← Beranda
6 Cara Mendisiplinkan Anak Saat Metode Tradisional Tidak Berhasil Menurut Psikologi, Apa Sajakah?
Irfan FerdiansyahSelasa, 11 Agustus 2026 | 02.48 WIB
seseorang yang mendisiplinkan anak-anak./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Mendisiplinkan anak bukan perkara mudah. Ada kalanya orang tua sudah mencoba berbagai cara: menasihati, memarahi, memberikan hukuman, mencabut hak bermain, bahkan menaikkan suara. Namun, alih-alih menjadi lebih patuh, anak justru semakin membantah, menangis, berteriak, atau mengulangi perilaku yang sama.

Situasi seperti ini sering membuat orang tua berpikir, “Kalau sudah dinasihati berkali-kali, harus bagaimana lagi?”

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), menurut psikologi perkembangan, masalahnya tidak selalu terletak pada anak yang “tidak mau menurut”. Bisa jadi cara orang dewasa memberikan disiplin memang belum sesuai dengan tahap perkembangan, kebutuhan emosional, atau pola belajar anak.

Disiplin yang efektif bukan sekadar membuat anak takut melakukan kesalahan. Tujuan utamanya adalah membantu anak belajar mengendalikan perilaku, memahami batasan, mengenali konsekuensi, serta secara bertahap mampu mengambil keputusan yang lebih baik tanpa harus selalu diawasi.

CDC menjelaskan bahwa perilaku anak dapat dipengaruhi oleh apa yang terjadi segera setelah perilaku tersebut. Perhatian, pujian, penghargaan, maupun konsekuensi dapat membuat suatu perilaku menjadi lebih atau kurang mungkin diulangi.

Karena itu, ketika metode tradisional tidak berhasil, orang tua mungkin perlu mengubah pendekatan—bukan sekadar menambah keras hukuman.

Berikut enam cara yang dapat dicoba.

1. Ganti Ceramah Panjang dengan Instruksi yang Singkat dan Jelas

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah memberikan terlalu banyak penjelasan ketika anak sedang melakukan sesuatu yang tidak sesuai aturan.

Misalnya, ketika anak terus bermain meskipun sudah waktunya mandi, orang tua mungkin berkata:

“Sudah berapa kali Mama bilang mandi? Kamu itu kalau dibilang susah sekali. Setiap hari harus diingatkan. Kalau seperti ini terus, nanti kamu tidak akan punya waktu untuk belajar. Mama capek sekali menyuruh kamu...”

Bagi orang dewasa, penjelasan tersebut mungkin masuk akal. Namun, bagi anak, terutama anak yang masih kecil, terlalu banyak kata justru dapat membuat pesan utama menjadi tidak jelas.

Pendekatan yang lebih efektif adalah memberikan satu instruksi pada satu waktu.

Misalnya:

“Sekarang waktunya mandi. Silakan masuk kamar mandi.”

Jika anak belum bergerak, orang tua dapat mengulangi instruksi secara singkat dengan nada tegas tetapi tidak berteriak.

CDC merekomendasikan agar orang tua memberikan satu arahan pada satu waktu, menggunakan nada netral dan tegas, serta memastikan konsekuensi benar-benar diterapkan apabila anak tidak mengikuti arahan.

Mengapa cara ini bisa lebih efektif?

Anak tidak selalu memiliki kemampuan perhatian, pengendalian diri, dan pemrosesan informasi seperti orang dewasa. Ketika orang tua memberikan terlalu banyak instruksi sekaligus, anak mungkin tidak memahami mana yang paling penting.

Karena itu, daripada:

“Berhenti main, rapikan mainanmu, mandi, lalu pakai baju tidur karena besok kamu sekolah dan jangan sampai terlambat lagi.”

Lebih baik:

“Sekarang rapikan mainan.”

Setelah selesai:

“Bagus. Sekarang waktunya mandi.”

Dengan cara ini, anak mendapatkan target perilaku yang konkret.

Prinsip sederhananya:

Katakan apa yang harus dilakukan, bukan hanya apa yang tidak boleh dilakukan.

Daripada mengatakan:

“Jangan berantakan!”

lebih jelas mengatakan:

“Tolong masukkan semua mainan ke kotaknya.”

Daripada:

“Jangan berisik!”

lebih konkret mengatakan:

“Gunakan suara pelan karena adik sedang tidur.”

Anak membutuhkan gambaran perilaku yang jelas agar mengetahui apa yang sebenarnya diharapkan darinya.

2. Gunakan Konsekuensi yang Logis, Bukan Hukuman yang Semata-mata Menakutkan

Ketika anak melakukan kesalahan, sebagian orang tua langsung berpikir tentang hukuman.

“Tidak boleh main selama seminggu!”

“Besok tidak boleh keluar rumah!”

“Kalau melakukan itu lagi, Ayah akan marah!”

Masalahnya, hukuman yang tidak berkaitan dengan perilaku anak belum tentu mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan.

Psikologi perilaku memberikan perhatian besar pada konsekuensi—yaitu apa yang terjadi setelah sebuah perilaku. CDC menjelaskan bahwa konsekuensi yang diberikan setelah perilaku dapat memengaruhi kemungkinan perilaku tersebut muncul kembali. Konsekuensi dapat berupa penguatan positif maupun konsekuensi negatif yang sesuai.

Karena itu, cobalah menggunakan konsekuensi yang logis dan berkaitan dengan perilaku.

Contohnya:

Anak melempar mainan dengan sengaja.

Daripada:

“Kamu tidak boleh menonton TV selama seminggu!”

Orang tua dapat mengatakan:

“Mainan itu dilempar, jadi mainannya disimpan dulu. Kamu bisa menggunakannya lagi ketika sudah siap bermain dengan aman.”

Atau:

Anak sengaja menumpahkan air.

Daripada hanya memarahinya:

“Kamu selalu bikin masalah!”

orang tua dapat mengatakan:

“Airnya tumpah. Sekarang kita bersihkan bersama.”

Anak belajar bahwa perilakunya memiliki akibat yang masuk akal.

Konsekuensi bukan berarti mempermalukan anak

Ini penting.

Disiplin bertujuan mengoreksi perilaku, bukan merendahkan harga diri anak.

Kalimat:

“Kamu memang anak nakal.”

berbeda dengan:

“Perilaku memukul itu tidak boleh.”

Kalimat pertama menyerang identitas anak.

Kalimat kedua menetapkan batas terhadap perilakunya.

Anak tetap dapat memahami bahwa perilakunya salah tanpa harus merasa bahwa dirinya adalah “anak yang buruk”.

CDC juga menekankan pentingnya kembali pada komunikasi positif setelah konsekuensi diberikan dan kemudian memberikan perhatian ketika anak menunjukkan perilaku yang diharapkan.

Dengan kata lain:

Koreksi perilakunya, jangan menghancurkan harga dirinya.

3. Perbanyak Memperhatikan Perilaku Baik daripada Hanya Menegur Perilaku Buruk

Ada orang tua yang baru memperhatikan anak ketika anak melakukan kesalahan.

Ketika anak berteriak, orang tua langsung datang.

Ketika anak bertengkar dengan saudaranya, orang tua langsung bereaksi.

Ketika anak tidak mau belajar, orang tua mulai berbicara panjang.

Namun ketika anak duduk dengan tenang, membantu membereskan mainan, atau berbicara dengan sopan, orang tua mungkin tidak mengatakan apa-apa.

Tanpa disadari, anak dapat belajar bahwa perilaku negatif adalah cara yang efektif untuk mendapatkan perhatian orang tua.

Padahal perhatian merupakan salah satu konsekuensi yang dapat memengaruhi perilaku. CDC menjelaskan bahwa perhatian positif maupun negatif sama-sama dapat berfungsi sebagai perhatian bagi anak.

Karena itu, orang tua perlu secara sengaja menangkap momen ketika anak berperilaku baik.

Misalnya:

“Kakak tadi mau menunggu giliran. Terima kasih.”

“Terima kasih sudah menyimpan sepatu di tempatnya.”

“Ayah lihat kamu tadi marah, tapi kamu memilih bicara daripada memukul. Itu bagus.”

“Aku suka cara kamu meminta bantuan dengan sopan.”

Pujian seperti ini lebih efektif daripada sekadar mengatakan “pintar”.

Mengapa?

Karena anak mengetahui perilaku apa yang sebenarnya ingin dipertahankan.

CDC menyebutnya sebagai labeled praise, yaitu pujian yang secara spesifik menyebut perilaku yang disukai. Pendekatan ini membantu anak memahami perilaku mana yang mendapatkan respons positif.

Gunakan rumus sederhana:

“Saya melihat kamu + perilaku spesifik + dampaknya.”

Contoh:

“Saya lihat kamu membereskan buku setelah belajar. Sekarang kamar jadi lebih rapi.”

Atau:

“Ibu lihat kamu menunggu adik selesai bicara. Itu menunjukkan kamu sedang belajar sabar.”

Dengan begitu, anak tidak hanya merasa dipuji. Ia juga belajar mengenali perilaku yang baik.

4. Jangan Selalu Melawan Tantrum dengan Tantrum

Anak berteriak.

Orang tua berteriak lebih keras.

Anak menangis.

Orang tua semakin marah.

Anak membanting pintu.

Orang tua membanting sesuatu.

Akhirnya, situasi berubah menjadi pertarungan siapa yang lebih kuat.

Padahal anak sedang belajar mengatur emosinya.

Anak tidak lahir dengan kemampuan pengendalian diri yang sempurna. Kemampuan tersebut berkembang secara bertahap melalui hubungan, pengalaman, dan interaksi dengan orang dewasa.

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa interaksi yang responsif antara anak dan pengasuh berperan penting dalam perkembangan otak, kemampuan sosial, dan perkembangan emosional anak.

Karena itu, ketika anak sedang sangat emosional, tujuan pertama tidak selalu harus membuat anak langsung “diam”.

Terkadang orang tua perlu membantu anak menenangkan diri terlebih dahulu.

Misalnya:

“Kamu sangat marah karena waktunya berhenti bermain.”

“Ibu tahu kamu masih ingin bermain.”

“Kamu boleh kecewa. Tetapi kamu tidak boleh memukul.”

Perhatikan struktur kalimat tersebut.

Orang tua mengakui emosi anak, tetapi tetap mempertahankan batas perilaku.

Validasi bukan berarti membolehkan semua perilaku

Ini salah satu kesalahpahaman yang umum.

Memvalidasi emosi bukan berarti:

“Tidak apa-apa kamu memukul.”

Melainkan:

“Boleh marah. Tidak boleh memukul.”

Atau:

“Kamu boleh kecewa karena mainannya harus disimpan. Tetapi kamu tidak boleh melempar barang.”

Anak belajar bahwa emosi tidak perlu ditakuti, tetapi perilaku tetap memiliki batas.

Untuk perilaku yang sekadar mencari perhatian, seperti rengekan atau tantrum tertentu, mengurangi perhatian terhadap perilaku tersebut dapat menjadi salah satu strategi. Namun, CDC menegaskan bahwa perilaku berbahaya seperti menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain, atau merusak benda tidak boleh diabaikan dan harus dihentikan.

5. Buat Aturan yang Sedikit, Konsisten, dan Berlaku untuk Semua

Banyak keluarga memiliki terlalu banyak aturan.

“Jangan begini.”

“Jangan begitu.”

“Tidak boleh ini.”

“Tidak boleh itu.”

Namun aturan berubah tergantung suasana hati orang tua.

Hari ini anak boleh membawa makanan ke kamar.

Besok anak dimarahi karena melakukan hal yang sama.

Hari ini anak boleh bermain sebelum mengerjakan tugas.

Besok orang tua tiba-tiba mengatakan tugas harus selalu selesai terlebih dahulu.

Ketidakkonsistenan seperti ini dapat membuat anak bingung.

Anak perlu memahami bahwa aturan bukan sekadar sesuatu yang muncul ketika orang tua sedang marah.

Cobalah memilih beberapa aturan inti keluarga.

Misalnya:

Tidak menyakiti orang lain.
Berbicara dengan sopan.
Membereskan barang setelah digunakan.
Mengikuti rutinitas tidur dan belajar.
Meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain.

Aturan harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

CDC juga menyarankan agar aturan keluarga dibuat jelas, diterapkan secara konsisten, dan disertai respons yang jelas ketika aturan dilanggar.

Konsistensi lebih penting daripada ancaman

Misalnya orang tua berkata:

“Kalau kamu melempar mainan lagi, mainannya akan disimpan.”

Ketika anak mengulanginya, orang tua harus menjalankan konsekuensi tersebut.

Bukan:

“Jangan lagi, ya!”

Kemudian lima menit kemudian:

“Sudah, kali ini Mama maafkan.”

Lalu ketika anak mengulanginya lagi:

“Sudah Mama bilang berkali-kali!”

Anak akhirnya dapat belajar bahwa aturan sebenarnya tidak perlu dipatuhi sampai orang tua benar-benar bertindak.

Karena itu, disiplin yang efektif bukan berarti semakin keras.

Sering kali justru berarti lebih tenang, lebih jelas, dan lebih konsisten.

6. Bangun Hubungan Sebelum Memperbaiki Perilaku

Ini mungkin merupakan perubahan paling penting ketika metode tradisional tidak lagi berhasil.

Orang tua sering berfokus pada pertanyaan:

“Bagaimana supaya anak menurut?”

Namun psikologi perkembangan mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan lain:

“Apakah anak merasa aman, didengar, dan terhubung dengan orang tuanya?”

Hubungan yang positif bukan berarti anak dibiarkan melakukan apa saja.

Sebaliknya, hubungan yang kuat dapat menjadi dasar bagi disiplin yang lebih efektif.

Harvard Center on the Developing Child menekankan pentingnya hubungan responsif antara anak dan pengasuh dalam perkembangan sosial, emosional, dan kognitif. Interaksi bolak-balik yang responsif membantu membangun fondasi perkembangan anak.

Karena itu, jangan sampai seluruh interaksi antara orang tua dan anak hanya berisi perintah dan koreksi.

Jika sepanjang hari anak mendengar:

“Jangan!”

“Berhenti!”

“Cepat!”

“Jangan berantakan!”

“Belajar!”

“Diam!”

“Jangan ganggu adik!”

maka anak mungkin semakin mengasosiasikan kehadiran orang tua dengan tekanan.

Cobalah menyediakan waktu untuk berinteraksi tanpa tujuan memperbaiki perilaku.

Bermain bersama.

Membaca buku.

Berbicara tentang hari mereka.

Memeluk anak.

Mendengarkan cerita yang menurut orang dewasa mungkin tidak penting.

Menanyakan:

“Bagian paling menyenangkan hari ini apa?”

“Menurut kamu, tadi apa yang paling sulit?”

“Apa yang membuat kamu kesal?”

Aktivitas sederhana seperti ini dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak.

Ketika hubungan terasa aman, orang tua memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengajarkan keterampilan, bukan hanya memberikan hukuman.

Mengapa Metode Tradisional Kadang Tidak Berhasil?

Metode disiplin tradisional sering berangkat dari gagasan bahwa anak akan berubah jika konsekuensinya cukup berat.

Namun, masalah perilaku anak tidak selalu muncul karena anak “kurang takut”.

Kadang-kadang anak belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan.

Anak yang terus memukul mungkin membutuhkan bantuan mengelola kemarahan.

Anak yang terus berteriak mungkin belum mampu mengekspresikan kebutuhan dengan baik.

Anak yang terus menolak rutinitas mungkin membutuhkan instruksi yang lebih jelas atau struktur yang lebih konsisten.

Anak yang terus mencari perhatian mungkin membutuhkan lebih banyak perhatian positif ketika ia berperilaku baik.

Artinya, disiplin tidak hanya bertujuan menghentikan perilaku yang tidak diinginkan.

Disiplin juga harus mengajarkan perilaku pengganti.

Jika orang tua mengatakan:

“Jangan berteriak!”

anak perlu tahu apa yang harus dilakukan sebagai gantinya.

Misalnya:

“Kalau kamu membutuhkan Ayah, panggil dengan suara biasa.”

Jika anak marah:

“Kalau marah, bilang ‘Aku marah’ atau minta waktu untuk tenang.”

Jika anak ingin mainan saudaranya:

“Gunakan kata-kata: ‘Boleh aku pinjam setelah kamu selesai?’”

Dengan demikian, anak tidak hanya mengetahui apa yang salah. Ia mendapatkan keterampilan untuk melakukan sesuatu yang benar.

Disiplin Bukan tentang Membuat Anak Takut kepada Orang Tua

Salah satu tujuan jangka panjang pengasuhan bukanlah membuat anak selalu patuh ketika orang tua berada di dekatnya.

Tujuannya adalah membantu anak membangun kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri.

Anak yang hanya berperilaku baik karena takut dihukum mungkin akan patuh ketika diawasi, tetapi belum tentu mampu membuat keputusan yang baik ketika tidak ada orang dewasa.

Sebaliknya, anak yang memahami aturan, konsekuensi, empati, dan pengendalian diri memiliki peluang lebih besar untuk membawa pelajaran tersebut ke situasi lain.

Karena itu, pertanyaan penting dalam mendisiplinkan anak bukan hanya:

“Bagaimana membuat anak berhenti melakukan ini?”

Tetapi juga:

“Apa yang perlu dipelajari anak agar tidak perlu melakukan ini lagi?”

Perubahan perspektif tersebut dapat membuat disiplin menjadi proses pendidikan, bukan sekadar pertarungan kekuasaan.

Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Misalnya anak terus bermain gawai meskipun waktu penggunaannya sudah selesai.

Pendekatan yang kurang efektif:

“Sudah dibilang berhenti! Kamu memang tidak pernah mau mendengarkan. Kalau tidak berhenti sekarang, HP kamu Mama buang!”

Pendekatan yang lebih konstruktif:

“Waktunya selesai. Sekarang matikan gawai.”

Jika anak menolak:

“Kalau kamu tidak mematikannya sendiri, Ibu yang akan menyimpannya sampai besok.”

Jika anak tetap menolak, jalankan konsekuensi tersebut tanpa ceramah panjang.

Setelah anak tenang:

“Besok kita coba lagi. Kalau waktunya selesai, kamu matikan sendiri. Kalau kamu berhasil, Ibu akan memuji kamu karena mengikuti aturan.”

Pendekatan tersebut menggabungkan beberapa prinsip sekaligus:

instruksi yang jelas;
konsekuensi yang sudah diketahui;
konsistensi;
tidak mempermalukan anak;
perhatian terhadap perilaku positif.

CDC juga menyarankan agar orang tua memberikan penghargaan atau pujian segera setelah perilaku positif muncul, karena respons yang dekat dengan perilaku membantu anak memahami perilaku apa yang sedang diperkuat.

Hal yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua

Ketika sedang lelah, frustrasi, atau menghadapi anak yang sulit diatur, orang tua bisa saja kehilangan kesabaran. Namun ada beberapa pola yang sebaiknya tidak dijadikan strategi utama:

1. Memukul atau menggunakan kekerasan

Kekerasan mungkin menghentikan perilaku sesaat karena anak takut, tetapi bukan berarti anak telah belajar keterampilan yang dibutuhkan untuk mengatur dirinya sendiri.

2. Memberi ancaman yang tidak akan ditepati

“Kalau kamu melakukan itu lagi, kita tidak akan pergi liburan seumur hidup!”

Ancaman yang terlalu besar justru sulit diterapkan secara konsisten.

3. Memberikan hukuman yang tidak berhubungan

Jika anak menumpahkan susu, tidak selalu masuk akal untuk mencabut semua hak bermain selama seminggu.

4. Memberi terlalu banyak perhatian pada perilaku negatif

Teriakan, ceramah panjang, dan perdebatan dapat menjadi bentuk perhatian yang justru mempertahankan perilaku tertentu.

5. Memberi label kepada anak

Hindari:

“Kamu nakal.”

“Kamu malas.”

“Kamu memang keras kepala.”

Lebih baik fokus pada perilakunya:

“Perilaku itu tidak boleh.”

“Kita perlu menyelesaikan tugas sebelum bermain.”

“Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”

Kesimpulan

Ketika metode tradisional tidak berhasil, solusi tidak selalu berupa hukuman yang lebih berat.

Dalam perspektif psikologi perkembangan dan pembelajaran perilaku, disiplin yang efektif lebih banyak berkaitan dengan kejelasan, konsistensi, konsekuensi yang tepat, perhatian terhadap perilaku positif, regulasi emosi, dan hubungan yang sehat antara orang tua dan anak.

Enam cara yang dapat dicoba adalah:

Gunakan instruksi yang singkat dan jelas.
Terapkan konsekuensi yang logis dan berkaitan dengan perilaku.
Perbanyak perhatian dan pujian terhadap perilaku baik.
Bantu anak mengelola emosi sebelum menuntut kepatuhan.
Buat aturan yang sederhana dan konsisten.
Bangun hubungan yang hangat dan responsif dengan anak.

Pada akhirnya, mendisiplinkan anak bukan tentang memenangkan pertengkaran.

Disiplin adalah proses panjang untuk mengajarkan anak bagaimana mengendalikan diri, memahami batasan, memperbaiki kesalahan, dan membuat pilihan yang lebih baik.

Orang tua tidak harus selalu sempurna. Yang jauh lebih penting adalah terus belajar menyesuaikan cara mendidik dengan usia, kebutuhan, dan kemampuan anak.

Dan ketika sebuah metode tidak berhasil, mungkin bukan berarti anak membutuhkan hukuman yang lebih keras.

Mungkin anak membutuhkan cara belajar yang berbeda.

EDITOR: Hanny Suwindari