JawaPos.com - Hubungan yang sehat bukan hanya tentang rasa cinta, perhatian, atau seberapa sering pasangan menghabiskan waktu bersama.
Dalam psikologi hubungan, kualitas sebuah hubungan juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan dua orang untuk memahami satu sama lain, berkomunikasi secara terbuka, menghadapi konflik, serta memiliki gambaran yang cukup jelas tentang kehidupan yang ingin mereka bangun bersama.
Banyak pasangan merasa hubungan mereka baik-baik saja karena jarang bertengkar. Padahal, tidak adanya pertengkaran belum tentu berarti adanya kedekatan emosional. Bisa saja pasangan justru terbiasa menghindari percakapan penting karena takut konflik.
Sebaliknya, pasangan yang sesekali berbeda pendapat tetapi mampu membicarakannya dengan sehat dapat memiliki hubungan yang jauh lebih kuat.
Karena itu, ada beberapa pertanyaan penting yang sebaiknya mampu dijawab oleh setiap pasangan. Bukan berarti jawabannya harus selalu sama. Perbedaan justru merupakan hal yang wajar. Yang lebih penting adalah kedua orang tersebut mengetahui bagaimana cara pasangannya berpikir, apa yang dianggap penting, serta bagaimana mereka akan menghadapi berbagai kemungkinan dalam kehidupan bersama.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), terdapat enam pertanyaan yang layak dibicarakan oleh setiap pasangan.
1. "Apa yang sebenarnya membuat kita merasa dicintai?"
Pertanyaan pertama mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat berbeda pada setiap orang.
Ada seseorang yang merasa dicintai ketika pasangannya sering memberikan perhatian. Ada yang merasa lebih dihargai ketika pasangannya membantu menyelesaikan pekerjaan. Ada pula yang membutuhkan kata-kata afirmasi, waktu berkualitas, sentuhan fisik, atau sekadar merasa didengarkan ketika sedang menghadapi masalah.
Masalah sering muncul ketika seseorang menunjukkan cinta dengan cara yang menurut dirinya benar, tetapi cara tersebut tidak diterima sebagai bentuk kasih sayang oleh pasangannya.
Misalnya, seseorang mungkin berpikir bahwa bekerja keras dan memenuhi kebutuhan keluarga adalah bentuk cinta yang paling nyata. Namun, pasangannya mungkin justru merasa kesepian karena membutuhkan waktu untuk berbicara dan menghabiskan waktu bersama.
Dalam konteks psikologi hubungan, kebutuhan emosional dan cara seseorang menerima dukungan dapat berbeda. Karena itu, pasangan perlu belajar memahami apa yang membuat satu sama lain merasa aman, dihargai, dan diperhatikan.
Pertanyaan yang bisa dikembangkan dari sini antara lain:
Kapan kamu merasa paling dicintai olehku?
Hal kecil apa yang membuatmu merasa diperhatikan?
Ketika sedang sedih, kamu ingin didengarkan atau dibantu mencari solusi?
Apa yang selama ini mungkin kulakukan tetapi ternyata tidak terlalu berarti bagimu?
Apa yang ingin lebih sering kamu dapatkan dariku?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu pasangan mengurangi kesalahpahaman.
Sebab, mencintai seseorang bukan hanya tentang memberikan apa yang kita anggap baik. Kita juga perlu memahami apa yang benar-benar dibutuhkan oleh orang yang kita cintai.
2. "Bagaimana kita akan menghadapi konflik ketika sedang marah?"
Setiap hubungan hampir pasti memiliki konflik.
Perbedaan pendapat, masalah keuangan, keluarga, pekerjaan, pembagian tanggung jawab, kecemburuan, hingga persoalan kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber pertengkaran.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukanlah:
"Apakah kita akan bertengkar?"
Melainkan:
"Apa yang akan kita lakukan ketika kita bertengkar?"
Ini menjadi penting karena konflik itu sendiri tidak selalu menjadi tanda hubungan yang buruk. Cara pasangan menangani konflik justru sering kali lebih menentukan kualitas hubungan.
Pasangan yang sehat tidak harus selalu sepakat. Mereka dapat memiliki pendapat berbeda, tetapi tetap berusaha menjaga rasa hormat.
Sebaliknya, konflik dapat menjadi destruktif ketika disertai penghinaan, ancaman, manipulasi, silent treatment yang digunakan sebagai hukuman, atau usaha untuk membuat pasangan merasa tidak berharga.
Karena itu, pasangan sebaiknya memiliki kesepakatan mengenai cara bertengkar yang sehat.
Misalnya:
"Kalau emosi sedang terlalu tinggi, kita boleh berhenti sebentar, tetapi kita akan kembali membicarakannya setelah sama-sama lebih tenang."
Atau:
"Kita boleh tidak setuju, tetapi tidak boleh saling menghina."
Pasangan juga perlu mengetahui pola masing-masing ketika menghadapi konflik.
Apakah salah satu cenderung diam?
Apakah yang lain justru terus mengejar pembicaraan?
Apakah salah satu membutuhkan waktu untuk berpikir sebelum berbicara?
Atau apakah keduanya justru mudah mengatakan sesuatu ketika sedang marah dan kemudian menyesalinya?
Memahami pola ini dapat membantu pasangan menghentikan konflik sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Yang terpenting, tujuan menyelesaikan konflik bukan selalu mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Tujuannya adalah menemukan cara agar masalah dapat diselesaikan tanpa menghancurkan hubungan.
3. "Apa arti komitmen bagi kita masing-masing?"
Banyak pasangan mengatakan bahwa mereka serius menjalani hubungan.
Namun, ketika ditanya lebih jauh:
"Serius itu seperti apa?"
Jawabannya belum tentu sama.
Bagi seseorang, komitmen berarti tidak selingkuh.
Bagi orang lain, komitmen berarti tetap bertahan ketika hubungan sedang sulit.
Ada yang menganggap komitmen berarti menikah dan membangun keluarga. Ada pula yang melihatnya sebagai kesediaan untuk selalu melibatkan pasangan dalam keputusan penting.
Karena itu, pasangan perlu membicarakan definisi komitmen mereka secara terbuka.
Pertanyaan yang dapat digunakan misalnya:
Apa arti setia menurutmu?
Batasan seperti apa yang menurutmu tidak boleh dilanggar?
Bagaimana kita memandang kedekatan dengan orang lain di luar hubungan?
Apa yang akan kita lakukan ketika salah satu dari kita mulai merasa tidak bahagia?
Seberapa jauh kita bersedia berusaha memperbaiki hubungan ketika menghadapi masalah?
Pembicaraan seperti ini penting karena banyak konflik hubungan sebenarnya muncul bukan karena seseorang sengaja ingin menyakiti pasangannya, tetapi karena mereka memiliki ekspektasi yang berbeda.
Seseorang mungkin menganggap chatting intens dengan orang lain sebagai sesuatu yang biasa.
Pasangannya mungkin menganggap hal tersebut sudah melewati batas.
Tanpa pembicaraan, masing-masing orang akan menggunakan standar pribadi untuk menilai perilaku pasangannya.
Dengan membicarakan batasan sejak awal, pasangan dapat membangun pemahaman yang lebih jelas.
Komitmen bukan hanya janji untuk tetap bersama ketika semuanya berjalan baik. Komitmen juga berkaitan dengan kesediaan untuk menjaga hubungan ketika keadaan tidak sesuai harapan.
4. "Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun bersama?"
Cinta memang penting, tetapi hubungan jangka panjang juga membutuhkan kesesuaian dalam banyak aspek kehidupan.
Dua orang dapat saling mencintai tetapi memiliki gambaran masa depan yang sangat berbeda.
Salah satunya ingin tinggal di kota besar.
Yang lain ingin hidup di daerah yang lebih tenang.
Salah satunya ingin memiliki anak.
Yang lain tidak yakin ingin menjadi orang tua.
Salah satunya ingin mengutamakan karier.
Yang lain lebih menginginkan kehidupan keluarga yang sederhana.
Perbedaan seperti ini tidak otomatis berarti hubungan tersebut tidak dapat berjalan. Namun, perbedaan besar perlu dibicarakan sebelum menjadi sumber konflik di kemudian hari.
Pasangan dapat mendiskusikan pertanyaan seperti:
Di mana kita ingin tinggal beberapa tahun ke depan?
Apakah kita ingin memiliki anak?
Bagaimana pandangan kita tentang karier?
Bagaimana kita membagi pekerjaan rumah?
Bagaimana kita ingin mengatur keuangan?
Seberapa besar peran keluarga besar dalam kehidupan kita?
Gaya hidup seperti apa yang ingin kita jalani?
Pertanyaan tersebut bukan berarti pasangan harus sudah memiliki rencana hidup yang sangat detail.
Kehidupan bisa berubah.
Karier berubah. Kondisi ekonomi berubah. Prioritas berubah. Bahkan keinginan seseorang juga dapat berubah seiring bertambahnya usia.
Yang penting adalah adanya ruang untuk membicarakan perubahan tersebut.
Pasangan yang sehat tidak hanya bertanya:
"Apakah kamu mencintaiku?"
Mereka juga berani bertanya:
"Apakah kehidupan yang ingin kamu jalani masih sejalan dengan kehidupan yang ingin aku jalani?"
Pertanyaan kedua mungkin terasa lebih sulit, tetapi justru dapat membantu pasangan membuat keputusan yang lebih matang.
5. "Apa yang paling kamu takutkan dalam hubungan ini?"
Di balik sikap seseorang, sering kali terdapat ketakutan yang tidak terlihat.
Seseorang yang sangat membutuhkan kepastian mungkin sebenarnya takut ditinggalkan.
Seseorang yang terlihat terlalu mandiri mungkin takut menjadi terlalu bergantung pada orang lain.
Seseorang yang mudah cemburu mungkin memiliki ketakutan kehilangan pasangan.
Seseorang yang selalu menghindari konflik mungkin takut ditolak atau ditinggalkan ketika mengungkapkan perasaannya.
Karena itu, pasangan tidak hanya perlu mengenal sisi bahagia satu sama lain. Mereka juga perlu memahami kerentanan masing-masing.
Pertanyaan seperti:
"Apa yang paling kamu takutkan terjadi dalam hubungan kita?"
dapat membuka percakapan yang jauh lebih dalam.
Mungkin jawabannya adalah:
"Aku takut suatu hari kamu bosan denganku."
Atau:
"Aku takut kalau kita bertengkar, kamu akan meninggalkanku."
Bisa juga:
"Aku takut kehilangan diriku sendiri karena terlalu fokus pada hubungan."
Jawaban seperti ini tidak selalu membutuhkan solusi instan.
Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan pasangan yang mau mendengarkan dan mengatakan:
"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."
Dalam hubungan yang sehat, kerentanan seharusnya tidak digunakan sebagai senjata ketika terjadi konflik.
Jika pasangan telah menceritakan ketakutan terdalamnya, informasi tersebut seharusnya digunakan untuk membangun rasa aman, bukan untuk menyerang titik lemahnya ketika sedang marah.
Keintiman emosional tumbuh ketika seseorang merasa cukup aman untuk menunjukkan sisi dirinya yang tidak sempurna.
6. "Apa yang akan kita lakukan jika suatu hari hubungan ini tidak berjalan seperti yang kita harapkan?"
Ini mungkin pertanyaan paling sulit dari keenam pertanyaan tersebut.
Tidak ada pasangan yang dapat menjamin bahwa kehidupan bersama akan selalu berjalan sesuai rencana.
Ada masa ketika hubungan terasa sangat dekat.
Ada masa ketika pekerjaan, tekanan finansial, masalah keluarga, perubahan prioritas, atau berbagai keadaan lain membuat pasangan merasa jauh.
Karena itu, pasangan perlu memiliki kemampuan untuk berbicara tentang masa-masa sulit bahkan sebelum masalah tersebut terjadi.
Pertanyaannya bukan berarti:
"Apakah kita akan berpisah?"
Melainkan:
"Ketika hubungan kita menghadapi masalah besar, bagaimana kita akan menghadapinya?"
Apakah kita akan mencari bantuan profesional jika diperlukan?
Apakah kita akan memberikan ruang satu sama lain?
Apakah kita akan melakukan evaluasi terhadap hubungan?
Apakah kita akan mencoba memperbaiki pola komunikasi?
Apakah kita akan berani mengakui jika ada sesuatu yang tidak berjalan dengan baik?
Pertanyaan ini juga mengajarkan satu hal penting: hubungan bukan sesuatu yang bisa dijalankan secara otomatis.
Hubungan membutuhkan pemeliharaan.
Sama seperti kesehatan fisik yang membutuhkan perhatian, kesehatan hubungan juga membutuhkan komunikasi, evaluasi, dan usaha dari kedua belah pihak.
Pasangan tidak harus mengetahui seluruh jawaban untuk masa depan.
Namun, mereka sebaiknya mengetahui bahwa ketika masalah datang, mereka memiliki cara untuk menghadapinya bersama.
Mengapa Enam Pertanyaan Ini Penting?
Enam pertanyaan tersebut sebenarnya berkaitan dengan beberapa fondasi utama hubungan yang sehat: kebutuhan emosional, komunikasi, konflik, komitmen, nilai hidup, kerentanan, dan kemampuan menghadapi perubahan.
Menariknya, pasangan tidak harus memberikan jawaban yang identik untuk semua pertanyaan.
Justru, perbedaan jawaban dapat menjadi bahan percakapan yang sangat penting.
Misalnya, jika seseorang ingin memiliki anak dan pasangannya belum yakin, masalahnya bukan sekadar menemukan jawaban "ya" atau "tidak".
Yang lebih penting adalah memahami alasan di balik jawaban tersebut.
Apa yang membuat seseorang ingin memiliki anak?
Apa yang membuat pasangannya ragu?
Apakah keraguan tersebut karena pengalaman masa lalu, kondisi finansial, karier, atau ketakutan tertentu?
Dengan begitu, pasangan tidak hanya berdebat mengenai posisi masing-masing, tetapi mencoba memahami manusia di balik pendapat tersebut.
Jangan Hanya Menanyakan, "Apakah Kamu Mencintaiku?"
Pertanyaan tentang cinta memang penting.
Namun, hubungan yang matang membutuhkan percakapan yang jauh lebih luas.
Seseorang bisa sangat mencintai pasangannya tetapi belum tentu tahu cara berkomunikasi dengannya.
Seseorang bisa sangat menyayangi pasangannya tetapi memiliki tujuan hidup yang berbeda.
Seseorang bisa ingin mempertahankan hubungan tetapi tidak tahu bagaimana menyelesaikan konflik secara sehat.
Karena itu, cinta sebaiknya tidak hanya diukur dari seberapa kuat perasaan seseorang.
Cinta juga terlihat dari kemampuan untuk memahami, menghormati, mendengarkan, bernegosiasi, dan bertumbuh bersama.
Hubungan yang sehat bukan hubungan yang tidak pernah memiliki masalah.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua orang memiliki cukup rasa aman untuk membicarakan masalah tanpa harus takut direndahkan atau ditolak.
Enam Pertanyaan untuk Dibicarakan Bersama
Jika ingin membuatnya lebih sederhana, pasangan dapat menyimpan enam pertanyaan berikut dan membicarakannya secara perlahan:
1. Apa yang membuatmu merasa paling dicintai dan dihargai?
2. Bagaimana kita ingin menyelesaikan konflik ketika sedang marah?
3. Apa arti komitmen dan kesetiaan bagi kita?
4. Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun bersama?
5. Apa ketakutan terbesar yang kamu miliki dalam hubungan ini?
6. Apa yang akan kita lakukan ketika hubungan menghadapi masalah besar?
Tidak perlu membahas semuanya dalam satu malam.
Bahkan, percakapan yang terlalu banyak sekaligus bisa membuat pembicaraan terasa seperti wawancara.
Lebih baik mengambil satu pertanyaan, kemudian benar-benar mendengarkan jawabannya.
Jangan buru-buru membela diri.
Jangan langsung mencari siapa yang salah.
Dan jangan menganggap jawaban pasangan sebagai serangan terhadap diri sendiri.
Cobalah memahami kalimat di balik kalimat.
Ketika pasangan berkata, "Aku ingin kamu lebih sering menghabiskan waktu denganku," mungkin yang sebenarnya ingin disampaikan adalah, "Aku ingin merasa bahwa aku penting bagimu."
Ketika seseorang berkata, "Aku butuh waktu sendiri," belum tentu berarti ia tidak mencintai pasangannya. Bisa jadi ia sedang membutuhkan ruang untuk mengatur emosi dan pikirannya.
Mendengarkan dengan cara seperti ini dapat membuat percakapan menjadi jauh lebih bermakna.
Pada Akhirnya, Hubungan yang Kuat Dibangun dari Percakapan yang Jujur
Tidak ada enam pertanyaan yang dapat menjamin sebuah hubungan akan bertahan selamanya.
Psikologi hubungan tidak memberikan rumus sederhana bahwa pasangan yang mampu menjawab pertanyaan tertentu pasti akan memiliki hubungan yang sempurna.
Namun, kemampuan untuk membicarakan pertanyaan-pertanyaan penting dapat membantu pasangan memahami satu sama lain dengan lebih baik.
Sebab, hubungan yang sehat bukan hanya tentang menemukan seseorang yang kita cintai.
Hubungan juga tentang menemukan cara untuk hidup bersama tanpa kehilangan rasa hormat, keamanan, identitas diri, dan ruang untuk berkembang.
Mungkin pasangan tidak selalu memiliki jawaban yang sama.
Mungkin mereka akan menemukan perbedaan yang sebelumnya tidak disadari.
Tetapi mengetahui perbedaan tersebut jauh lebih baik daripada baru menyadarinya setelah hubungan berjalan bertahun-tahun.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan hanya:
"Apakah kita saling mencintai?"
Tetapi juga:
"Apakah kita saling memahami, merasa aman satu sama lain, dan bersedia terus belajar bagaimana menjadi pasangan yang lebih baik?"
Jika jawabannya adalah ya, maka percakapan-percakapan sulit bukan sesuatu yang harus dihindari.
Justru, percakapan itulah yang dapat menjadi salah satu fondasi terpenting dalam membangun hubungan yang lebih matang, sehat, dan berkelanjutan.