JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa perasaan nyaman dalam hidup dapat menjadi jebakan yang membuat seseorang berhenti berkembang.
Rasa aman ini menghambat seseorang mengambil risiko sehat karena tubuh menganggap segala sesuatu yang berisiko sebagai ancaman.
Banyak orang akhirnya menahan diri untuk melakukan perubahan kecil yang sebenarnya dapat memperbaiki kualitas hidupnya.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (8/8), berikut sepuluh risiko sehat yang biasa dihindari seseorang ketika terlalu nyaman dengan kondisi hidupnya saat ini.
1. Berpindah pekerjaan meski merasa tidak bahagia
Ketika penghasilan terkait erat dengan keamanan finansial, mengambil risiko mencari peluang baru terasa sangat sulit.
Karier sering dikaitkan dengan identitas seseorang, sehingga berganti pekerjaan terasa seperti mengubah lebih dari sekadar jabatan.
Kekhawatiran akan usia atau kemungkinan gagal membuat seseorang ragu meninggalkan pekerjaan yang membuatnya lelah.
Ketakutan ini sering membuat seseorang bertahan meski pekerjaan tersebut sudah tidak lagi sesuai dengan dirinya.
2. Mempelajari keterampilan baru yang belum tentu dikuasai
Banyak aktivitas menarik yang bisa dicoba, namun memulai sesuatu yang baru berarti harus menjadi pemula kembali.
Fase menjadi pemula sering terasa tidak nyaman karena dianggap sebagai pukulan terhadap harga diri seseorang.
Ketidaknyamanan ini dapat menghalangi seseorang menemukan aktivitas baru yang sebenarnya memberikan makna dalam hidupnya.
Rasa takut memulai dari nol menjadi penghalang utama untuk mencoba keterampilan yang belum pernah dikuasai.
3. Bepergian dan menjelajahi tempat baru
Kekhawatiran praktis seperti keterlambatan atau pembatalan perjalanan sering membuat seseorang ragu untuk bepergian.
Kecemasan tentang keselamatan diri serta pandangan orang lokal juga menjadi alasan umum untuk menunda perjalanan.
Meski kekhawatiran tersebut wajar, terkadang alasan itu hanya menutupi keinginan untuk tetap berada di zona nyaman.
Seseorang yang sebenarnya menikmati perjalanan bisa kehilangan kesempatan berharga hanya karena memilih cara yang lebih aman.
4. Menjalin pertemanan baru dan membuka diri untuk berkencan
Sebagian orang berusaha mempertahankan lingkaran sosial yang sudah ada tanpa membiarkan orang baru masuk.
Meski bertemu seseorang yang menarik, mereka tetap ragu untuk membuka diri karena takut mengubah kenyamanan yang ada.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengutamakan keamanan dan stabilitas cenderung takut menjalin hubungan romantis baru.
Membuka diri terhadap hubungan baru dianggap bertentangan dengan keinginan untuk tetap berada dalam zona nyaman.
5. Pindah ke tempat tinggal baru
Meski pindah tempat tinggal sulit dihindari sepenuhnya, sebagian orang memilih bertahan ketika tidak benar-benar terpaksa.
Bahkan seseorang yang bermimpi tinggal di kota tertentu bisa saja tidak pernah mewujudkannya karena rasa tidak nyaman.
Perubahan lingkungan sering terasa membebani, ditambah dengan proses pindah yang menuntut banyak tenaga dan waktu.
Ketika tidak ada dorongan untuk pindah, bertahan di tempat yang sama menjadi pilihan yang terasa lebih aman.
6. Melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya
Banyak orang merasa perlu kembali menempuh pendidikan untuk mengembangkan kariernya lebih jauh lagi.
Sebagian lainnya memang mencintai proses belajar dan telah lama menginginkannya sebagai tujuan pribadi.
Kedua situasi ini bisa terasa menakutkan hingga membuat seseorang ragu untuk benar-benar melanjutkannya.
Keputusan ini membutuhkan investasi waktu dan biaya besar yang dapat menjadi penghalang tersendiri bagi banyak orang.
7. Menetapkan batasan dengan orang yang tidak ingin dikecewakan
Menjadi people-pleaser yang selalu mengalah pada orang lain memberikan dampak berat bagi diri sendiri.
Sebagian orang membiarkan hal ini terjadi agar tidak perlu menegaskan batasan yang sebenarnya diinginkannya.
Menetapkan batasan sering terasa berisiko ketika seseorang tidak ingin membuat situasi menjadi tidak nyaman.
Menyadari bahwa ketidaknyamanan bukan berarti telah menyakiti orang lain dapat membantu seseorang lebih berani bersikap.
8. Membagikan karya yang telah dibuat kepada orang lain
Banyak orang bertanya-tanya mengapa seseorang tidak membagikan bakatnya kepada dunia luar secara terbuka.
Bagi orang yang mengalaminya, membagikan karya pribadi terasa jauh lebih sulit dari yang terlihat.
Rasa takut dinilai buruk menjadi hambatan nyata yang sering menghalangi seseorang untuk berani berbagi.
Menerima kemungkinan penilaian negatif tanpa menganggapnya sebagai bencana besar dapat membantu seseorang lebih berani membagikan karyanya.
9. Melakukan percakapan yang sulit
Membicarakan topik yang canggung sering dihindari, terutama jika lawan bicara diperkirakan akan bereaksi negatif.
Sebagian orang tetap berani menyampaikannya, sementara yang lain memilih diam demi menghindari potensi konflik.
Sayangnya, memilih jalan yang terasa lebih aman ini justru dapat menimbulkan masalah yang lebih besar nantinya.
Masalah yang tidak dibicarakan cenderung terus berkembang dan menimbulkan dampak yang lebih berat di kemudian hari.
10. Berolahraga dan menjaga pola makan yang sehat
Membuat pilihan hidup yang lebih sehat terdengar menarik hingga seseorang memikirkan usaha yang dibutuhkan.
Kebiasaan sehat tidak bisa dimulai secara instan, melainkan dibangun secara bertahap dalam waktu yang panjang.
Kurangnya waktu dan akses terhadap tenaga ahli menjadi hambatan nyata bagi banyak orang untuk memulainya.
Selain hambatan tersebut, sebagian orang memang enggan mengubah kebiasaan meski menyadari dampaknya bagi kesehatan mereka.