← Beranda
Bukan Cuma Stres, 5 Faktor Ini Bisa Menentukan Risiko Seseorang Mengalami Krisis Mental
Mellyna Putri DiniarRabu, 5 Agustus 2026 | 03.36 WIB
Ilustrasi seseorang yang mengalami tekanan mental dan berjuang mempertahankan keseimbangan psikologis / Foto: (PsyPost)

JawaPos.com — Ada orang yang tetap mampu berjalan setelah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Ada pula yang perlahan kehilangan arah meski dari luar terlihat baik-baik saja. 

Perbedaan tersebut membuat para peneliti bertanya: sebenarnya, apa yang membuat seseorang mampu bertahan ketika hidup terasa semakin berat?

Model psikologi baru ini menilai sejumlah aspek kehidupan untuk melihat seberapa kuat seseorang mempertahankan makna hidup di tengah tekanan. Model bernama Equation of Enough itu terdiri atas lima dimensi, mulai dari cara seseorang menghadapi tekanan hingga kemampuannya membayangkan masa depan. 

Penelitian awal menunjukkan kelima faktor tersebut secara bersama-sama berkaitan kuat dengan kondisi yang oleh peneliti disebut Actualization Death Threshold, yakni rentang dari pemenuhan diri hingga keruntuhan eksistensial.

Dilansir dari PsyPost, Selasa (4/8), studi Antonis Chatzipanagiotou yang dipublikasikan dalam Humanities and Social Sciences Communications melibatkan 44 peserta pada tahap awal dan 250 peserta pada tahap berikutnya untuk menguji lima faktor yang berkaitan dengan risiko krisis mental.

Lantas, apa saja lima faktor yang dapat memengaruhi ketahanan psikologis seseorang? Berikut penjelasannya:

1. Cara menghadapi stres ternyata menjadi salah satu kuncinya

Model ini tidak sekadar melihat seberapa banyak tekanan yang dialami seseorang. Effective stress menilai apakah tekanan justru dapat diolah menjadi energi untuk bergerak atau sudah berubah menjadi beban yang membuat seseorang kewalahan. 

Artinya, dua orang yang menghadapi masalah serupa belum tentu memiliki respons psikologis yang sama. Kemampuan mengubah tekanan menjadi dorongan menjadi salah satu bagian dari struktur yang dinilai model tersebut.

2. Terlalu sedikit atau terlalu banyak kesuksesan sama-sama bisa mengganggu

Faktor kedua disebut effective success, yaitu bagaimana seseorang memaknai pencapaian yang sudah diperoleh. Kesuksesan idealnya memberi arah untuk melanjutkan hidup, bukan membuat seseorang kehilangan pegangan setelah mencapai sesuatu yang selama ini dikejar. 

Dalam konteks sederhana, mencapai target belum tentu otomatis membuat seseorang tahu harus melakukan apa berikutnya. Karena itu, pencapaian dinilai bersama dengan rasa cukup dan arah hidup.

3. Hidup juga membutuhkan jeda, bukan hanya target

Temporal distribution berkaitan dengan bagaimana seseorang mengatur jarak antara periode kerja keras, pencapaian, pemulihan, dan refleksi. 

Jika semua pengalaman datang tanpa ritme yang jelas, seseorang dapat kesulitan mengolah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang bermakna. 

Jadi, persoalannya bukan sekadar produktif atau tidak produktif. Waktu untuk berhenti dan memulihkan diri juga menjadi bagian dari keberlanjutan psikologis.

4. Lingkungan tempat hidup harus terasa masuk akal bagi diri sendiri

Faktor berikutnya adalah contextual relevance, yang melihat kesesuaian nilai pribadi dengan lingkungan fisik dan sosial seseorang. Seseorang bisa saja memiliki tujuan yang jelas, tetapi terus merasa tidak cocok dengan lingkungan tempat ia menjalani hidup. 

Ketidaksesuaian semacam itu, menurut kerangka penelitian, dapat menjadi salah satu bagian dari masalah yang lebih besar. Dengan kata lain, ketahanan mental tidak hanya berkaitan dengan apa yang ada di dalam diri, tetapi juga hubungan seseorang dengan lingkungan sekitarnya.

5. Kemampuan membayangkan masa depan ikut menentukan arah

Dimensi terakhir, narrative simulation, berkaitan dengan kemampuan membayangkan masa depan yang realistis dan diinginkan sekaligus menyusun langkah untuk mencapainya. 

Ketika seseorang masih dapat melihat kemungkinan masa depan, tujuan dapat berfungsi sebagai arah untuk terus bergerak. 

Sebaliknya, kesulitan membayangkan masa depan menjadi salah satu aspek yang diperiksa dalam model ini. Kelima faktor tersebut kemudian dianalisis secara bersamaan.

Dalam penelitian tahap kedua, kelima dimensi tersebut menjelaskan sekitar 79 persen variasi skor Actualization Death Threshold. Angka itu menunjukkan hubungan statistik yang sangat kuat dalam sampel penelitian, tetapi bukan berarti model tersebut sudah dapat memprediksi secara pasti kapan seseorang akan mengalami keruntuhan mental. 

Penelitian ini juga masih memiliki keterbatasan karena menggunakan data yang dilaporkan sendiri oleh peserta dan belum menguji perbedaan budaya secara sistematis. 

Temuan ini menawarkan sudut pandang bahwa kondisi psikologis seseorang mungkin tidak runtuh hanya karena satu masalah. Tekanan, pencapaian, waktu pemulihan, lingkungan, dan gambaran tentang masa depan dapat saling berkaitan dalam membentuk kemampuan seseorang untuk terus merasa hidupnya memiliki arah. 

Namun, Equation of Enough masih merupakan model awal yang membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan sebagai alat klinis.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho