JawaPos.com - Kita hidup di zaman yang aneh.
Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi banyak orang justru merasa semakin cemas. Informasi datang tanpa henti, tetapi ketenangan terasa semakin mahal. Kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik, namun sering kali kesulitan memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri sendiri.
Hari ini kita mungkin merasa aman. Besok, sebuah kabar buruk bisa mengubah rencana.
Pekerjaan bisa berubah. Kondisi ekonomi bisa berubah. Hubungan bisa berubah. Rencana hidup bisa berantakan. Apa yang kita yakini akan terjadi lima tahun ke depan, belum tentu terjadi lima bulan dari sekarang.
Itulah sebabnya banyak orang mengejar kebahagiaan dengan cara yang sebenarnya justru melelahkan.
Mereka berpikir:
"Kalau penghasilan saya sudah lebih besar, saya akan bahagia."
"Kalau saya sudah punya pasangan, saya akan tenang."
"Kalau pekerjaan saya sudah mapan, hidup saya akan terasa lengkap."
"Kalau semua masalah selesai, saya akan bisa menikmati hidup."
Masalahnya, hidup hampir tidak pernah benar-benar bebas dari ketidakpastian.
Selalu ada sesuatu yang belum selesai. Selalu ada sesuatu yang belum pasti. Selalu ada kemungkinan bahwa realitas tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Karena itu, kebahagiaan yang sehat bukanlah kemampuan untuk membuat hidup selalu berjalan sesuai keinginan.
Kebahagiaan adalah kemampuan untuk tetap menemukan ketenangan, makna, dan rasa syukur meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (10/8), psikologi modern juga semakin banyak melihat kesejahteraan bukan sekadar sebagai "merasa senang" setiap saat. Manusia yang sehat secara psikologis tetap bisa merasakan sedih, takut, kecewa, marah, dan cemas. Yang membedakan adalah bagaimana ia menghadapi semua emosi tersebut.
Dengan kata lain, Anda tidak harus memiliki kehidupan yang sempurna untuk menjadi bahagia.
Anda perlu membangun cara hidup yang membuat Anda mampu menghadapi kehidupan yang tidak sempurna.
Berikut tujuh kunci yang dapat membantu.
1. Belajar Membedakan Apa yang Bisa Anda Kendalikan dan Apa yang Tidak
Salah satu sumber penderitaan terbesar manusia adalah keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya.
Kita ingin semua orang memahami kita.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana.
Kita ingin orang lain memperlakukan kita dengan baik.
Kita ingin tidak pernah mengalami kegagalan.
Kita ingin selalu sehat.
Kita ingin ekonomi stabil.
Kita ingin hubungan tidak pernah berubah.
Tetapi sebagian besar hal tersebut tidak sepenuhnya berada di tangan kita.
Dan semakin keras kita berusaha mengendalikan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan, semakin besar pula kecemasan yang kita rasakan.
Bayangkan seseorang yang sedang mencari pekerjaan.
Ia sudah mengirim lamaran, memperbaiki CV, mempersiapkan wawancara, dan melakukan yang terbaik.
Tetapi setelah semua itu dilakukan, keputusan akhir tetap berada di tangan perusahaan.
Jika ia terus memikirkan:
"Bagaimana kalau mereka tidak memilih saya?"
"Bagaimana kalau ada kandidat yang lebih bagus?"
"Bagaimana kalau masa depan saya hancur?"
maka pikirannya akan terus bekerja bahkan ketika sebenarnya tidak ada tindakan tambahan yang bisa dilakukan.
Di sinilah pentingnya membedakan wilayah kendali dan wilayah di luar kendali.
Yang bisa Anda kendalikan antara lain:
tindakan Anda;
cara Anda berbicara;
usaha yang Anda berikan;
kebiasaan Anda;
bagaimana Anda merespons masalah;
siapa yang Anda izinkan dekat dengan Anda;
bagaimana Anda menggunakan waktu;
keputusan yang Anda ambil hari ini.
Sementara itu, banyak hal tidak sepenuhnya dapat Anda kendalikan:
pendapat orang lain;
masa lalu;
kondisi ekonomi secara keseluruhan;
keputusan orang lain;
perubahan yang datang tiba-tiba;
hasil akhir dari setiap usaha;
apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan.
Kebijaksanaan psikologis bukan berarti menyerah pada keadaan.
Justru sebaliknya.
Anda mengarahkan energi ke tempat yang memang bisa menghasilkan perubahan.
Daripada bertanya:
"Bagaimana saya bisa memastikan semuanya berjalan sesuai keinginan saya?"
cobalah bertanya:
"Apa yang masih bisa saya lakukan dari posisi saya sekarang?"
Pertanyaan kedua jauh lebih sehat.
Karena ketika kita menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, kita tidak menjadi pasif.
Kita menjadi lebih realistis.
Dan ketika kita menjadi realistis, energi mental yang sebelumnya habis untuk kekhawatiran bisa digunakan untuk tindakan.
Latihan sederhana
Ketika menghadapi masalah, buat dua kolom.
Kolom pertama: Bisa saya kendalikan.
Kolom kedua: Tidak bisa saya kendalikan.
Kemudian fokuskan perhatian terutama pada kolom pertama.
Tidak semua masalah langsung selesai dengan cara ini.
Tetapi sering kali, pikiran menjadi jauh lebih ringan.
2. Jangan Menunggu Hidup Sempurna untuk Mulai Menikmati Hidup
Banyak orang tanpa sadar membuat kesepakatan dengan dirinya sendiri:
"Saya akan bahagia nanti."
Nanti, setelah punya banyak uang.
Nanti, setelah mendapatkan pekerjaan impian.
Nanti, setelah menikah.
Nanti, setelah memiliki rumah.
Nanti, setelah masalah selesai.
Nanti, ketika hidup sudah stabil.
Masalahnya, "nanti" sering kali terus berpindah.
Ketika satu tujuan tercapai, muncul tujuan baru.
Ketika pendapatan meningkat, standar hidup ikut meningkat.
Ketika mendapatkan pekerjaan baru, muncul target baru.
Ketika mencapai satu pencapaian, kita mulai membandingkan diri dengan orang yang pencapaiannya lebih tinggi.
Akibatnya, hidup berubah menjadi perjalanan tanpa garis akhir.
Kita terus berlari, tetapi tidak pernah benar-benar merasa tiba.
Psikologi tentang kesejahteraan menunjukkan pentingnya kemampuan untuk mengalami dan menghargai momen positif yang sedang berlangsung, bukan hanya mengejar kondisi ideal di masa depan.
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki ambisi.
Ambisi tetap penting.
Kita boleh ingin kaya, sukses, sehat, memiliki hubungan yang baik, atau mencapai impian tertentu.
Tetapi jangan membuat kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada tercapainya semua itu.
Anda bisa memiliki tujuan sekaligus menikmati perjalanan.
Anda bisa ingin memiliki rumah sendiri sekaligus bersyukur atas tempat tinggal yang Anda miliki sekarang.
Anda bisa ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sekaligus menghargai pekerjaan yang sedang membantu Anda bertahan hari ini.
Anda bisa ingin memiliki pasangan sekaligus membangun kehidupan yang bermakna ketika masih sendiri.
Ada perbedaan besar antara:
"Saya akan bahagia setelah mendapatkan apa yang saya inginkan."
dan
"Saya akan berusaha mendapatkan apa yang saya inginkan, tetapi saya tidak akan menolak kebahagiaan yang tersedia hari ini."
Yang kedua jauh lebih sehat.
Cobalah mulai memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya dilewatkan.
Secangkir kopi di pagi hari.
Percakapan dengan seseorang yang Anda sayangi.
Udara pagi.
Tawa sederhana.
Makanan yang enak.
Tubuh yang masih memungkinkan Anda berjalan.
Waktu tenang tanpa gangguan.
Perasaan lega setelah menyelesaikan pekerjaan.
Hal-hal tersebut mungkin tampak kecil.
Namun kebahagiaan sehari-hari memang sering dibangun dari hal-hal kecil yang kita sadari, bukan dari peristiwa besar yang hanya terjadi sesekali.
3. Bangun Hubungan yang Hangat, Bukan Sekadar Jaringan yang Banyak
Di zaman media sosial, kita bisa memiliki ratusan atau bahkan ribuan koneksi, tetapi tetap merasa sendirian.
Jumlah teman tidak selalu sama dengan kualitas hubungan.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.
Kita membutuhkan hubungan yang membuat kita merasa diterima, dipahami, dihargai, dan memiliki tempat untuk pulang secara emosional.
Karena itu, salah satu investasi terbesar untuk kebahagiaan bukanlah membeli lebih banyak barang.
Melainkan membangun hubungan yang sehat.
Perhatikan orang-orang di sekitar Anda.
Siapa yang bisa Anda hubungi ketika sedang menghadapi masalah?
Siapa yang bisa mendengarkan tanpa langsung menghakimi?
Dengan siapa Anda bisa tertawa tanpa perlu berpura-pura?
Siapa yang tetap menghargai Anda ketika Anda sedang tidak berada dalam kondisi terbaik?
Dan yang lebih penting:
Apakah Anda juga menjadi orang seperti itu bagi orang lain?
Hubungan yang sehat bukan hanya tentang mendapatkan dukungan.
Ia juga tentang memberikan dukungan.
Kadang-kadang kebahagiaan justru muncul ketika kita merasa hidup kita berguna bagi seseorang.
Membantu orang tua.
Mendengarkan teman.
Menghubungi saudara yang sudah lama tidak berbicara.
Menanyakan kabar seseorang.
Meluangkan waktu untuk pasangan.
Bermain bersama anak.
Berbagi makanan.
Melakukan kebaikan kecil tanpa mengharapkan imbalan.
Semua itu terlihat sederhana.
Tetapi manusia sering menemukan makna dalam hubungan dan kontribusi.
Jadi, jika akhir-akhir ini Anda merasa hidup terlalu berat, jangan selalu mencari jawaban dengan cara mengisolasi diri.
Mungkin yang Anda perlukan bukan lebih banyak waktu untuk memikirkan hidup sendirian.
Mungkin Anda membutuhkan satu percakapan yang jujur dengan orang yang tepat.
Dan ingat satu hal:
Tidak semua hubungan harus dipertahankan.
Hubungan yang sehat membuat kita berkembang.
Hubungan yang terus-menerus merendahkan, memanipulasi, atau menguras diri juga perlu diberi batas.
Membangun hubungan bukan berarti membiarkan semua orang masuk ke dalam hidup kita.
Kebahagiaan juga membutuhkan kemampuan memilih siapa yang layak mendapatkan akses terhadap energi emosional kita.
4. Temukan Makna, Bukan Hanya Kenyamanan
Ada sesuatu yang sering dilupakan ketika orang berbicara tentang kebahagiaan.
Kebahagiaan tidak selalu berarti merasa nyaman.
Kadang-kadang sesuatu yang bermakna justru terasa sulit.
Membesarkan anak melelahkan.
Membangun bisnis penuh risiko.
Belajar sesuatu yang baru membuat frustrasi.
Merawat orang tua membutuhkan kesabaran.
Mengejar karier membutuhkan pengorbanan.
Berolahraga tidak selalu menyenangkan.
Menyelesaikan pendidikan membutuhkan disiplin.
Namun kita tetap melakukannya karena ada sesuatu yang dianggap lebih besar daripada kenyamanan sesaat.
Inilah pentingnya makna hidup.
Seseorang dapat melewati masa sulit ketika ia merasa bahwa perjuangannya memiliki alasan.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
"Apa yang membuat saya senang?"
Tambahkan pertanyaan:
"Apa yang membuat hidup saya terasa berarti?"
Jawabannya berbeda bagi setiap orang.
Bagi seseorang, makna mungkin berasal dari keluarga.
Bagi orang lain, dari pekerjaan.
Bagi yang lain, dari menciptakan sesuatu.
Ada yang menemukan makna melalui pendidikan, pelayanan, persahabatan, kreativitas, spiritualitas, atau kontribusi kepada masyarakat.
Tidak ada satu jawaban universal.
Yang penting adalah Anda mengetahui alasan di balik kehidupan yang sedang Anda jalani.
Bayangkan dua orang melakukan pekerjaan yang sama.
Orang pertama berpikir:
"Saya hanya bekerja untuk mendapatkan gaji."
Orang kedua berpikir:
"Saya bekerja agar keluarga saya memiliki kehidupan yang lebih baik dan agar saya bisa membangun sesuatu yang saya banggakan."
Pekerjaannya mungkin sama.
Tetapi makna yang dirasakan bisa berbeda.
Inilah sebabnya hidup yang bermakna tidak selalu merupakan hidup yang mudah.
Kadang-kadang makna justru membantu kita bertahan ketika hidup sedang sulit.
Jika Anda sedang berada dalam masa penuh ketidakpastian, cobalah kembali kepada pertanyaan mendasar:
"Untuk apa saya menjalani semua ini?"
Bukan untuk mencari jawaban yang sempurna.
Tetapi untuk menemukan arah.
Karena ketika kita memiliki arah, kita tidak harus mengetahui seluruh jalan di depan.
5. Latih Rasa Syukur Tanpa Menyangkal Masalah
Rasa syukur sering dianggap sebagai nasihat sederhana.
"Jangan lupa bersyukur."
Tetapi dalam praktiknya, bersyukur bukan berarti berpura-pura bahwa semua masalah baik-baik saja.
Jika seseorang sedang mengalami kesulitan, mengatakan:
"Syukuri saja."
tidak otomatis menyelesaikan masalah.
Bahkan dalam situasi tertentu, kalimat seperti itu bisa terasa seperti mengabaikan penderitaan seseorang.
Syukur yang sehat bukanlah penyangkalan.
Syukur berarti mampu melihat bahwa di tengah masalah, masih ada sesuatu yang layak dihargai.
Anda bisa kecewa dan tetap bersyukur.
Anda bisa takut dan tetap bersyukur.
Anda bisa gagal dan tetap menemukan sesuatu yang berharga.
Anda bisa sedang mengalami masa sulit dan tetap menghargai orang yang membantu Anda.
Ini bukan kontradiksi.
Manusia mampu merasakan banyak emosi sekaligus.
Misalnya, seseorang bisa berkata:
"Saya kecewa karena rencana saya gagal, tetapi saya bersyukur karena dari pengalaman ini saya belajar sesuatu yang penting."
Itu bukan berarti ia menyangkal kekecewaannya.
Ia mengakui kekecewaan sekaligus mencari sisi yang masih bernilai.
Salah satu latihan sederhana adalah menuliskan tiga hal yang Anda hargai setiap hari.
Tidak perlu sesuatu yang luar biasa.
Contohnya:
hari ini saya masih bisa berbicara dengan orang tua;
pekerjaan saya selesai tepat waktu;
saya menikmati makan siang;
seorang teman mengirim pesan;
saya memiliki waktu untuk beristirahat;
saya belajar sesuatu yang baru.
Jika dilakukan dengan tulus, latihan semacam ini dapat membantu perhatian kita tidak hanya terpaku pada apa yang salah.
Karena pikiran manusia sangat mudah memperhatikan ancaman, kekurangan, dan masalah.
Syukur membantu kita mengingat bahwa hidup tidak hanya terdiri dari apa yang kurang.
Ada juga sesuatu yang sudah ada.
6. Berhenti Menjadi Musuh bagi Diri Sendiri
Ada orang yang sangat baik kepada orang lain tetapi sangat kejam kepada dirinya sendiri.
Ketika teman gagal, ia berkata:
"Jangan menyerah. Kamu sudah berusaha."
Tetapi ketika dirinya sendiri gagal, ia berkata:
"Saya memang bodoh."
Ketika orang lain melakukan kesalahan, ia memahami.
Ketika dirinya melakukan kesalahan, ia menghukum diri berhari-hari.
Ini adalah pola yang melelahkan.
Dalam psikologi, konsep self-compassion atau belas kasih kepada diri sendiri menekankan pentingnya memperlakukan diri dengan pemahaman ketika menghadapi kegagalan, kekurangan, dan penderitaan.
Self-compassion bukan berarti memanjakan diri.
Bukan berarti mengatakan:
"Saya tidak perlu berubah karena saya sudah baik."
Justru sebaliknya.
Kita tetap bisa mengakui kesalahan sambil tidak menghancurkan harga diri.
Ada perbedaan antara:
"Saya melakukan kesalahan."
dan
"Saya adalah orang yang gagal."
Kalimat pertama berbicara tentang tindakan.
Kalimat kedua menyerang identitas.
Yang pertama membuka ruang untuk memperbaiki diri.
Yang kedua membuat kita merasa tidak berharga.
Ketika gagal, cobalah berbicara kepada diri sendiri seperti Anda berbicara kepada seorang teman yang sedang mengalami hal yang sama.
Tanyakan:
"Kalau orang yang saya sayangi mengalami ini, apa yang akan saya katakan kepadanya?"
Kemudian katakan hal yang sama kepada diri sendiri.
Anda tidak harus selalu memuji diri sendiri.
Anda boleh mengakui kekurangan.
Anda boleh berkata:
"Saya salah."
"Saya perlu belajar."
"Saya seharusnya bisa melakukan lebih baik."
Tetapi tambahkan:
"Dan saya masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya."
Inilah bentuk kedewasaan emosional.
Bukan menganggap diri sempurna.
Melainkan mampu menerima bahwa diri kita tidak sempurna tanpa kehilangan rasa berharga.
7. Rawat Tubuh karena Pikiran Tidak Hidup Terpisah dari Tubuh
Kita sering memperlakukan kebahagiaan seolah-olah hanya persoalan pikiran.
Padahal kondisi tubuh juga berhubungan erat dengan kondisi psikologis.
Ketika kurang tidur, terlalu lama duduk, jarang bergerak, terus-menerus terpapar stres, atau hidup dengan pola yang tidak teratur, kemampuan kita mengelola emosi juga dapat terganggu.
Karena itu, jangan mencari solusi psikologis yang terlalu rumit ketika kebutuhan dasar tubuh sendiri diabaikan.
Mulailah dari hal sederhana.
Tidur yang cukup.
Bergerak secara rutin.
Makan dengan lebih baik.
Mendapatkan paparan cahaya alami.
Mengurangi kebiasaan yang membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi terstimulasi.
Memberi jeda dari layar.
Mengatur waktu bekerja dan beristirahat.
Kelihatannya sederhana.
Tetapi justru hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih kuat daripada perubahan besar yang hanya bertahan selama beberapa hari.
Anda tidak harus langsung mengubah seluruh kehidupan.
Berjalan kaki 20–30 menit bisa menjadi awal.
Tidur sedikit lebih teratur bisa menjadi awal.
Menyimpan ponsel ketika sedang makan bersama keluarga bisa menjadi awal.
Mengambil waktu beberapa menit untuk bernapas dan menenangkan diri bisa menjadi awal.
Kesejahteraan psikologis bukan hanya sesuatu yang kita pikirkan.
Ia juga dibentuk oleh cara kita hidup setiap hari.
Jadi, Apa Sebenarnya Rahasia Kebahagiaan?
Setelah membicarakan tujuh kunci tadi, kita mungkin menemukan satu kesimpulan penting:
Kebahagiaan bukanlah kondisi ketika semua masalah menghilang.
Kalau kita menunggu kehidupan bebas masalah sebelum merasa bahagia, kita mungkin akan menunggu selamanya.
Kebahagiaan yang lebih realistis adalah kemampuan untuk tetap memiliki ruang bagi ketenangan di tengah ketidakpastian.
Anda mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi tahun depan.
Tetapi Anda bisa memilih bagaimana menjalani hari ini.
Anda mungkin tidak bisa mengendalikan pendapat semua orang.
Tetapi Anda bisa memilih bagaimana memperlakukan diri sendiri.
Anda mungkin tidak bisa menjamin bahwa semua rencana akan berhasil.
Tetapi Anda bisa melakukan yang terbaik dengan apa yang Anda miliki.
Anda mungkin tidak bisa menghentikan perubahan.
Tetapi Anda bisa belajar beradaptasi.
Anda mungkin tidak bisa menghapus semua rasa takut.
Tetapi Anda bisa belajar tidak selalu membiarkan rasa takut mengambil alih keputusan Anda.
Dan mungkin inilah bentuk kebahagiaan yang paling dewasa:
bukan kehidupan tanpa ketidakpastian, tetapi hati yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh ketidakpastian.
Tujuh Kunci yang Perlu Anda Pegang
Jika harus diringkas, tujuh kunci tersebut adalah:
1. Fokus pada apa yang bisa Anda kendalikan.
Jangan habiskan energi untuk hal-hal yang memang berada di luar kuasa Anda.
2. Nikmati kehidupan yang sedang berlangsung.
Jangan menunda seluruh kebahagiaan sampai semua tujuan tercapai.
3. Rawat hubungan yang bermakna.
Manusia membutuhkan koneksi, bukan hanya pencapaian.
4. Temukan makna dalam kehidupan.
Jangan hanya bertanya apa yang membuat Anda nyaman, tetapi juga apa yang membuat hidup Anda berarti.
5. Latih rasa syukur.
Bukan dengan menyangkal masalah, tetapi dengan menyadari bahwa masalah bukan satu-satunya bagian dari kehidupan.
6. Berhenti menjadi musuh bagi diri sendiri.
Belajarlah memperlakukan diri dengan belas kasih ketika gagal.
7. Rawat tubuh dan kebiasaan sehari-hari.
Kesejahteraan mental juga dipengaruhi oleh bagaimana Anda menjalani kehidupan secara fisik.
Pada Akhirnya, Anda Tidak Harus Mengetahui Semua Jawabannya
Mungkin inilah hal yang paling penting untuk diingat.
Anda tidak harus mengetahui apa yang akan terjadi lima tahun lagi untuk menjalani hari ini dengan baik.
Anda tidak harus memiliki semua jawaban.
Anda tidak harus memastikan semuanya aman sebelum merasa tenang.
Anda tidak harus membuat semua orang menyukai Anda.
Anda tidak harus menjadi versi terbaik dari diri sendiri setiap hari.
Kadang-kadang, yang perlu dilakukan hanyalah menjalani hari ini sebaik yang kita mampu.
Bangun.
Kerjakan apa yang perlu dikerjakan.
Rawat tubuh.
Hubungi orang yang Anda sayangi.
Lakukan sesuatu yang bermakna.
Nikmati hal-hal kecil.
Belajar dari kesalahan.
Istirahat ketika lelah.
Dan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, ingat bahwa kegagalan satu bagian hidup tidak otomatis berarti seluruh hidup Anda gagal.
Masa depan memang tidak pasti.
Tetapi ketidakpastian bukan hanya ancaman.
Ia juga berarti bahwa sesuatu yang baik masih mungkin terjadi.
Anda belum tahu siapa yang akan Anda temui.
Anda belum tahu kesempatan apa yang akan datang.
Anda belum tahu kemampuan apa yang akan berkembang.
Anda belum tahu bagaimana sebuah masalah yang sekarang terasa berat justru bisa membawa Anda menuju kehidupan yang berbeda.
Karena itu, jangan habiskan seluruh energi untuk mencoba mengetahui masa depan.
Gunakan sebagian energi itu untuk membangun diri yang mampu menghadapi masa depan apa pun yang datang.
Sebab pada akhirnya, kita tidak selalu bisa memilih keadaan yang terjadi dalam hidup.
Tetapi kita bisa terus belajar memilih cara kita meresponsnya.
Dan mungkin, di situlah salah satu bentuk kebahagiaan yang paling nyata berada:
bukan ketika hidup akhirnya menjadi sempurna, tetapi ketika kita belajar berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang tidak pernah sempurna.