlu dilatih secara sadar.
Jangan hanya menghargai pasangan ketika mereka melakukan sesuatu yang besar.
Perhatikan juga tindakan kecil.
Ucapkan:
"Terima kasih sudah menungguku."
"Aku menghargai kamu sudah mau mendengarkan ceritaku."
"Aku senang kamu masih mengingat hal kecil itu."
"Terima kasih sudah berusaha hari ini."
Kalimat-kalimat tersebut mungkin sederhana, tetapi dapat membantu pasangan merasa dilihat dan dihargai.
Hubungan jangka panjang bukan hanya dibangun oleh momen romantis yang besar.
Sering kali, hubungan justru dipelihara oleh ribuan interaksi kecil yang terjadi setiap hari.
Karena itu, jangan menunggu ulang tahun, hari jadi, atau momen khusus untuk menunjukkan penghargaan.
Katakan terima kasih hari ini.
5. Belajar Meminta Maaf Tanpa Menambahkan "Tapi"
Meminta maaf adalah salah satu keterampilan yang sangat penting dalam hubungan.
Namun, tidak semua permintaan maaf benar-benar menunjukkan tanggung jawab.
Contohnya:
"Maaf kalau kamu tersinggung, tapi kamu juga membuat aku marah."
Atau:
"Maaf, tapi aku melakukan itu karena kamu duluan."
Kata "tapi" sering kali mengubah permintaan maaf menjadi pembelaan diri.
Jika Anda memang melakukan kesalahan, cobalah mengakui bagian Anda terlebih dahulu.
Misalnya:
"Aku minta maaf karena tadi aku membentakmu. Cara aku menyampaikan kemarahan memang tidak tepat. Aku seharusnya mengambil waktu untuk tenang sebelum berbicara."
Permintaan maaf yang baik bukan sekadar mengatakan "maaf".
Ada beberapa unsur yang bisa membuatnya lebih bermakna:
Mengakui kesalahan secara spesifik.
Mengakui dampak dari tindakan tersebut.
Tidak menyalahkan pasangan sebagai pembenaran.
Menunjukkan keinginan untuk memperbaiki perilaku.
Berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Tentu, meminta maaf bukan berarti Anda harus menerima kesalahan yang sebenarnya bukan milik Anda.
Tetapi ketika Anda memang salah, kemampuan untuk mengakui kesalahan menunjukkan kedewasaan emosional.
Dalam hubungan yang sehat, meminta maaf bukan tanda kalah.
Justru, itu menunjukkan bahwa hubungan lebih penting daripada ego.
6. Jangan Kehilangan Diri Sendiri Hanya untuk Menyenangkan Pasangan
Menjadi pasangan yang baik tidak berarti Anda harus mengorbankan seluruh kehidupan pribadi.
Anda tetap membutuhkan waktu untuk diri sendiri, teman, keluarga, pekerjaan, minat, dan aktivitas yang membuat Anda berkembang.
Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi dua individu untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Jika seseorang mulai merasa bahwa ia harus selalu menyenangkan pasangan, selalu mengikuti keinginan pasangan, atau meninggalkan semua kehidupannya demi hubungan, lama-kelamaan dapat muncul kelelahan emosional dan rasa kehilangan identitas.
Karena itu, belajar mengatakan "tidak" juga penting.
Anda bisa mencintai pasangan sekaligus memiliki batasan.
Anda bisa mengatakan:
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, tetapi malam ini aku juga membutuhkan waktu untuk beristirahat."
Atau:
"Aku memahami kamu tidak setuju, tetapi keputusan ini penting bagiku."
Hubungan yang sehat bukan tentang dua orang yang kehilangan dirinya demi menjadi satu.
Hubungan yang sehat justru memungkinkan dua individu tetap berkembang sambil membangun kehidupan bersama.
Dengan memiliki kehidupan yang seimbang, Anda juga dapat membawa energi dan pengalaman baru ke dalam hubungan.
7. Fokus pada Memperbaiki Pola, Bukan Mencari Siapa yang Menang
Dalam konflik hubungan, kita sering terjebak dalam pertanyaan:
"Siapa yang salah?"
Padahal, dalam banyak situasi, pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Bagaimana kita bisa memperbaiki masalah ini bersama?"
Ketika konflik berubah menjadi pertandingan, masing-masing orang akan berusaha membuktikan bahwa dirinya benar.
Anda mengingat kesalahan pasangan.
Pasangan mengingat kesalahan Anda.
Kemudian muncul daftar panjang kesalahan dari masa lalu.
Pada akhirnya, masalah yang awalnya sederhana menjadi jauh lebih besar.
Cobalah mengubah orientasi dari "menang dalam pertengkaran" menjadi "menyelesaikan masalah".
Daripada mengatakan:
"Kamu selalu membuat masalah."
Gunakan kalimat:
"Aku merasa kita sering masuk ke pola yang sama setiap kali membicarakan masalah ini. Menurutmu, apa yang bisa kita ubah?"
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menyerang karakter.
Kalimat kedua mengajak bekerja sama.
Dalam hubungan jangka panjang, pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan.
Anda berdua berada dalam satu tim.
Masalahnya adalah masalah yang perlu dihadapi bersama.
Bukan Anda melawan pasangan.
Menjadi Pasangan yang Lebih Baik Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Banyak orang berpikir bahwa menjadi pasangan yang lebih baik membutuhkan perubahan besar.
Padahal, perubahan sering kali dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Mulai mendengarkan dengan lebih sungguh-sungguh.
Mulai mengelola emosi sebelum berbicara.
Mulai mengatakan kebutuhan secara jelas.
Mulai menghargai hal-hal kecil.
Mulai meminta maaf ketika memang salah.
Mulai menjaga batasan dan kehidupan pribadi.
Dan mulai melihat konflik sebagai sesuatu yang harus diselesaikan bersama, bukan sebagai arena untuk menentukan siapa yang menang.
Tidak ada pasangan yang sempurna.
Anda juga tidak perlu menjadi pasangan yang sempurna.
Yang lebih penting adalah menjadi pasangan yang mau belajar.
Sebab hubungan yang sehat bukan dibangun oleh dua orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan oleh dua orang yang bersedia menyadari kesalahan, memperbaikinya, dan terus belajar memahami satu sama lain.
Jadi, jika Anda ingin menjadi pasangan yang lebih baik mulai hari ini, jangan menunggu perubahan besar.
Pilih satu kebiasaan dari tujuh cara di atas dan mulai lakukan secara konsisten.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar rasa cinta yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana rasa cinta tersebut diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.