← Beranda
10 Ucapan Orang Tua Penyebab Anak Tumbuh Jadi Mudah Ragu Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Senin, 27 Juli 2026 | 16.10 WIB
Ucapan orang tua penyebab anak tumbuh jadi mudah ragu menurut psikologi / foto : Magnific/ stockking

JawaPos.com – Psikologi menjelaskan bahwa rasa percaya diri seseorang sangat dipengaruhi oleh cara orang tua berbicara sejak masa kecil.

Anak yang tumbuh dengan dukungan penuh cenderung memiliki keyakinan diri yang lebih kuat saat dewasa.

Sebaliknya, sejumlah ucapan tertentu dari orang tua justru dapat menggerus kepercayaan diri anak secara perlahan.

Dilansir dari laman YourTango pada Senin (27/7), berikut sepuluh kalimat yang sering diucapkan orang tua sehingga membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah ragu.

Baca Juga: Jika Anda Ingin Benar-Benar Berkembang Pesat, Lakukan 6 Trik Pikiran Sederhana untuk Membantu Anda Sukses Menurut Psikologi

1. "Kamu akan mengerti kalau sudah lebih besar"

Kalimat ini sering digunakan untuk menghindari percakapan yang sebenarnya bisa memberi anak sudut pandang baru.

Anak yang dibesarkan dengan kalimat ini tumbuh dengan ekspektasi bahwa pemahaman hanya datang seiring usia.

Rasa ingin tahu yang tidak dihargai justru menumpulkan kemampuan berpikir kritis serta memicu kecemasan pada anak.

Mereka pun tumbuh dengan kebiasaan meragukan diri sendiri karena merasa selalu melakukan sesuatu yang salah.

2. "Kamu pasti akan mengacaukannya"

Menegur anak setiap kali melakukan kesalahan tidak hanya menggerus kepercayaan diri, tetapi juga menghilangkan kesempatan belajar.

Anak yang selalu diingatkan akan berbuat salah tumbuh dengan rasa tidak aman saat menghadapi hal baru.

Mereka cenderung menghindari sesuatu yang belum dipahami karena terbiasa dianggap pasti akan gagal melakukannya.

Padahal melakukan kesalahan tidak selalu berarti seorang anak telah melakukan sesuatu yang buruk.

3. "Jangan bikin aku malu"

Anak yang tumbuh dengan rasa takut terhadap hal baru cenderung merasa terjebak dan sulit berkembang.

Rasa ingin tahu yang seharusnya membantu proses belajar justru menjadi teredam akibat rasa takut tersebut.

Orang tua yang mengajarkan anak menerima ketidaktahuan cenderung membesarkan anak yang terbuka dan cerdas.

Sebaliknya, kalimat seperti ini justru membentuk anak yang tumbuh menjadi pribadi penuh kecemasan.

4. "Sudah kubilang kan"

Anak yang tumbuh dengan rasa takut mengecewakan orang lain sering membawa perasaan itu hingga dewasa.

Mereka lebih memilih zona nyaman dibanding mencoba hal baru karena takut dianggap gagal lagi.

Kalimat ini membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang selalu mencari persetujuan dari orang lain.

Mereka menjadi tidak nyaman mengambil keputusan sendiri karena terbiasa dikritik sejak usia yang masih rentan.

5. "Coba lihat bagaimana yang lain melakukannya"

Anak yang dibiasakan membandingkan diri dengan orang lain sejak kecil kesulitan mengembangkan pemikiran mandiri di kemudian hari.

Mereka terbiasa memperhatikan pendapat orang lain hingga akhirnya mengesampingkan pandangan pribadinya sendiri.

Kesempatan untuk berpikir sendiri dan mewujudkan idenya menjadi hilang akibat kebiasaan tersebut sejak kecil.

Kalimat semacam ini memicu rasa tidak aman dibanding menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.

6. "Kamu sebenarnya tidak bermaksud begitu"

Kalimat seperti ini membuat anak meragukan emosi dan minat yang sebenarnya murni dirasakannya sendiri.

Anak yang dibesarkan dengan orang tua yang sering meredam rasa ingin tahunya belajar untuk menekan perasaannya.

Terkadang perubahan sudut pandang memang diperlukan agar anak dapat mengembangkan kesadaran diri yang lebih baik.

Namun jika terus-menerus diucapkan, kalimat ini membuat anak tumbuh menjadi orang dewasa yang meragukan setiap tindakannya.

7. "Karena aku bilang begitu"

Tanpa kesempatan berpikir dan berbicara secara mandiri, anak tumbuh menjadi dewasa yang terus meragukan dirinya sendiri.

Mereka tidak memiliki ruang untuk belajar menyelesaikan konflik atau memahami alasan di balik sebuah keputusan.

Anak yang dibesarkan dengan kepatuhan buta semacam ini tumbuh menjadi dewasa yang bergantung pada orang lain.

Mereka juga cenderung mengandalkan orang lain untuk menetapkan batasan dan memperbaiki perilakunya sendiri.

8. "Biar aku periksa dulu"

Dibesarkan oleh orang tua yang tidak pernah percaya membuat anak kesulitan mempercayai dirinya sendiri saat dewasa.

Mereka selalu merasa cemas terhadap pandangan orang lain karena terbiasa dianggap tidak mampu menangani sesuatu sendiri.

Kalimat semacam ini kerap diucapkan orang tua tanpa menyadari dampak jangka panjang yang ditimbulkannya.

Kebiasaan ini membentuk pola pikir anak yang selalu meragukan kemampuannya sendiri hingga dewasa.

9. "Kamu pasti lupa sesuatu"

Kalimat semacam ini perlahan menggerus rasa percaya diri anak dan membuatnya merasa tidak cukup baik.

Anak tumbuh dengan keyakinan keliru bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa pun dengan benar tanpa pengawasan.

Kondisi ini menjadi dasar rasa tidak aman yang terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Kebiasaan meragukan diri sendiri serta terus mencari validasi orang lain pun berkembang dari pola ini.

10. "Kakak atau adikmu pasti sudah bisa"

Membandingkan anak dengan saudaranya menjadi salah satu cara termudah untuk menumbuhkan rasa tidak aman pada anak.

Anak yang dibesarkan dengan perbandingan semacam ini cenderung memiliki hubungan yang kurang baik dengan saudaranya.

Mereka tumbuh dengan rasa kecewa sekaligus terus terdorong untuk bersaing dengan orang lain di sekitarnya.

Meski memiliki kemampuan untuk berhasil sendiri, mereka tetap mencari validasi dari orang lain akibat pola ini.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho