← Beranda
Menurut Psikologi, Orang yang Perlahan Menarik Diri dari Dunia Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Menunjukkan 6 Kepribadian
Irfan FerdiansyahSenin, 27 Juli 2026 | 21.40 WIB
seseorang yang menarik diri../Freepik/krakenimages.com

JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, banyak orang mengalami perubahan dalam cara mereka menjalani hidup, terutama dalam hal interaksi sosial. 

Ada yang tetap aktif dan penuh energi, sementara yang lain perlahan menarik diri dari dunia luar, memilih untuk hidup lebih tenang, menyendiri, dan lebih selektif dalam membangun hubungan.

Fenomena ini bukan semata-mata akibat fisik yang menurun, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan psikologis dan kepribadian.

Dilansir dari Geediting, menurut psikologi, orang-orang yang secara perlahan menarik diri dari dunia cenderung menunjukkan enam tipe kepribadian yang khas. 

Ini bukan berarti mereka menjadi “anti-sosial” atau bermasalah secara mental, namun lebih mencerminkan proses alami dalam menghadapi tahap kehidupan yang berbeda. 

Berikut enam kepribadian tersebut:

1. Introvert Reflektif

Kepribadian ini ditandai dengan kecenderungan untuk menikmati kesendirian dan merenung lebih dalam. 

Seiring bertambahnya usia, orang dengan tipe ini cenderung lebih menikmati waktu sendiri dibandingkan berada dalam keramaian. 

Mereka menemukan kedamaian dalam keheningan dan lebih suka memikirkan makna hidup, pengalaman masa lalu, dan rencana masa depan dengan tenang.

Psikologi menyebut bahwa introvert reflektif seringkali memiliki kehidupan batin yang kaya dan mendalam. 

Mereka tidak menarik diri karena sedih, tetapi karena kenyamanan sejati bagi mereka terletak dalam kedamaian pribadi, bukan keramaian sosial.

2. Pengamat yang Bijaksana

Seiring dengan pengalaman hidup yang terus bertambah, banyak orang menjadi lebih bijaksana dan mampu melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. 

Orang dengan kepribadian ini biasanya memilih untuk lebih banyak mengamati daripada terlibat aktif. 

Mereka menikmati momen-momen kecil dan memiliki pemahaman yang dalam tentang kehidupan, tetapi merasa bahwa tidak semua hal perlu dikomentari atau dikendalikan.

Psikolog menyebut kepribadian ini sebagai hasil dari perkembangan emosi yang matang. 

Mereka bisa hadir secara utuh dalam kehidupan, tapi tidak merasa perlu menonjolkan diri atau bersaing.

3. Pencari Makna

Kepribadian ini sangat umum pada mereka yang memasuki tahap akhir usia paruh baya atau awal lansia. 

Mereka tidak lagi mengejar pengakuan sosial, status, atau kesuksesan materi, melainkan makna dan kedamaian batin. 

Orang dengan kepribadian ini cenderung mengurangi keterlibatan dalam hal-hal duniawi, dan lebih banyak terlibat dalam kegiatan spiritual, kontemplatif, atau filantropis.

Menurut teori Erik Erikson tentang tahap perkembangan psikososial, individu di usia lanjut akan berhadapan dengan krisis “integritas vs keputusasaan”, dan pencari makna adalah mereka yang berusaha mencapai integritas dengan menerima hidup apa adanya.

4. Mandiri Secara Emosional

Orang dengan kepribadian ini cenderung tidak lagi bergantung pada validasi dari luar untuk merasa bahagia. 

Mereka merasa cukup dengan diri mereka sendiri dan tidak terlalu peduli apakah dunia memperhatikan mereka atau tidak. 

Inilah sebabnya mereka perlahan menarik diri dari keramaian dan konflik sosial, karena bagi mereka, kedamaian batin lebih penting daripada keterlibatan sosial yang dangkal.

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk kemandirian emosional tingkat tinggi—kemampuan untuk merasa utuh tanpa harus terus-menerus “terhubung” dengan dunia luar.

5. Penerima Hidup Seutuhnya

Kepribadian ini cenderung lebih menerima kenyataan hidup, termasuk kenyataan bahwa dunia terus berubah, bahwa orang-orang datang dan pergi, dan bahwa hidup tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. 

Karena sikap penerimaan ini, mereka tidak lagi terobsesi untuk mengikuti segala tren, berita, atau perkembangan dunia luar. 

Mereka menarik diri bukan karena kehilangan semangat, tetapi karena telah menerima bahwa keterlibatan yang berlebihan justru dapat menguras energi dan emosi.

Sikap seperti ini sering dijelaskan dalam psikologi positif sebagai bentuk dari “acceptance-based living” — hidup dengan penerimaan, bukan penolakan atau perlawanan terhadap realitas.

6. Minimalis Relasional

Kepribadian terakhir ini menggambarkan mereka yang menjadi lebih selektif dalam menjalin hubungan sosial. 

Mereka bukan tidak mau berteman, melainkan hanya ingin mempertahankan koneksi yang benar-benar bermakna. 

Dalam banyak kasus, mereka memutus hubungan dengan orang-orang yang dirasa beracun, drama berlebih, atau menguras energi.

Dalam teori psikologi hubungan sosial, ini disebut sebagai “socioemotional selectivity theory” yang menyatakan bahwa seiring bertambahnya usia, individu akan semakin memfokuskan waktu dan energi mereka pada hubungan yang paling emosional dan bermakna.

Penutup: Menarik Diri Bukan Tanda Kelemahan

Menarik diri dari dunia tidak selalu berarti kesepian atau isolasi sosial yang membahayakan. 

Dalam banyak kasus, ini adalah proses alami dan sehat bagi individu yang sedang memasuki tahap kehidupan yang berbeda. 

Mereka yang menunjukkan enam kepribadian di atas sering kali hidup lebih damai, lebih sadar, dan lebih puas dibandingkan mereka yang tetap memaksakan diri untuk aktif di tengah keramaian tanpa tujuan yang jelas.

Psikologi mengajarkan kita bahwa setiap perubahan perilaku—termasuk penarikan diri—selalu memiliki alasan dan konteksnya sendiri. 

Dengan memahami kepribadian yang mendasari perilaku ini, kita bisa lebih menghargai cara setiap orang menjalani hidup mereka, terutama di masa-masa akhir yang penuh refleksi.

EDITOR: Hanny Suwindari