← Beranda
Menurut Psikologi, Orang yang Menggunakan Kata-Kata Besar agar Terdengar Lebih Pintar Biasanya Menunjukkan 7 Sifat Unik
Irfan Ferdiansyah• Minggu, 26 Juli 2026 | 03.47 WIB
seseorang yang sering menggunakan kata-kata besar./Freepik.

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti pernah bertemu dengan seseorang yang suka menggunakan kata-kata besar, istilah teknis, atau bahasa yang terdengar rumit, seolah-olah ingin menunjukkan tingkat intelektualitas yang tinggi. 

Meskipun hal tersebut kadang dianggap sebagai tanda kecerdasan, psikologi justru mengungkap bahwa kebiasaan ini bisa menjadi petunjuk terhadap kepribadian dan motivasi tertentu. 

Di balik kebiasaan memakai kata-kata besar, terdapat sifat-sifat unik yang sering kali tersembunyi namun dapat dikenali jika diamati dengan saksama.

Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh sifat unik yang biasanya ditunjukkan oleh orang yang suka menggunakan kata-kata besar agar terdengar lebih pintar menurut kajian psikologi:

1. Kebutuhan Akan Pengakuan

Orang yang kerap menggunakan istilah-istilah rumit sering kali memiliki kebutuhan kuat untuk diakui secara intelektual oleh orang lain. 

Mereka merasa bahwa dengan menggunakan kata-kata yang tidak umum, mereka akan lebih dihargai, dihormati, atau bahkan dianggap lebih superior. 

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk impression management, yaitu usaha sadar atau tidak sadar untuk membentuk citra diri tertentu di hadapan orang lain.

2. Kurangnya Kepercayaan Diri yang Tersembunyi

Ironisnya, penggunaan kata-kata besar bisa menjadi kompensasi atas rasa tidak percaya diri. 

Meskipun dari luar tampak percaya diri dan pintar, beberapa orang menggunakan bahasa rumit karena mereka takut dianggap bodoh jika berbicara terlalu sederhana. 

Menurut teori inferiority complex dari Alfred Adler, individu yang merasa rendah diri sering menutupi kelemahan itu dengan menunjukkan kekuatan secara berlebihan, termasuk melalui kata-kata.

3. Kecenderungan Perfeksionistik

Orang yang perfeksionis sering kali ingin terlihat “sempurna” dalam segala hal, termasuk dalam berkomunikasi. 

Mereka merasa bahwa menggunakan istilah ilmiah atau akademik menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap suatu topik.

Bahkan dalam situasi biasa pun, mereka bisa menyisipkan istilah teknis untuk menjaga kesan intelektualitas yang konsisten.

4. Gaya Komunikasi yang Dominan

Penggunaan kata-kata besar juga bisa menjadi bentuk dominasi dalam percakapan. 

Individu seperti ini mungkin ingin “mengendalikan” arah diskusi atau menunjukkan bahwa dirinya lebih berpengetahuan daripada orang lain. 

Ini berkaitan dengan konsep verbal dominance, di mana seseorang berusaha menjadi tokoh utama dalam komunikasi dengan membingungkan lawan bicara melalui pilihan kata yang tidak umum.

5. Sensitivitas terhadap Penilaian Sosial

Menurut psikologi sosial, orang yang terlalu peduli dengan bagaimana mereka dilihat oleh lingkungan cenderung berusaha keras untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Salah satu caranya adalah dengan memperlihatkan bahwa mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dan penggunaan kata-kata besar menjadi alat untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka patut dihormati atau ditiru.

6. Rasa Ingin Dihargai Secara Intelektual Lebih Besar daripada Rasa Ingin Dipahami

Banyak dari orang-orang ini lebih peduli pada bagaimana mereka terdengar daripada apakah pesan mereka dipahami. 

Mereka bisa berbicara panjang lebar dengan istilah akademik, tapi tidak peduli jika lawan bicaranya bingung. 

Ini menandakan bahwa motivasi utama mereka adalah dihargai sebagai sosok yang “pintar,” bukan membangun komunikasi yang efektif dan jelas.

7. Kecenderungan untuk Terlalu Mengandalkan Simbolisme

Penggunaan kata-kata besar juga bisa mencerminkan sifat simbolik yang tinggi, di mana seseorang memberi makna besar pada hal-hal yang bersifat simbolik, seperti gelar, status sosial, atau kata-kata intelektual. 

Mereka menganggap bahwa menggunakan bahasa yang tinggi akan menaikkan derajat sosial mereka di mata orang lain.

Ini juga sejalan dengan teori symbolic self-completion, di mana individu mencoba menyelesaikan citra diri mereka melalui simbol-simbol eksternal.

Penutup: Apakah Selalu Negatif?

Perlu ditegaskan bahwa menggunakan kata-kata besar tidak selalu merupakan hal yang buruk. 

Dalam konteks profesional atau akademik, tentu saja penggunaan istilah teknis atau formal bisa sangat tepat dan diperlukan. 

Namun, jika hal tersebut dilakukan semata-mata untuk terlihat lebih pintar, dan tanpa memperhatikan lawan bicara atau efektivitas komunikasi, maka itu bisa menjadi hambatan dalam hubungan sosial dan profesional.

Komunikasi yang baik bukan soal seberapa rumit kata yang digunakan, tetapi seberapa efektif pesan bisa dipahami dan diterima oleh orang lain. 

Dalam banyak kasus, justru kesederhanaan dalam menyampaikan ide adalah tanda sejati dari kecerdasan yang matang.

Jika Anda mengenali salah satu dari tujuh sifat ini dalam diri sendiri atau orang di sekitar Anda, tak perlu langsung menghakimi. 

Kesadaran akan motivasi di balik komunikasi adalah langkah awal untuk menjadi komunikator yang lebih baik—dan pribadi yang lebih autentik.

EDITOR: Hanny Suwindari