← Beranda
Jangan Pernah Menggunakan 7 Kata Ini Saat Seseorang Berterus Terang Kepada Anda Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 4 Agustus 2026 | 03.07 WIB
seseorang yang mendengarkan temannya berterus terang / foto: Magnific/garakta_studio
 
JawaPos.com - Ada momen-momen dalam hidup ketika seseorang akhirnya memberanikan diri untuk berterus terang kepada kita. Mungkin mereka mengakui kesalahan, menceritakan trauma masa lalu, mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam, atau sekadar jujur tentang apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Banyak orang mengira bahwa mendengarkan adalah bagian tersulit. Padahal, tantangan sebenarnya justru dimulai setelah orang tersebut selesai berbicara. Respons yang kita berikan dalam beberapa detik pertama dapat menentukan apakah mereka akan merasa diterima atau justru menyesal telah membuka diri.

Dalam psikologi komunikasi, kemampuan merespons dengan empati sangat berpengaruh terhadap kualitas hubungan. Kata-kata tertentu, meskipun terdengar sederhana, dapat membuat seseorang merasa dihakimi, disepelekan, atau bahkan dipermalukan. Akibatnya, mereka menjadi enggan untuk terbuka lagi di masa depan.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (3/8), terdapat tujuh kata atau ungkapan yang sebaiknya dihindari ketika seseorang sedang berterus terang kepada Anda, beserta alasan psikologis dan alternatif respons yang lebih membantu.

1. "Salah"

Kalimat seperti:

"Kamu salah."
"Pemikiranmu salah."
"Yang kamu lakukan salah."

memiliki efek menghentikan percakapan.

Mengapa?

Ketika seseorang sedang membuka diri, otaknya berada dalam kondisi rentan. Mereka sebenarnya sedang mencari rasa aman, bukan penghakiman. Mendengar kata "salah" secara langsung dapat memicu mekanisme pertahanan diri (defensiveness). Akibatnya, mereka mulai membela diri daripada melanjutkan keterbukaan.

Dalam psikologi interpersonal, validasi bukan berarti menyetujui semua tindakan seseorang. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan mereka nyata.

Coba katakan:
"Aku bisa memahami kenapa kamu merasa seperti itu."
"Terima kasih sudah jujur."
"Aku ingin mengerti sudut pandangmu."
2. "Lebay"

Ungkapan seperti:

"Kamu lebay."
"Jangan berlebihan."
"Itu cuma masalah kecil."

sering kali membuat emosi seseorang terasa tidak dianggap.

Mengapa?

Setiap orang memiliki pengalaman hidup, kepribadian, dan tingkat sensitivitas yang berbeda. Apa yang tampak kecil bagi kita bisa terasa sangat berat bagi orang lain.

Ketika seseorang diberi label "lebay", mereka belajar bahwa emosi mereka tidak aman untuk diungkapkan.

Akibatnya, mereka cenderung memendam perasaan pada kesempatan berikutnya.

Sebaiknya katakan:
"Kelihatannya ini memang berat buatmu."
"Aku bisa melihat kamu sangat terpukul."
3. "Harus"

Contohnya:

"Kamu harus kuat."
"Kamu harus move on."
"Kamu harus ikhlas."
Mengapa?

Kata "harus" menciptakan tekanan.

Alih-alih merasa didukung, seseorang justru merasa dituntut agar segera berubah sesuai harapan orang lain.

Psikologi menunjukkan bahwa perubahan yang berasal dari motivasi internal jauh lebih bertahan lama dibanding tekanan eksternal.

Alternatif:
"Menurutmu langkah apa yang paling mungkin sekarang?"
"Aku siap mendukung kalau kamu ingin mencari jalan keluarnya."
4. "Kenapa?"

Pertanyaan "Kenapa?" sebenarnya tidak selalu buruk.

Namun ketika diucapkan dengan nada menyalahkan:

"Kenapa kamu begitu?"
"Kenapa bisa sampai seperti itu?"

pertanyaan tersebut terdengar seperti interogasi.

Mengapa?

Saat seseorang sedang rentan, mereka lebih membutuhkan rasa diterima daripada diminta mempertanggungjawabkan semua keputusan mereka.

Lebih baik gunakan pertanyaan eksploratif.

Misalnya:

"Apa yang terjadi waktu itu?"
"Apa yang membuatmu merasa seperti itu?"

Kalimat ini mengundang cerita, bukan pembelaan.

5. "Seharusnya"

Contoh:

"Seharusnya kamu dari dulu..."
"Seharusnya kamu tidak melakukan itu."
Mengapa?

Ucapan ini hanya memperbesar rasa penyesalan.

Dalam psikologi dikenal sebagai hindsight bias, yaitu kecenderungan merasa jawaban tampak jelas setelah semuanya terjadi.

Padahal saat menghadapi situasi tersebut, orang itu mungkin tidak memiliki informasi, pengalaman, atau kemampuan yang sama seperti sekarang.

Alih-alih membantu, kata "seharusnya" sering memperdalam rasa bersalah.

Ganti dengan:
"Kalau melihat sekarang memang ada banyak pelajaran yang bisa diambil."
"Yang penting sekarang kita pikirkan langkah berikutnya."
6. "Tenang"

Sekilas terdengar menenangkan.

Namun ketika seseorang sedang menangis atau sangat emosional, mengatakan:

"Sudah, tenang saja."
"Tenang."

sering kali justru membuat mereka merasa tidak dipahami.

Mengapa?

Emosi bukan tombol yang bisa dimatikan.

Meminta seseorang langsung tenang sering kali mengabaikan kebutuhan mereka untuk dipahami terlebih dahulu.

Paradoksnya, orang justru lebih mudah tenang setelah merasa didengarkan.

Sebaiknya katakan:
"Tidak apa-apa kalau kamu ingin meluapkan semuanya."
"Aku di sini mendengarkan."
7. "Aku"

Contohnya:

"Kalau aku sih..."
"Aku pernah lebih parah."
"Aku juga mengalami hal yang sama."
Mengapa?

Niatnya mungkin ingin menunjukkan empati.

Namun tanpa disadari, fokus percakapan berpindah dari mereka menjadi tentang diri kita.

Dalam psikologi komunikasi, fenomena ini dikenal sebagai conversational hijacking, yaitu mengambil alih percakapan sehingga pengalaman orang lain menjadi kurang mendapat ruang.

Seseorang yang sedang berterus terang biasanya ingin didengar lebih dulu, bukan dibandingkan.

Lebih baik katakan:
"Ceritakan lagi kalau kamu ingin."
"Aku ingin benar-benar memahami apa yang kamu alami."
Mengapa Respons Pertama Sangat Penting?

Penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa kesan pertama setelah seseorang mengungkapkan sesuatu yang pribadi sangat memengaruhi apakah mereka akan mempercayai kita di masa depan.

Respons yang penuh empati membantu seseorang merasa:

diterima,
dihargai,
tidak dihakimi,
lebih aman secara emosional.

Sebaliknya, komentar yang menyalahkan, meremehkan, atau menggurui dapat menutup pintu komunikasi.

Tidak sedikit hubungan pertemanan, keluarga, bahkan pasangan menjadi renggang bukan karena masalah besarnya, melainkan karena respons yang tidak tepat ketika salah satu pihak sedang berusaha jujur.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika seseorang berterus terang kepada Anda, cobalah mengikuti empat langkah sederhana berikut:

Dengarkan tanpa menyela.
Validasi perasaannya tanpa harus menyetujui semua tindakannya.
Ajukan pertanyaan yang menunjukkan rasa ingin memahami, bukan menghakimi.
Berikan saran hanya jika mereka memang menginginkannya.

Sering kali, kehadiran yang penuh perhatian jauh lebih berharga daripada solusi yang terburu-buru.

Kesimpulan

Saat seseorang memilih untuk berterus terang kepada Anda, sesungguhnya mereka sedang memberikan sebuah bentuk kepercayaan. Mereka berharap menemukan tempat yang aman untuk didengar, bukan ruang untuk dihakimi.

Karena itu, hindarilah kata-kata seperti "salah", "lebay", "harus", "kenapa" (dengan nada menyalahkan), "seharusnya", "tenang", dan terlalu cepat mengalihkan pembicaraan menjadi "aku". Kata-kata tersebut dapat menutup komunikasi dan melukai perasaan, meskipun niat Anda sebenarnya baik.

Sebaliknya, gunakan bahasa yang menunjukkan empati, rasa ingin memahami, dan penghargaan atas keberanian mereka untuk jujur. Dalam banyak kasus, orang tidak selalu membutuhkan jawaban yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia hadir, mendengarkan, dan menerima mereka apa adanya.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan dibangun oleh kemampuan memberikan nasihat terbaik, melainkan oleh kemampuan menciptakan rasa aman sehingga setiap orang merasa bebas untuk berkata jujur tanpa takut dihakimi.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho