JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, perbedaan bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Dua orang tidak harus memiliki latar belakang keluarga, tingkat pendapatan, kebiasaan, atau cara menikmati hidup yang sama agar dapat membangun hubungan yang sehat.
Namun, ada satu jenis perbedaan yang sering kali lebih rumit daripada sekadar perbedaan kepribadian, yaitu kesenjangan gaya hidup.
Kesenjangan gaya hidup terjadi ketika dua orang memiliki perbedaan yang cukup besar dalam cara menjalani kehidupan sehari-hari. Misalnya, satu orang terbiasa hidup sederhana sementara pasangannya terbiasa dengan gaya hidup yang lebih mewah. Satu orang terbiasa menabung dan merencanakan masa depan, sedangkan yang lain lebih suka menghabiskan uang untuk pengalaman dan kesenangan saat ini.
Perbedaannya juga bisa terlihat dalam cara menghabiskan waktu, memilih lingkungan pergaulan, berlibur, berpakaian, menikmati makanan, menggunakan uang, hingga menentukan prioritas hidup.
Pada awal hubungan, perbedaan seperti ini mungkin justru terasa menarik.
Seseorang yang hidup sederhana mungkin tertarik pada pasangan yang lebih percaya diri dan terbiasa menikmati banyak pengalaman. Sebaliknya, seseorang yang memiliki gaya hidup lebih mewah mungkin merasa nyaman dengan pasangan yang sederhana, tenang, dan tidak materialistis.
Masalah biasanya muncul ketika hubungan mulai memasuki tahap yang lebih serius.
Ketika pasangan mulai berbicara tentang keuangan, tempat tinggal, keluarga, pernikahan, anak, pekerjaan, atau masa depan, perbedaan gaya hidup tidak lagi sekadar menjadi sesuatu yang menarik. Perbedaan tersebut dapat berubah menjadi sumber konflik.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), terdapat 7 alasan mengapa kesenjangan gaya hidup dapat merusak sebuah hubungan menurut perspektif psikologi.
1. Perbedaan gaya hidup dapat menciptakan konflik nilai
Salah satu fondasi penting dalam hubungan bukanlah memiliki hobi yang sama, melainkan memiliki nilai hidup yang cukup kompatibel.
Nilai adalah sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang dalam menjalani kehidupan.
Bagi seseorang, keamanan finansial mungkin merupakan prioritas utama. Ia merasa tenang ketika memiliki tabungan, investasi, dan rencana keuangan yang jelas.
Namun, bagi pasangannya, kehidupan yang menyenangkan mungkin jauh lebih penting. Ia lebih suka menggunakan uang untuk bepergian, makan di tempat yang bagus, membeli barang yang disukai, atau menikmati pengalaman baru.
Tidak ada yang secara otomatis salah dari kedua pendekatan tersebut.
Masalah muncul ketika keduanya mulai menilai satu sama lain berdasarkan nilai masing-masing.
Orang yang gemar menabung mungkin menganggap pasangannya boros, tidak bertanggung jawab, atau tidak memikirkan masa depan.
Sebaliknya, pasangan yang gemar menikmati hidup mungkin melihat pasangannya sebagai orang yang terlalu perhitungan, kaku, atau tidak tahu bagaimana menikmati kehidupan.
Pada akhirnya, konflik bukan lagi tentang uang.
Konfliknya berubah menjadi:
“Cara hidupmu salah.”
Ketika perbedaan nilai berlangsung terus-menerus, pasangan dapat mengalami konflik yang berulang. Setiap keputusan kecil menjadi representasi dari sesuatu yang lebih besar.
Misalnya, keputusan untuk makan di restoran mahal bukan lagi sekadar keputusan makan malam. Bagi satu pihak, itu mungkin merupakan bentuk menikmati hidup. Bagi pihak lain, keputusan tersebut dapat dianggap sebagai pemborosan.
Begitu pula dengan keputusan membeli mobil, memilih tempat tinggal, berlibur, atau menghabiskan akhir pekan.
Jika tidak dibicarakan dengan dewasa, perbedaan gaya hidup dapat membuat pasangan merasa bahwa mereka sebenarnya sedang menjalani dua kehidupan yang berbeda.
2. Kesenjangan finansial dapat menciptakan ketimpangan kekuasaan
Salah satu bentuk kesenjangan gaya hidup yang paling mudah menimbulkan masalah adalah perbedaan kondisi ekonomi.
Ketika satu pasangan memiliki penghasilan jauh lebih tinggi daripada pasangannya, hubungan dapat menghadapi dinamika kekuasaan yang berbeda.
Pada kondisi sehat, perbedaan penghasilan sebenarnya tidak menjadi masalah besar.
Seseorang dapat menghasilkan lebih banyak uang tanpa merasa lebih tinggi. Pasangan yang berpenghasilan lebih rendah juga tidak harus merasa lebih rendah sebagai manusia.
Namun, masalah muncul ketika uang mulai digunakan sebagai alat untuk menentukan siapa yang memiliki suara lebih besar dalam hubungan.
Contohnya:
“Aku yang bayar, jadi aku yang menentukan.”
“Aku yang menghasilkan uang paling banyak, jadi kamu harus mengikuti keputusanku.”
Kalimat seperti itu dapat mengubah uang menjadi alat kontrol.
Dalam psikologi hubungan, perasaan memiliki posisi yang tidak setara dapat memengaruhi rasa aman dan harga diri seseorang. Pasangan yang terus-menerus merasa bergantung secara finansial bisa merasa tidak memiliki kebebasan untuk menyampaikan pendapat.
Sebaliknya, pasangan yang menjadi pihak yang lebih banyak membayar juga dapat merasa terbebani atau merasa memiliki hak lebih besar untuk menentukan kehidupan bersama.
Pada titik tertentu, hubungan yang seharusnya menjadi kerja sama dapat berubah menjadi hubungan yang terasa seperti hubungan antara pemberi dan penerima.
Padahal hubungan romantis idealnya tidak hanya dibangun berdasarkan siapa yang menghasilkan uang paling banyak.
Kontribusi dalam hubungan dapat hadir dalam berbagai bentuk: waktu, perhatian, pekerjaan rumah, dukungan emosional, pengasuhan, pengorbanan karier, maupun dukungan terhadap pasangan.
Karena itu, perbedaan pendapatan tidak otomatis menjadi masalah.
Yang berbahaya adalah ketika perbedaan tersebut diterjemahkan menjadi perbedaan nilai diri atau kekuasaan.
3. Salah satu pasangan dapat mengalami rasa rendah diri
Kesenjangan gaya hidup juga dapat memengaruhi self-esteem atau harga diri seseorang.
Bayangkan seseorang yang terbiasa hidup sederhana kemudian menjalin hubungan dengan pasangan yang berasal dari lingkungan ekonomi jauh lebih tinggi.
Awalnya, perbedaan tersebut mungkin terasa menyenangkan.
Namun, setelah beberapa waktu, ia mungkin mulai membandingkan dirinya.
Pasangannya terbiasa pergi ke restoran mahal, sedangkan dirinya harus mempertimbangkan harga makanan.
Pasangannya terbiasa berlibur ke luar negeri, sedangkan dirinya jarang bepergian.
Pasangannya memiliki lingkungan sosial yang berbeda, sedangkan dirinya merasa tidak cocok dengan lingkungan tersebut.
Perbandingan seperti ini dapat memunculkan pikiran:
“Apakah aku cukup untuk dia?”
“Apakah keluarganya menganggapku rendah?”
“Apakah dia sebenarnya malu memiliki pasangan seperti aku?”
“Bagaimana kalau suatu hari dia menemukan seseorang yang lebih cocok dengan gaya hidupnya?”
Masalahnya, perasaan rendah diri tidak selalu disampaikan secara langsung.
Seseorang mungkin mulai menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, cemburu, atau menarik diri.
Ia bisa saja menolak ajakan pasangan bukan karena tidak ingin bersama, tetapi karena merasa tidak nyaman dengan lingkungan tersebut.
Dalam jangka panjang, rasa tidak aman dapat memengaruhi kualitas komunikasi.
Alih-alih berkata:
“Aku sebenarnya merasa minder ketika berada di lingkunganmu,”
seseorang mungkin justru berkata:
“Aku malas ikut acara seperti itu.”
Pasangan kemudian tidak memahami masalah sebenarnya.
Akhirnya, konflik yang terlihat seperti perbedaan selera sebenarnya memiliki akar yang lebih dalam: rasa tidak cukup baik.
4. Perbedaan gaya hidup dapat membuat pasangan hidup dalam “dua dunia”
Hubungan membutuhkan pengalaman bersama.
Pasangan membutuhkan waktu untuk berbicara, melakukan aktivitas bersama, membangun kenangan, dan merasa bahwa mereka merupakan bagian dari kehidupan satu sama lain.
Kesenjangan gaya hidup dapat membuat proses tersebut menjadi lebih sulit.
Misalnya, satu pasangan sangat menikmati kehidupan sosial. Ia senang menghadiri pesta, berkumpul dengan teman, mencoba restoran baru, bepergian, dan mengikuti berbagai kegiatan.
Sementara pasangannya lebih nyaman berada di rumah, menjalani rutinitas sederhana, membaca buku, atau menghabiskan waktu dengan keluarga.
Sekali atau dua kali, perbedaan tersebut tidak menjadi masalah.
Namun jika hampir seluruh aktivitas penting mereka berbeda, hubungan dapat mengalami emotional distance atau jarak emosional.
Mereka memang masih berstatus sebagai pasangan, tetapi semakin sedikit pengalaman yang benar-benar mereka bagi.
Akhirnya, masing-masing memiliki dunia sendiri.
Satu pasangan memiliki teman-teman sendiri, aktivitas sendiri, tempat favorit sendiri, dan rutinitas sendiri.
Pasangan lainnya juga memiliki kehidupan yang berbeda.
Ketika hal ini berlangsung lama, hubungan dapat kehilangan salah satu elemen pentingnya: rasa kebersamaan.
Menariknya, pasangan tidak harus memiliki gaya hidup identik.
Yang lebih penting adalah kemampuan menciptakan titik temu.
Misalnya, pasangan yang berbeda dalam hal gaya hidup tetap dapat memiliki ritual bersama: makan malam setiap akhir pekan, olahraga bersama, menonton film, memasak di rumah, atau sekadar berbicara tanpa gangguan.
Hubungan membutuhkan ruang untuk perbedaan, tetapi juga membutuhkan ruang untuk kebersamaan.
5. Kesenjangan gaya hidup dapat menimbulkan rasa malu dan penilaian sosial
Manusia adalah makhluk sosial.
Kita tidak hanya mempertimbangkan bagaimana pasangan melihat kita, tetapi juga bagaimana keluarga, teman, dan lingkungan sosial melihat hubungan tersebut.
Inilah sebabnya kesenjangan gaya hidup terkadang menjadi semakin rumit ketika hubungan mulai melibatkan keluarga dan lingkungan sosial.
Seseorang mungkin merasa tidak nyaman ketika memperkenalkan pasangannya kepada keluarga karena takut muncul komentar mengenai pekerjaan, penghasilan, pendidikan, pakaian, atau latar belakang keluarga.
Sebaliknya, pasangan juga bisa merasa dirinya tidak diterima.
Misalnya, seseorang berasal dari keluarga sederhana dan kemudian masuk ke lingkungan keluarga pasangan yang memiliki gaya hidup jauh lebih tinggi.
Jika lingkungan tersebut sering membicarakan kekayaan, jabatan, perjalanan, atau status sosial, pasangan yang berbeda latar belakang dapat merasa seperti “orang luar”.
Perasaan tersebut bisa berkembang menjadi rasa malu.
Dan rasa malu merupakan emosi yang sangat kuat dalam hubungan interpersonal.
Seseorang yang merasa malu terhadap dirinya sendiri mungkin mulai menjaga jarak, menyembunyikan bagian tertentu dari kehidupannya, atau bahkan menghindari pertemuan dengan keluarga pasangan.
Lebih buruk lagi, pasangan dapat mulai merasa bahwa dirinya harus berubah agar layak berada dalam hubungan tersebut.
Padahal hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa dirinya pantas dicintai.
6. Perbedaan gaya hidup dapat memperbesar konflik tentang masa depan
Ketika hubungan masih dalam tahap awal, pasangan bisa saja menghindari pembicaraan mengenai masa depan.
Tetapi semakin serius sebuah hubungan, semakin sulit untuk menghindari pertanyaan tentang:
Di mana akan tinggal?
Bagaimana mengatur keuangan?
Apakah akan membeli rumah?
Bagaimana membesarkan anak?
Apakah kedua pasangan akan bekerja?
Bagaimana membantu keluarga masing-masing?
Seberapa sering akan berlibur?
Bagaimana mengatur pengeluaran?
Seperti apa standar kehidupan yang diinginkan?
Di sinilah kesenjangan gaya hidup dapat menjadi sangat nyata.
Bayangkan seseorang memiliki target hidup untuk membeli rumah, menabung, dan hidup stabil.
Sementara pasangannya ingin menggunakan sebagian besar pendapatan untuk bepergian dan menikmati kehidupan.
Keduanya mungkin sama-sama memiliki tujuan hidup yang baik.
Namun, definisi mereka tentang “kehidupan yang baik” berbeda.
Jika tidak didiskusikan, konflik dapat muncul berulang kali.
Bahkan masalah kecil seperti memilih tempat tinggal dapat menjadi konflik besar karena masing-masing membawa ekspektasi yang berbeda.
Satu orang mungkin ingin tinggal di tempat yang sederhana tetapi dekat dengan pekerjaan.
Yang lain mungkin menganggap kualitas tempat tinggal sebagai bagian penting dari standar hidup.
Tidak ada jawaban universal mengenai siapa yang benar.
Persoalannya adalah apakah pasangan mampu menemukan kesepakatan yang realistis.
Hubungan jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk bernegosiasi.
Cinta saja tidak selalu menyelesaikan perbedaan tujuan hidup.
Pasangan juga membutuhkan komunikasi, fleksibilitas, kompromi, dan kemampuan memahami kebutuhan satu sama lain.
7. Kesenjangan gaya hidup dapat mengubah cinta menjadi perbandingan
Salah satu bahaya terbesar dari kesenjangan gaya hidup adalah munculnya perbandingan terus-menerus.
Ketika seseorang merasa dirinya memiliki lebih sedikit dibandingkan pasangan, ia dapat mulai membandingkan dirinya dengan pasangan.
“Aku tidak punya pekerjaan sebagus dia.”
“Aku tidak bisa memberinya kehidupan seperti yang biasa dia jalani.”
“Aku tidak punya rumah sebagus keluarganya.”
“Aku tidak bisa mengajaknya pergi ke tempat-tempat seperti yang dilakukan mantannya.”
Perbandingan tersebut dapat menciptakan tekanan psikologis.
Seseorang tidak lagi menikmati hubungan sebagaimana adanya.
Ia mulai merasa harus mengejar standar tertentu agar tetap dianggap berharga.
Sebaliknya, pasangan yang berada di posisi lebih tinggi secara ekonomi juga dapat terjebak dalam perbandingan:
“Aku sudah melakukan banyak hal untuk hubungan ini.”
“Kenapa dia tidak bisa mengikuti gaya hidupku?”
“Kenapa aku harus selalu menyesuaikan diri?”
Jika kedua pihak terus menghitung kontribusi masing-masing, hubungan dapat berubah menjadi semacam kompetisi.
Padahal hubungan bukan pertandingan tentang siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih sukses, atau siapa yang lebih banyak berkorban.
Ketika hubungan berubah menjadi arena pembuktian, kedekatan emosional dapat perlahan berkurang.
Yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah:
“Bagaimana kita membangun kehidupan yang cocok untuk kita berdua?”
Bukan:
“Siapa yang harus mengikuti siapa?”
Jadi, Apakah Perbedaan Gaya Hidup Selalu Merusak Hubungan?
Tidak.
Ini adalah hal penting yang perlu digarisbawahi.
Kesenjangan gaya hidup tidak otomatis berarti hubungan akan gagal.
Bahkan, banyak pasangan dengan latar belakang yang sangat berbeda mampu membangun hubungan yang sehat dan bertahan lama.
Perbedaan dapat menjadi masalah ketika pasangan tidak mampu mengelolanya.
Yang paling menentukan bukan semata-mata seberapa besar perbedaannya, melainkan bagaimana pasangan merespons perbedaan tersebut.
Dua orang dapat memiliki penghasilan berbeda tetapi tetap saling menghormati.
Dua orang dapat berasal dari keluarga berbeda tetapi tetap memiliki nilai hidup yang sejalan.
Dua orang dapat memiliki hobi berbeda tetapi tetap memiliki waktu berkualitas bersama.
Dua orang dapat memiliki standar hidup berbeda tetapi mampu menemukan titik kompromi.
Sebaliknya, pasangan yang memiliki gaya hidup hampir sama pun dapat mengalami masalah jika terdapat kontrol, penghinaan, ketidakjujuran, atau komunikasi yang buruk.
Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar:
“Apakah gaya hidup kita berbeda?”
Melainkan:
“Apakah kita mampu menghargai perbedaan tersebut tanpa membuat salah satu pihak merasa lebih rendah?”
Bagaimana Menghadapi Kesenjangan Gaya Hidup dalam Hubungan?
Jika pasangan memiliki perbedaan gaya hidup yang cukup besar, beberapa hal berikut dapat membantu.
1. Bicarakan uang secara terbuka
Jangan menunggu konflik keuangan muncul.
Bicarakan pendapatan, pengeluaran, tabungan, utang, prioritas, dan tujuan finansial secara terbuka.
Tujuannya bukan untuk mengontrol pasangan, tetapi memahami bagaimana masing-masing memandang uang.
2. Bedakan kebutuhan dan gengsi
Tidak semua standar hidup harus dipertahankan.
Tanyakan:
“Apakah ini benar-benar kebutuhan?”
“Atau aku hanya takut terlihat berbeda dari orang lain?”
Pertanyaan semacam ini dapat membantu pasangan membuat keputusan yang lebih rasional.
3. Jangan menggunakan uang sebagai alat untuk merendahkan
Jika salah satu pasangan menghasilkan lebih banyak, hal tersebut tidak membuatnya lebih berharga.
Begitu pula, pasangan yang menghasilkan lebih sedikit bukan berarti kontribusinya tidak penting.
4. Cari titik temu
Tidak semua aktivitas harus dilakukan bersama.
Tetapi pasangan perlu memiliki aktivitas yang benar-benar menjadi milik mereka berdua.
Hal sederhana seperti memasak, berjalan sore, menonton film, atau makan malam bersama dapat membangun rasa kebersamaan.
5. Bicarakan masa depan sebelum hubungan terlalu jauh
Semakin serius sebuah hubungan, semakin penting membicarakan ekspektasi.
Jangan berasumsi bahwa pasangan akan berubah dengan sendirinya setelah menikah.
Jika gaya hidup dan tujuan hidup berbeda, lebih baik mengetahuinya sejak awal.
6. Hindari membandingkan pasangan
Pasangan bukan proyek yang harus diperbaiki.
Jika seseorang terus-menerus dibandingkan dengan mantan, teman, keluarga, atau standar sosial tertentu, rasa aman dalam hubungan dapat rusak.
7. Fokus pada kompatibilitas, bukan kesamaan
Pasangan tidak harus memiliki gaya hidup yang sama.
Yang lebih penting adalah apakah mereka mampu hidup berdampingan dengan perbedaan tersebut.
Kesimpulan
Kesenjangan gaya hidup dapat menjadi masalah dalam hubungan bukan karena seseorang lebih kaya dan seseorang lebih sederhana, atau karena satu orang lebih suka kehidupan mewah sementara yang lain menyukai kehidupan minimalis.
Masalah muncul ketika perbedaan tersebut berkembang menjadi konflik nilai, ketimpangan kekuasaan, rasa rendah diri, jarak emosional, tekanan sosial, perbedaan tujuan masa depan, dan kebiasaan membandingkan diri.
Hubungan yang sehat tidak membutuhkan dua orang yang identik.
Yang dibutuhkan adalah dua orang yang mampu mengatakan:
“Kita mungkin berbeda, tetapi kita bisa mencari cara untuk membangun kehidupan yang nyaman bagi kita berdua.”
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah hubungan bukanlah apakah pasangan memiliki standar hidup yang sama.
Melainkan apakah keduanya dapat tetap merasa dihargai, aman, didengar, dan setara meskipun berasal dari dunia yang berbeda.
Sebab dalam hubungan jangka panjang, perbedaan gaya hidup mungkin sulit dihindari.
Tetapi perbedaan tersebut tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh—selama pasangan mampu mengubahnya dari sumber pertentangan menjadi sesuatu yang dapat dipahami, dinegosiasikan, dan diterima bersama.