JawaPos.com – Rasa marah merupakan emosi yang wajar dialami siapa saja. Namun, cara seseorang merespons kemarahan dapat menentukan apakah sebuah masalah menjadi lebih besar atau justru dapat diselesaikan dengan baik.
Orang dengan kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ) yang baik bukan berarti tidak pernah kesal, kecewa, atau marah. Perbedaannya terletak pada kemampuan mengenali emosi dan mengendalikan reaksi sebelum mengambil tindakan.
Ketika berada dalam situasi penuh tekanan, mereka cenderung memberikan jeda untuk memahami apa yang sedang dirasakan sebelum berbicara atau bertindak.
Dilansir dari SmallBizTechnology, terdapat sejumlah perilaku yang cenderung dihindari orang dengan kecerdasan emosional tinggi ketika emosinya sedang memuncak.
Berikut tujuh di antaranya:
1. Tidak Langsung Meluapkan Kemarahan
Ketika emosi memuncak, keinginan untuk langsung melampiaskannya memang sulit ditahan. Ada yang memilih berteriak, membanting barang, atau mengirim pesan panjang kepada orang yang dianggap sebagai penyebab masalah.
Namun, tindakan yang dilakukan ketika sedang sangat marah berisiko menimbulkan penyesalan.
Orang dengan EQ tinggi cenderung mengambil jeda terlebih dahulu. Mereka dapat menarik napas, menjauh sebentar dari situasi, kemudian mencoba memahami sumber kemarahan tersebut.
Mengenali emosi juga menjadi bagian penting. Alih-alih membiarkan kemarahan menguasai diri, seseorang dapat menyadari, “Saya sedang marah,” lalu menentukan respons yang lebih tepat.
Jeda singkat terkadang cukup untuk mencegah seseorang mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sulit diperbaiki setelahnya.
2. Tidak Terburu-buru Menyalahkan Orang Lain
Ketika terjadi masalah, menyalahkan pihak lain sering kali terasa sebagai respons paling mudah.
Namun, orang dengan kecerdasan emosional yang baik biasanya mencoba melihat situasi secara lebih objektif. Mereka tidak hanya bertanya siapa yang salah, tetapi juga memikirkan apakah ada bagian dari masalah yang menjadi tanggung jawab dirinya.
Sikap tersebut membantu seseorang mengambil kembali kendali terhadap tindakan dan keputusan yang bisa diperbaiki.
Mengakui kesalahan bukan berarti merendahkan diri. Justru, kemampuan menerima tanggung jawab dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan mencegah kesalahan serupa terulang.
3. Tidak Menggunakan Diam sebagai Hukuman
Memilih diam sementara waktu untuk menenangkan diri berbeda dengan sengaja mengabaikan seseorang sebagai bentuk hukuman.
Orang dengan EQ tinggi memahami perbedaan tersebut.
Jika membutuhkan waktu untuk mengendalikan emosi, mereka dapat menyampaikannya secara terbuka. Misalnya, mengatakan bahwa mereka membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran sebelum kembali membicarakan persoalan.
Cara seperti ini dapat mencegah pasangan, teman, atau rekan kerja salah memahami situasi.
Setelah emosi lebih stabil, pembicaraan dapat dilanjutkan dengan komunikasi yang lebih jujur dan konstruktif.
4. Tidak Menghina Orang Lain maupun Diri Sendiri
Saat marah, seseorang terkadang mengeluarkan kata-kata yang menyerang karakter lawan bicara.
Padahal, menyebut seseorang “malas”, “bodoh”, atau “tidak berguna” tidak otomatis menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ucapan tersebut dapat meninggalkan luka dan membuat konflik semakin sulit diselesaikan.
Orang dengan EQ tinggi cenderung memisahkan antara perilaku dan pribadi seseorang.
Jika ada kesalahan, yang dibicarakan adalah tindakan yang perlu diperbaiki, bukan memberikan label buruk kepada orang yang melakukannya.
Hal yang sama berlaku kepada diri sendiri. Kesalahan tidak perlu dibalas dengan kritik diri yang berlebihan.
Evaluasi tetap diperlukan, tetapi sebaiknya diarahkan untuk menemukan solusi, bukan terus-menerus menyalahkan diri.
5. Tidak Membiarkan Satu Masalah Merusak Semuanya
Satu kejadian buruk tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.
Orang dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung memahami bahwa hari yang buruk hanyalah satu bagian dari perjalanan yang lebih panjang.
Pertengkaran dengan seseorang, kegagalan dalam pekerjaan, atau kesalahan dalam mengambil keputusan memang dapat mengecewakan. Namun, pengalaman tersebut tidak harus membuat seseorang menganggap seluruh hidupnya gagal.
Kemampuan melihat persoalan dalam konteks yang lebih luas membantu seseorang kembali fokus pada hal-hal yang masih berjalan dengan baik.
Mereka juga lebih memberi ruang bagi diri sendiri untuk melakukan kesalahan dan belajar dari pengalaman.
6. Tidak Terjebak dalam Sikap Pasif-Agresif
Sindiran, komentar bernada sinis, atau sengaja bersikap dingin terkadang digunakan untuk menunjukkan rasa kesal tanpa mengatakannya secara langsung.
Cara tersebut dikenal sebagai perilaku pasif-agresif.
Meski terlihat lebih halus daripada ledakan amarah, perilaku pasif-agresif tetap dapat mengganggu komunikasi dan merusak kepercayaan.
Orang dengan EQ tinggi cenderung memilih menyampaikan masalah secara langsung dengan tetap menjaga cara berbicara.
Jika ada sesuatu yang mengganggu, mereka berusaha mencari tahu akar persoalannya dan membicarakannya secara terbuka.
Komunikasi semacam ini mungkin terasa tidak nyaman pada awalnya, tetapi lebih memungkinkan kedua pihak memahami persoalan dengan jelas.
7. Tidak Terus-Menerus Memelihara Dendam
Menyimpan kemarahan dalam waktu lama dapat menguras energi dan membuat seseorang terus terikat pada pengalaman yang tidak menyenangkan.
Karena itu, orang dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung berusaha menyelesaikan konflik daripada terus memeliharanya.
Memaafkan bukan berarti membenarkan tindakan buruk seseorang. Dalam kondisi tertentu, menjaga jarak atau menetapkan batasan tetap diperlukan.
Namun, melepaskan dendam dapat membantu seseorang berhenti membiarkan kejadian masa lalu mengendalikan kehidupan saat ini.
Ketika konflik tidak dapat diperbaiki sepenuhnya, berdamai dengan keadaan juga dapat menjadi pilihan agar energi tidak terus habis untuk memikirkan kemarahan.