← Beranda
7 Kebiasaan yang Bisa Terbentuk dari Pola Asuh Keluarga yang Minim Kasih Sayang
Mohammad Maulana IqbalMinggu, 26 Juli 2026 | 06.18 WIB
ciri perilaku orang yang dibesarkan di keluarga dingin dan berjarak menurut Psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com - Lingkungan keluarga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan emosi dan cara seseorang berhubungan dengan orang lain. Pola komunikasi, perhatian, serta kedekatan emosional dalam keluarga dapat membentuk cara seseorang memahami dirinya dan lingkungan sekitar.

Menurut psikologi, seseorang yang tumbuh dalam keluarga dengan suasana dingin atau minim ekspresi kasih sayang dapat mengembangkan pola perilaku tertentu ketika beranjak dewasa. Hal tersebut sering kali menjadi cara mereka beradaptasi dengan pengalaman masa kecil yang pernah dialami.

Kurangnya kehangatan emosional dalam keluarga tidak selalu berarti seseorang akan memiliki masalah dalam kehidupannya. Namun, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang mengelola perasaan, membangun hubungan, serta merespons situasi sosial.

Memahami pola perilaku yang muncul akibat lingkungan keluarga dapat membantu seseorang lebih mengenali dirinya sendiri dan membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Orang yang Sering Mengantuk Saat Hujan Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini

Dilansir dari Geediting.com, berikut tujuh ciri perilaku yang sering dikaitkan dengan orang yang tumbuh dalam keluarga dingin dan berjarak menurut perspektif psikologi.

1. Selalu mencari pengakuan dari orang lain

Individu yang tumbuh dalam lingkungan kurang hangat memiliki kecenderungan kuat untuk mencari validasi dari orang di sekitarnya.

Kondisi ini terjadi karena mereka tidak mendapatkan cukup pujian atau pengakuan selama masa kecil mereka.

Mereka cenderung menjadi sosok yang selalu ingin menyenangkan orang lain dan berusaha keras memenuhi ekspektasi yang ada.

Sensitivitas tinggi terhadap kritik dan penolakan menjadi ciri khas mereka, karena setiap interaksi dianggap sebagai kesempatan untuk mendapatkan persetujuan yang hilang sejak kecil.

Mereka sering melakukan upaya berlebihan, bahkan sampai merugikan diri sendiri, hanya untuk merasa diterima dan dihargai.

Memahami pola ini membantu kita berinteraksi dengan lebih penuh kasih sayang terhadap mereka, daripada menilai mereka sebagai sosok yang terlalu membutuhkan atau bergantung.

2. Kesulitan mengekspresikan emosi

Orang yang dibesarkan dalam rumah tangga yang kurang memberikan kehangatan emosional seringkali mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan mereka.

Pola ini terbentuk sebagai mekanisme bertahan hidup untuk menghindari perhatian berlebihan atau menciptakan tekanan tambahan.

Bahkan ketika berada dalam lingkungan yang mendukung, mereka tetap merasa lebih aman untuk menyimpan perasaan daripada membagikannya.

Kurangnya kehangatan dan kasih sayang emosional selama masa kecil menyebabkan mereka sulit mengenali dan memproses emosi dengan baik.

Mereka cenderung menghindari berbagi perasaan dengan orang lain karena takut akan penilaian atau kesalahpahaman.

Mengenali pola ini memberikan wawasan penting tentang mengapa seseorang mungkin kesulitan mengekspresikan emosi secara efektif.

3. Memiliki daya tahan yang tinggi

Lingkungan yang kurang hangat selama masa kecil justru sering menghasilkan individu dengan ketahanan mental yang luar biasa.

Hal ini terjadi karena mereka harus beradaptasi dan mengatasi situasi menantang sejak usia dini.

Mereka menunjukkan ketekunan dan kekuatan yang signifikan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Kemampuan mengandalkan diri sendiri membuat mereka menjadi sosok yang sangat mandiri dan independen.

Namun di sisi lain, ketahanan ini juga membuat mereka kesulitan meminta bantuan ketika benar-benar membutuhkannya.

Kondisi ini berakar dari pengalaman masa kecil di mana mencari bantuan mungkin direspons dengan pengabaian atau ketidakpedulian.

4. Lebih suka menyendiri

Individu yang tumbuh dalam rumah tangga kurang hangat seringkali mengembangkan preferensi untuk menghabiskan waktu sendirian.

Mereka belajar menemukan kenyamanan dalam kesendirian karena hal tersebut menjadi ruang aman yang bebas dari penilaian atau kekecewaan.

Sebagai orang dewasa, mereka cenderung tertarik pada aktivitas dan hobi yang bisa dilakukan sendiri.

Mereka juga biasanya memiliki lingkaran sosial yang lebih kecil, lebih menghargai beberapa hubungan dekat daripada jaringan pertemanan yang luas.

Preferensi untuk menyendiri ini tidak selalu negatif karena dapat meningkatkan kesadaran diri dan introspeksi.

Namun penting untuk memahami bahwa kecenderungan ini seringkali merupakan mekanisme koping yang berkembang akibat pengalaman masa kecil mereka.

5. Sulit mempercayai orang lain

Membangun kepercayaan bukanlah hal yang mudah bagi mereka yang dibesarkan dalam lingkungan kurang hangat.

Membentuk hubungan dekat menjadi tantangan karena hal tersebut melibatkan keterbukaan dan risiko mengalami penolakan atau kekecewaan.

Mereka belajar sejak dini bahwa orang-orang yang seharusnya paling bisa diandalkan ternyata bisa mengecewakan.

Sebagai orang dewasa, mereka membawa ketakutan akan pengkhianatan ke dalam hubungan mereka, seringkali mengharapkan yang terburuk meskipun tidak ada alasan untuk itu.

Kecurigaan ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk membangun koneksi yang bermakna dengan orang lain.

Memahami pola ini merupakan langkah awal untuk mengatasi masalah dan membangun hubungan yang lebih penuh makna dan saling percaya.

6. Sangat peka terhadap perasaan orang lain

Mereka yang dibesarkan dalam lingkungan kurang hangat seringkali mengembangkan kepekaan yang sangat tinggi terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

Hipersensitivitas ini biasanya merupakan hasil dari upaya mengantisipasi suasana hati dan reaksi pengasuh mereka untuk menghindari konflik atau mendapatkan persetujuan.

Sebagai orang dewasa, kepekaan yang tinggi ini dapat membuat mereka menjadi teman atau pasangan yang luar biasa karena sangat perhatian dan penuh pertimbangan.

Namun di sisi lain, kondisi ini juga dapat menguras emosi mereka karena seringkali menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan mereka sendiri.

Mereka cenderung menjadi pengamat yang sangat baik terhadap sinyal-sinyal emosional dan perubahan suasana hati orang di sekitar mereka.

Mengenali pola ini dapat membantu mereka menemukan keseimbangan antara peduli terhadap orang lain dan merawat kebutuhan diri sendiri.

7. Takut ditinggalkan

Ketakutan paling mendasar yang dialami oleh mereka yang dibesarkan dalam lingkungan kurang hangat adalah rasa takut akan ditinggalkan.

Ketakutan ini muncul dari pengabaian emosional yang dialami selama tahun-tahun formatif mereka, menciptakan kekhawatiran seumur hidup tentang kemungkinan ditinggalkan atau ditolak.

Sebagai orang dewasa, ketakutan ini dapat termanifestasi dalam berbagai cara, termasuk sikap posesif, cemburu, atau bahkan merusak hubungan secara sengaja.

Mereka mungkin menjadi sangat bergantung pada pasangan atau teman dekat karena takut kehilangan mereka.

Terkadang mereka justru melakukan sabotase terhadap hubungan yang baik karena tidak percaya bahwa mereka layak mendapatkan cinta yang konsisten.

Memahami dan mengatasi ketakutan ini sangat penting karena dapat sangat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk membentuk hubungan yang sehat dan stabil.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho