JawaPos.com - Ada orang yang ketika menghadapi masalah langsung menghubungi teman, keluarga, atau orang yang lebih berpengalaman. Namun, ada pula yang memilih membuka mesin pencari, membaca berbagai referensi, lalu mencari jalan keluar sendiri tanpa meminta bantuan siapa pun.
Sekilas, kebiasaan tersebut terlihat sebagai tanda kemandirian yang luar biasa. Mereka sering dianggap tangguh, mandiri, cerdas, dan mampu menghadapi situasi sulit tanpa bergantung pada orang lain. Padahal, di balik kemampuan itu bisa tersimpan proses psikologis yang jauh lebih kompleks.
Dalam psikologi, kebiasaan selalu mengatasi persoalan sendirian tidak selalu lahir dari kepribadian. Pada sebagian orang, pola tersebut berkembang sebagai bentuk adaptasi terhadap pengalaman hidup sejak usia dini yang membuat mereka terbiasa mengandalkan diri sendiri.
Dilansir dari YouTube Psychology Simplified, Senin (20/7), kebiasaan menyelesaikan masalah seorang diri dapat berakar pada pola keterikatan (attachment) yang terbentuk sejak kecil.
Teori ini menjelaskan mengapa sebagian orang merasa lebih nyaman mencari solusi sendiri daripada meminta pertolongan, bahkan ketika bantuan sebenarnya tersedia. Simak penjelasannya berikut ini:
1. Terbiasa Mengandalkan Diri Sendiri sejak Kecil
Psikolog John Bowlby, pelopor teori attachment, memperkenalkan konsep compulsive self-reliance atau kecenderungan mengandalkan diri sendiri secara berlebihan. Pola ini muncul ketika seseorang berulang kali belajar bahwa meminta bantuan tidak selalu menghasilkan dukungan yang diharapkan.
Lingkungan masa kecil yang tidak konsisten, seperti pengasuh yang kadang hangat tetapi di lain waktu sulit dijangkau secara emosional, dapat membentuk respons tersebut.
Akibatnya, otak belajar memproses kesulitan secara internal daripada menyalurkannya kepada orang lain. Seiring waktu, kebiasaan ini menjadi otomatis hingga terbawa ke masa dewasa tanpa lagi disadari.
2. Terbiasa Memikirkan Semuanya Sendiri
Orang dengan pola ini umumnya memiliki aktivitas metakognitif yang tinggi, yaitu kebiasaan terus-menerus memikirkan cara mereka berpikir. Mereka tidak hanya bereaksi terhadap masalah, tetapi juga menganalisis setiap emosi, keputusan, dan kemungkinan yang terjadi.
Akibatnya, sebelum berbicara kepada orang lain, mereka sudah berkali-kali "berdiskusi" dengan diri sendiri. Ketika akhirnya ingin berbagi cerita, mereka justru merasa sulit menjelaskan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Bukan karena tidak percaya kepada orang lain, melainkan karena proses berpikir mereka sudah terlalu kompleks untuk diungkapkan dengan kata-kata sederhana.
Baca Juga: Psikologi Ungkap 6 Tanda Kesehatan Mental Kamu Sedang Terganggu
3. Sulit Meminta Bantuan Meski Sangat Membutuhkannya
Kebiasaan mengatasi semuanya sendiri lama-kelamaan dapat berubah menjadi identitas. Mereka mulai percaya bahwa dirinya memang harus mampu menghadapi semua persoalan tanpa bantuan siapa pun.
Di titik ini, menerima pertolongan terasa bertentangan dengan cara mereka memandang diri sendiri. Meminta bantuan bukan lagi sekadar pilihan, tetapi terasa seperti kehilangan sebagian dari jati diri.
Inilah sebabnya banyak orang tampak sangat mandiri dari luar, tetapi diam-diam memikul beban emosional seorang diri.
4. Tetap Hangat pada Orang Lain, tetapi Ada Jarak yang Sulit Dijelaskan
Orang dengan pola ini bukan berarti tidak peduli terhadap orang lain. Sebaliknya, mereka sering kali memiliki kepedulian yang besar dan hubungan yang hangat.
Namun, mereka cenderung kesulitan membuka lapisan terdalam dari dirinya. Orang-orang terdekat pun kerap merasakan seolah ada "jarak tak terlihat" yang membuat kedekatan emosional tidak pernah benar-benar utuh.
Menariknya, mereka sendiri biasanya menyadari adanya jarak tersebut, tetapi tidak tahu bagaimana cara menghilangkannya.
5. Kemandirian Tetap Berharga, tetapi Tidak Harus Selalu Dijalani Sendiri
Psychology Simplified menekankan bahwa kemampuan menghadapi kesulitan secara mandiri bukanlah sesuatu yang buruk. Justru, kemampuan bertahan ketika menghadapi tekanan merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua orang.
Yang perlu dipahami adalah apakah kemandirian itu benar-benar merupakan pilihan saat ini, atau hanya mekanisme bertahan hidup yang terbentuk pada masa lalu dan terus berjalan secara otomatis.
Mekanisme perlindungan tersebut pernah membantu seseorang bertahan. Namun, bukan berarti pola itu harus dipertahankan selamanya apabila lingkungan dan keadaan hidup telah berubah.
Kesimpulannya, selalu menyelesaikan masalah sendiri bukan sekadar ciri kepribadian atau tanda keras kepala. Menurut psikologi, kebiasaan tersebut dapat berakar dari pengalaman masa kecil yang membentuk cara seseorang menghadapi kesulitan.
Kemandirian memang merupakan kekuatan, tetapi membuka ruang bagi orang lain untuk membantu juga dapat menjadi bagian penting dari proses bertumbuh dan membangun hubungan yang lebih sehat.
Baca Juga: 7 Sifat Perempuan Cerdas IQ Tinggi yang Menolak Dimanfaatkan di Tempat Kerja Menurut Psikologi