← Beranda
Jangan Lakukan! Ini 5 Sikap Kekanak-kanakan yang Membuat Anda Terlihat Tidak Dewasa
Niko SulpriyonoSenin, 27 Juli 2026 | 17.08 WIB
Ilustrasi kekanak-kanakan (Freepik)

JawaPos.com – Kedewasaan seseorang tidak selalu ditentukan oleh usia. Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang dewasa yang tanpa sadar menunjukkan perilaku kekanak-kanakan, baik saat berada di lingkungan kerja, keluarga, maupun dalam pergaulan.

Sikap yang sulit mengendalikan emosi, enggan menerima kritik, hingga menolak bertanggung jawab atas kesalahan dapat memberikan kesan negatif di mata orang lain. Perilaku seperti ini bukan hanya memengaruhi hubungan sosial, tetapi juga berpotensi menghambat perkembangan diri dan karier.

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut bisa saja muncul dalam situasi sederhana, misalnya ketika menghadapi perbedaan pendapat, menerima masukan, atau menyelesaikan konflik. Karena itu, mengenali tanda-tanda sikap yang kurang matang secara emosional menjadi langkah penting untuk membangun kepribadian yang lebih dewasa.

Dengan memahami perilaku yang perlu dihindari, Anda dapat meningkatkan kecerdasan emosional, memperkuat komunikasi, serta menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan orang-orang di sekitar.

Baca Juga: Bukan Soal Harta, Ini 6 Sikap yang Membuat Seseorang Terlihat Berkelas

Dirangkum dari kanal YouTube Psych2Go, berikut lima sikap kekanak-kanakan yang sebaiknya dihindari agar Anda terlihat lebih dewasa, bijaksana, dan mudah bekerja sama dalam berbagai situasi.

1. Marah-Marah di Tempat Umum

Meluapkan emosi di ruang publik sering kali dianggap tidak profesional dan tidak bijaksana. 

Bayangkan seseorang berteriak di bandara hanya karena pesawatnya ditunda, atau marah besar saat antrean kasir terlalu lama. 

Reaksi semacam ini menunjukkan ketidakmampuan mengelola emosi secara dewasa.

Menurut pakar kejiwaan, emosi yang tidak terkendali dapat menciptakan ketegangan dan memperkeruh suasana. 

Setiap orang memiliki perasaan, namun cara mengekspresikannya menentukan kematangan pribadi. 

Menjaga ketenangan dan tetap bersikap sopan jauh lebih dihargai daripada melampiaskan kemarahan.

Sikap marah di tempat umum bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga mencoreng reputasi Anda sendiri. 

Cobalah untuk bernapas dalam, mengambil jeda, dan merespons secara rasional. 

Dengan begitu, Anda bisa menyelesaikan masalah tanpa merusak suasana.

2. Keras Kepala dan Sulit Menerima Masukan

Sikap keras kepala sering kali muncul saat seseorang merasa paling benar dan menolak segala bentuk masukan. 

Dalam kerja tim, perilaku ini sangat menyulitkan karena menghambat kolaborasi dan inovasi. 

Orang seperti ini cenderung menutup diri terhadap perspektif baru.

Psikolog klinis menjelaskan bahwa sifat ini mencerminkan minimnya empati dan keengganan untuk berkembang. 

Padahal, dunia kerja dan kehidupan sosial menuntut fleksibilitas serta kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. 

Mengabaikan hal ini justru membuat Anda tertinggal.

Menjadi dewasa berarti mampu membuka hati dan pikiran terhadap kritik yang membangun. 

Ketika Anda bisa beradaptasi, mendengarkan, dan memperbaiki diri, itulah tanda kematangan sejati yang membawa Anda pada hubungan yang lebih harmonis.

3. Menyalahkan Orang Lain Saat Gagal

Sikap menyalahkan orang lain adalah bentuk ketidakdewasaan yang sangat merugikan, terutama dalam lingkungan profesional. 

Ketika seseorang gagal dan segera menunjuk pihak lain sebagai penyebab, itu menunjukkan bahwa ia belum siap bertanggung jawab atas tindakannya.

Pakar keluarga menyatakan bahwa menghindari tanggung jawab merupakan penghambat utama dalam pertumbuhan pribadi. 

Alih-alih belajar dari kesalahan, orang yang suka menyalahkan justru kehilangan kesempatan untuk berkembang. 

Sikap ini juga merusak kepercayaan dari rekan dan atasan.

Mengakui kesalahan dan bersedia memperbaikinya adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan. 

Saat Anda belajar dari kegagalan, Anda membuktikan diri sebagai pribadi yang tangguh dan layak dipercaya. 

Ini adalah langkah penting menuju kesuksesan dan kedewasaan.

4. Mencari Perhatian Secara Berlebihan

Perilaku mencari perhatian secara berlebihan dapat terlihat dari drama berlebihan, reaksi emosional yang tidak proporsional, atau sikap yang mencolok tanpa alasan. 

Hal ini sering kali muncul dari rasa tidak percaya diri dan kebutuhan akan validasi eksternal.

Menurut pakar neurologi, sikap semacam ini bisa merusak hubungan karena membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terkuras emosinya. 

Hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling menghargai, bukan berdasarkan siapa yang paling menarik perhatian.

Mengembangkan kesadaran diri sangat penting agar Anda bisa membedakan antara mengekspresikan diri dan mencari simpati. 

Jika Anda merasa ingin diperhatikan, pastikan itu muncul dari niat yang tulus, bukan dorongan untuk menguasai suasana.

5. Cemberut dan Mendiamkan Saat Kecewa

Sulit mengungkapkan kekecewaan secara sehat sering kali membuat seseorang memilih untuk cemberut atau mendiamkan orang lain. 

Sikap pasif-agresif ini bisa menciptakan kebingungan dan kerenggangan dalam hubungan, baik di lingkungan pribadi maupun profesional.

Psikolog menjelaskan bahwa diam yang penuh kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. 

Justru sebaliknya, hal ini membuat komunikasi terhambat dan memperburuk suasana. 

Daripada mendiamkan, lebih baik ungkapkan perasaan Anda secara tenang dan terbuka.

Ketika Anda mampu mengenali emosi, menerima kekecewaan, dan mengomunikasikannya dengan bijak, Anda menunjukkan kedewasaan emosional. 

Hal ini akan membawa dampak positif tidak hanya bagi diri Anda sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitar Anda.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho