Dari sudut pandang psikologi, perilaku ini bukan sekadar persoalan kurang disiplin. Otak manusia memang dirancang untuk mencari informasi baru, hadiah (reward), dan rangsangan yang menarik. Ketika media sosial memanfaatkan mekanisme tersebut secara terus-menerus, perilaku scrolling dapat berkembang menjadi kebiasaan yang mengganggu kesehatan mental, produktivitas, bahkan hubungan sosial.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (17/7), terdapat delapan alasan mengapa perilaku scroll media sosial semakin menjadi masalah menurut ilmu psikologi.
1. Sistem Reward Otak Terus Distimulasi
Salah satu alasan utama seseorang sulit berhenti scrolling adalah karena media sosial mengaktifkan sistem penghargaan (reward system) di otak.
Setiap kali menemukan video lucu, komentar menarik, atau mendapatkan notifikasi baru, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan antisipasi terhadap hadiah.
Yang membuatnya semakin adiktif adalah hadiah tersebut tidak datang secara pasti. Kadang kontennya membosankan, tetapi tiba-tiba muncul video yang sangat menarik. Pola hadiah yang tidak menentu ini dikenal dalam psikologi sebagai variable reward, mekanisme yang juga ditemukan pada mesin judi.
Akibatnya, pengguna terus berpikir:
"Mungkin video berikutnya lebih menarik."
Inilah yang membuat seseorang terus menggeser layar tanpa tujuan yang jelas.
2. Scroll Tanpa Henti Membentuk Kebiasaan Otomatis
Dalam psikologi perilaku, kebiasaan terbentuk melalui siklus:
Pemicu (cue)
Perilaku (routine)
Hadiah (reward)
Misalnya:
Bosan → buka Instagram
Menunggu kendaraan → buka TikTok
Sebelum tidur → buka media sosial
Lama-kelamaan otak tidak lagi membutuhkan keputusan sadar. Jari secara otomatis membuka aplikasi ketika muncul sedikit rasa bosan.
Inilah yang disebut sebagai automatic behavior.
Semakin sering perilaku diulang, semakin kuat jalur kebiasaan tersebut sehingga seseorang merasa "refleks" membuka media sosial tanpa benar-benar berniat melakukannya.
3. Perhatian Menjadi Semakin Pendek
Media sosial modern didominasi oleh video berdurasi 10–60 detik.
Setiap beberapa detik pengguna menerima:
informasi baru,
gambar baru,
suara baru,
emosi baru.
Akibatnya, otak terbiasa menerima stimulasi yang cepat.
Dalam psikologi kognitif, kondisi ini dapat mengurangi kemampuan sustained attention, yaitu kemampuan mempertahankan fokus pada satu tugas dalam waktu lama.
Dampaknya antara lain:
sulit membaca buku,
cepat bosan saat belajar,
tidak sabar menonton video panjang,
sering berpindah pekerjaan sebelum selesai.
Otak akhirnya lebih menyukai hiburan instan dibanding aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam.
4. Terjadi Perbandingan Sosial yang Berlebihan
Menurut Social Comparison Theory yang dikembangkan Leon Festinger, manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.
Media sosial memperbesar kecenderungan tersebut.
Yang terlihat di layar biasanya adalah:
liburan terbaik,
pencapaian terbesar,
wajah paling menarik,
hubungan paling romantis,
kesuksesan finansial.
Padahal yang tidak terlihat adalah:
kegagalan,
stres,
konflik,
kesepian,
proses panjang di balik pencapaian tersebut.
Ketika seseorang terus membandingkan kehidupan nyata dengan "versi terbaik" kehidupan orang lain, muncul berbagai perasaan negatif seperti:
minder,
iri,
tidak puas,
merasa tertinggal,
harga diri menurun.
5. Doomscrolling Meningkatkan Kecemasan
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif atau konten yang memicu kecemasan.
Secara psikologis, manusia memiliki negativity bias, yaitu kecenderungan memberi perhatian lebih besar pada informasi negatif dibanding informasi positif.
Karena itulah berita seperti:
bencana,
kriminalitas,
konflik,
krisis ekonomi,
penyakit,
lebih mudah menarik perhatian.
Semakin lama seseorang mengonsumsi konten semacam ini, semakin tinggi kemungkinan muncul:
rasa cemas,
takut,
stres,
kelelahan mental.
Ironisnya, meskipun membuat tidak nyaman, otak justru terdorong mencari lebih banyak informasi sebagai bentuk usaha mendapatkan rasa aman.
6. Mengganggu Kualitas Tidur
Banyak orang mengakhiri hari dengan scrolling di tempat tidur.
Dari perspektif psikologi dan ilmu tidur, kebiasaan ini bermasalah karena:
otak tetap aktif menerima stimulasi,
muncul rasa penasaran terhadap konten berikutnya,
emosi menjadi naik turun,
sulit memasuki kondisi relaksasi.
Ditambah paparan cahaya layar pada malam hari yang dapat mengganggu ritme biologis, seseorang menjadi lebih sulit mengantuk.
Kurang tidur kemudian berdampak pada:
emosi yang lebih tidak stabil,
konsentrasi menurun,
produktivitas berkurang,
kemampuan mengendalikan impuls ikut melemah.
Akibatnya, keesokan harinya seseorang justru semakin mudah kembali melakukan scrolling berlebihan.
7. Menurunkan Produktivitas Melalui Pergantian Fokus
Setiap kali seseorang membuka media sosial "sebentar saja", sebenarnya terjadi perpindahan perhatian.
Dalam psikologi dikenal istilah attention residue, yaitu sisa perhatian yang masih tertinggal pada aktivitas sebelumnya.
Misalnya:
Sedang mengerjakan laporan → membuka TikTok lima menit → kembali bekerja.
Meskipun sudah kembali bekerja, sebagian perhatian masih tertinggal pada video yang baru ditonton.
Akibatnya:
berpikir menjadi lebih lambat,
lebih sering melakukan kesalahan,
sulit masuk ke kondisi deep work,
pekerjaan membutuhkan waktu lebih lama.
Karena hal ini terjadi berkali-kali setiap hari, total produktivitas dapat menurun secara signifikan.
8. Memenuhi Kebutuhan Emosional Secara Instan
Banyak orang tidak membuka media sosial karena benar-benar membutuhkan informasi.
Mereka membukanya ketika merasa:
bosan,
sedih,
kesepian,
cemas,
lelah,
tidak nyaman.
Media sosial kemudian menjadi alat pelarian emosi (emotional avoidance).
Masalahnya, emosi tersebut tidak benar-benar diselesaikan.
Setelah aplikasi ditutup, rasa bosan atau cemas sering kali tetap ada.
Dalam jangka panjang, seseorang menjadi semakin bergantung pada stimulasi digital untuk mengatur emosinya, sehingga kemampuan menghadapi ketidaknyamanan secara sehat—misalnya dengan berbicara kepada orang lain, berolahraga, atau beristirahat—dapat berkurang.
Bagaimana Mengurangi Kebiasaan Scroll Berlebihan?
Psikologi menyarankan bahwa perubahan kecil yang konsisten lebih efektif daripada larangan total. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menetapkan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari.
Mematikan notifikasi yang tidak penting.
Menghapus aplikasi dari layar utama agar tidak mudah dibuka secara refleks.
Menghindari penggunaan media sosial satu jam sebelum tidur.
Mengganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas alternatif seperti membaca, berjalan kaki, atau berbincang dengan keluarga.
Melakukan evaluasi diri: apakah membuka media sosial karena kebutuhan atau sekadar menghindari rasa bosan.
Penutup
Media sosial pada dasarnya bukanlah sesuatu yang buruk. Platform digital memungkinkan orang terhubung, belajar hal baru, memperoleh hiburan, bahkan membangun karier. Namun, desain media sosial yang memanfaatkan mekanisme psikologis seperti sistem penghargaan, kebiasaan otomatis, dan rasa ingin tahu dapat membuat aktivitas scrolling berubah menjadi perilaku yang sulit dikendalikan.