← Beranda
Mudah Tangkap Pelajaran! 4 Teknik Efektif dari Henry L. Roediger Agar Ilmu Lebih Melekat
Niko SulpriyonoSabtu, 1 Agustus 2026 | 21.59 WIB
Ilustrasi belajar. (Jawa Pos)

JawaPos.com - Banyak orang merasa sudah belajar keras, namun hasilnya tetap tidak sesuai harapan. 

Catatan lengkap sudah dibuat, buku sudah dibaca berulang kali, tetapi saat ujian atau ketika harus mengingat kembali, pikiran terasa kosong. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa kerja keras saja tidak cukup, karena strategi belajar yang digunakan ternyata tidak tepat.

Henry L. Roediger, profesor psikologi kognitif dari Washington University, telah meneliti cara kerja memori selama lebih dari 40 tahun. 

Bersama rekannya Mark McDaniel dan penulis Peter Brown, ia menerbitkan buku Make It Stick: The Science of Successful Learning yang membongkar mitos belajar keliru sekaligus menawarkan teknik efektif berdasarkan riset ilmiah.

Dalam buku tersebut, Roediger memperkenalkan empat metode utama yang terbukti mampu meningkatkan kualitas belajar. 

Artikel ini akan membahas 4 teknik belajar efektif yang dapat membuat ilmu lebih melekat, baik untuk persiapan ujian, pekerjaan, maupun pengembangan diri Anda yang dirangkum dari kanal youTube Layar Kertas.

1. Space Repetition

Teknik pertama adalah space repetition atau pengulangan dengan jeda. 

Metode ini jauh lebih efektif dibanding sistem kebut semalam (SKS) yang hanya membuat informasi cepat masuk namun juga cepat hilang. 

Dengan pengulangan berkala, otak dipaksa bekerja lebih keras untuk mengingat kembali, sehingga materi tersimpan lebih lama dalam memori jangka panjang.

Sebagai contoh, daripada belajar tiga jam penuh di malam sebelum ujian, pecahlah waktu belajar menjadi beberapa sesi. 

Belajarlah satu jam pada hari Senin, satu jam pada Rabu, dan satu jam lagi pada Kamis. 

Dengan pola ini, otak Anda akan memiliki kesempatan memproses informasi lebih dalam.

Space repetition juga bermanfaat di dunia kerja. Jika Anda sering melakukan presentasi, gunakan teknik ini untuk mengulang materi beberapa kali dalam jeda berbeda. 

Hasilnya, Anda akan tampil lebih percaya diri dan lebih siap menghadapi audiens.

2. Retrieval Practice

Teknik kedua adalah retrieval practice, yakni melatih otak memanggil kembali informasi tanpa melihat catatan. 

Membaca ulang buku atau catatan memang terasa produktif, tetapi itu hanyalah aktivitas pasif yang menciptakan ilusi seolah-olah Anda sudah menguasai materi.

Cara paling sederhana adalah setelah membaca satu bab buku, tutup materinya dan tuliskan poin-poin penting yang masih Anda ingat. 

Jangan langsung membuka catatan, biarkan otak berusaha keras menarik informasi. 

Baru setelah itu, bandingkan dengan sumber aslinya.

Latihan ini membuat otak bekerja lebih aktif dan membangun koneksi memori yang lebih kuat. 

Teknik ini sangat berguna untuk Anda yang sering membaca buku pengembangan diri atau materi kuliah, tetapi kesulitan mengingat isinya di kemudian hari.

3. Interleaving (Belajar Campuran)

Metode ketiga adalah interleaving atau belajar campuran. 

Alih-alih fokus pada satu topik sepanjang sesi belajar, teknik ini mendorong Anda mencampur beberapa topik sekaligus.

Sebagai ilustrasi, ketika belajar sejarah, jangan hanya memusatkan perhatian pada kerajaan Majapahit. 

Bagi waktu Anda untuk juga mempelajari Kediri dan Singasari. 

Dengan mencampur materi, otak terbiasa beradaptasi dan lebih siap menghadapi variasi soal atau permasalahan berbeda.

Teknik ini juga efektif untuk keterampilan non-akademik. 

Jika Anda belajar desain grafis, campurkan latihan membuat logo, poster, dan konten media sosial dalam satu sesi. 

Demikian pula untuk public speaking, campurkan latihan presentasi formal, diskusi santai, dan sesi tanya jawab.

4. Generation (Menebak Sebelum Belajar)

Teknik keempat adalah generation, yaitu mencoba menebak jawaban sebelum mempelajari materi sebenarnya. 

Banyak orang menganggap menebak itu tidak berguna, padahal justru kesalahan inilah yang membuat otak bekerja lebih keras sehingga memori menjadi lebih kuat.

Misalnya, sebelum membaca buku sejarah, cobalah menjawab pertanyaan seperti “Apa alasan pembentukan BPUPKI?” tanpa membuka catatan. 

Tuliskan semua tebakan Anda, lalu cocokkan dengan jawaban yang benar. Walaupun banyak kesalahan, proses ini membuat otak lebih fokus dan aktif.

Metode ini juga berguna dalam kehidupan sehari-hari. 

Saat belajar bahasa asing, coba tebak arti kata baru sebelum melihat kamus. Atau ketika memasak, tulis resep berdasarkan logika Anda sebelum membandingkan dengan panduan asli. 

Dengan cara ini, hasil belajar akan lebih melekat dalam ingatan.

EDITOR: Hanny Suwindari