JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa orang dengan moral lemah sering menggunakan frasa serupa dalam percakapan santai.
Ucapan tersebut biasanya bertujuan memanipulasi sekaligus melindungi citra diri mereka sendiri.
Standar yang mereka pegang terhadap perlakuan pada orang lain cenderung sangat rendah.
Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (29/7), berikut frasa khas orang kurang etika dan moral dalam percakapan santai sehari-hari.
1. “Semua orang juga melakukannya”
Baca Juga: Persaingan Sengit di Bioskop China, 'All Wishes Come True' Kalahkan 'Kung Fu Soccer'
Tekanan sosial semacam ini ternyata tidak hanya dialami oleh remaja di lingkungan sekolah.
Orang dengan moral lemah sering mendesak orang lain melakukan hal yang sebenarnya tidak diinginkan.
Mereka berharap orang lain ikut membuat keputusan buruk agar merasa tidak sendirian melakukannya.
Cara ini menjadi taktik licik untuk menjebak orang lain dalam kebiasaan yang sebenarnya merugikan.
2. “Aku tidak bermaksud menyebar gosip, tapi...”
Meski nurani mereka mungkin menyadari hal itu salah, mereka tetap gemar bergosip.
Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Toko Sembako di Putat Jaya Surabaya, Barang Dagangan Ludes
Membicarakan orang lain menjadi cara menghindari sorotan terhadap diri mereka sendiri.
Mereka lebih memilih mencari informasi menarik tentang orang lain daripada mengenali diri sendiri.
Kebiasaan ini menunjukkan arah moral yang keliru sekaligus jati diri yang belum jelas.
3. “Itu bukan urusanku”
Orang dengan nilai moral yang kuat biasanya tetap meminta maaf meski tidak sengaja menyakiti.
Mereka juga tetap membantu orang lain terlepas dari niat awal mereka sendiri.
Sebaliknya, orang dengan moral lemah terus mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Mereka hanya mementingkan kenyamanan pribadi tanpa memedulikan empati maupun tanggung jawab sosial.
4. “Aku tidak bisa mengendalikannya”
Sikap tidak berdaya yang dibuat-buat sulit ditiru oleh orang yang benar-benar dewasa.
Mereka berusaha memosisikan diri sebagai korban hanya ketika hal itu menguntungkan mereka.
Alasan tidak bisa mengendalikan diri sering dipakai untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan.
Pola ini justru membuat mereka semakin terjebak dalam kebiasaan yang sulit diperbaiki.
5. “Itu cuma bercanda”
Banyak orang dengan moral lemah memilih jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab.
Mereka bisa mengucapkan hal menyakitkan lalu menyangkalnya sebagai sekadar candaan belaka.
Ketika tidak memiliki pedoman moral, mereka tidak segan memutarbalikkan kenyataan demi melindungi citra diri.
Kenyamanan pribadi tetap menjadi prioritas utama dibanding perasaan orang yang mereka sakiti.
6. “Aku tidak benar-benar berbohong”
Orang dengan moral lemah cenderung berlindung di balik detail teknis semata.
Mereka jarang berempati atau memikirkan dampak tindakan mereka terhadap orang lain.
Membenarkan tindakan sendiri terasa lebih mudah dibanding mengakui perasaan orang yang tersakiti.
Mereka berharap orang lain mengabaikan kekecewaan meski terus-menerus bersikap tidak jujur.
7. “Aku tidak membuat aturan”
Beberapa aspek dalam masyarakat memang memiliki kelemahan dan ketidakadilan tertentu.
Orang bermoral kuat justru berusaha melawan bagian yang merugikan banyak orang tersebut.
Sebaliknya, orang dengan integritas rendah memanfaatkan celah itu demi kepentingan pribadi.
Mereka mengklaim diri sebagai korban sistem untuk membenarkan perilaku semena-mena mereka.
8. “Mereka pantas mendapatkannya”
Orang berempati biasanya tetap memberi ruang pengertian meski disakiti orang lain.
Mereka berusaha memahami sudut pandang orang yang pernah membuat kesalahan terhadap mereka.
Sebaliknya, orang dengan integritas rendah mencari alasan apa pun untuk memperlakukan orang buruk.
Kesalahan kecil orang lain langsung dijadikan pembenaran untuk bersikap tidak adil kemudian.
9. “Aku tidak pernah bilang begitu”
Ketika alasan tidak lagi berhasil, orang tanpa moral mulai menggunakan taktik manipulatif.
Mereka tidak segan menyangkal kenyataan demi menghindari rasa malu atas perbuatannya.
Dorongan untuk mengendalikan orang lain muncul karena mereka sulit mengendalikan diri sendiri.
Mereka bahkan berani menyangkal ucapan yang jelas pernah mereka katakan sebelumnya.
10. “Aku cuma realistis”
Menjadi realistis semestinya berarti melihat dunia apa adanya, termasuk ketidakadilan di dalamnya.
Namun orang dengan moral lemah memutarbalikkan makna itu untuk membenarkan sikap negatif mereka.
Mereka menggunakan alasan tersebut agar terhindar dari tanggung jawab menyakiti orang lain.
Mereka rela mengabaikan persepsi orang lain yang sebenarnya akurat demi menghindari kesalahan.