JawaPos.com – Berhadapan dengan seseorang yang gemar berbohong dapat menjadi pengalaman yang melelahkan. Terlebih jika kebohongan dilakukan berulang kali hingga menjadi pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang bisa berbohong karena berbagai alasan. Ada yang ingin menghindari masalah, takut mendapatkan penolakan, berusaha menjaga citra diri, hingga ingin mengendalikan keadaan sesuai keinginannya.
Menariknya, sejumlah sifat dan perilaku tertentu kerap dikaitkan dengan orang yang terbiasa berbohong.
Dilansir dari Geediting, berikut tujuh sifat yang sering muncul pada orang yang gemar menyampaikan informasi tidak sesuai kenyataan.
Baca Juga: 8 Gaya Hidup dan Kepribadian Perempuan Zodiak Scorpio Menurut Astrologi
1. Cenderung Menghindari Pertanyaan Secara Langsung
Salah satu perilaku yang sering terlihat adalah kecenderungan menghindari pertanyaan yang membutuhkan jawaban jelas.
Ketika diberikan pertanyaan langsung, mereka bisa saja mengubah topik pembicaraan, memberikan jawaban yang berputar-putar, atau justru melontarkan pertanyaan lain sebagai respons.
Cara tersebut dapat digunakan untuk menghindari pembahasan yang dianggap berisiko membuka fakta sebenarnya.
2. Memiliki Imajinasi yang Kuat
Kebiasaan berbohong terkadang berjalan beriringan dengan kemampuan menciptakan cerita.
Seseorang yang memiliki daya imajinasi tinggi dapat dengan mudah menyusun berbagai skenario atau alasan agar sebuah cerita terdengar masuk akal.
Kemampuan tersebut membuat kebohongan dapat disampaikan dengan lebih detail dan meyakinkan. Namun, kreativitas tentu bukan bukti bahwa seseorang pasti seorang pembohong.
3. Mampu Mengingat Detail Cerita
Mempertahankan sebuah kebohongan bukan perkara sederhana. Seseorang harus mengingat apa yang sebelumnya telah dikatakan agar ceritanya tidak mudah bertentangan.
Karena itu, orang yang terbiasa berbohong bisa saja berusaha mengingat berbagai detail dari cerita yang dibuatnya.
Semakin konsisten detail yang diberikan, semakin sulit pula bagi orang lain untuk mengetahui apakah cerita tersebut benar atau hanya rekayasa.
4. Takut Mendapat Penolakan
Tidak semua kebohongan muncul karena keinginan untuk merugikan orang lain.
Dalam sejumlah situasi, seseorang mungkin berbohong karena takut ditolak, mengecewakan orang lain, atau menerima penilaian negatif.
Rasa tidak aman dapat membuat seseorang memilih menyembunyikan kenyataan dan menggantinya dengan cerita yang dianggap lebih mudah diterima.
Dengan demikian, kebohongan terkadang menjadi mekanisme seseorang untuk melindungi dirinya dari konsekuensi yang ditakutinya.
5. Ingin Mengendalikan Situasi
Ada pula orang yang menggunakan kebohongan sebagai alat untuk mengontrol keadaan.
Mereka mungkin memberikan informasi tertentu agar percakapan bergerak sesuai keinginan, membentuk pandangan orang lain terhadap dirinya, atau memengaruhi keputusan seseorang.
Jika dilakukan terus-menerus, pola tersebut dapat berkembang menjadi perilaku manipulatif dan berpotensi merusak hubungan sosial.
6. Pandai Membuat Cerita
Kemampuan menyusun cerita dengan menarik juga dapat membuat seseorang lebih mudah meyakinkan orang lain.
Kebohongan yang disampaikan tidak selalu berupa satu kalimat sederhana. Dalam beberapa kasus, seseorang dapat membangun sebuah narasi lengkap dengan detail tertentu agar terdengar seperti kejadian nyata.
Kemampuan bercerita yang baik membuat pendengar lebih mudah terbawa oleh alur yang disampaikan.
7. Cenderung Menghindari Tanggung Jawab
Sifat lain yang sering dikaitkan dengan kebiasaan berbohong adalah kecenderungan menghindari akuntabilitas.
Ketika melakukan kesalahan, seseorang mungkin menyangkal perbuatannya, mencari kambing hitam, atau membuat alasan untuk mengurangi tanggung jawab yang harus diterima.
Apabila kebiasaan tersebut terus berulang, orang-orang di sekitarnya dapat merasa frustrasi karena setiap masalah seolah selalu memiliki alasan untuk dibenarkan.