← Beranda
5 Nilai yang Kerap Dipandang Sebelah Mata yang Justru Mengurangi Kecemasan Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 16 Juli 2026 | 21.31 WIB
Ilustrasi seseorang yang berusaha mengurangi kecemasan (Magnific/Stockking)

 

JawaPos.com - Di era modern, banyak orang berlomba mengejar kesuksesan, pengakuan, dan produktivitas. Ironisnya, semakin banyak pencapaian yang diraih, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dirasakan. Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa kecemasan tidak selalu muncul karena kurangnya kemampuan seseorang, tetapi sering kali berasal dari cara seseorang memandang hidup, dirinya sendiri, dan nilai-nilai yang ia pegang.

Menariknya, ada beberapa nilai kehidupan yang sering dianggap "biasa saja", kuno, bahkan kurang penting. Nilai-nilai ini jarang menjadi bahan pembicaraan di media sosial karena tidak terlihat spektakuler. Padahal, psikologi justru menemukan bahwa nilai-nilai tersebut mampu menjadi pelindung mental yang efektif dalam menghadapi tekanan hidup.

Dilansir dari Kamis (16/7), terdapat lima nilai yang sering dipandang sebelah mata, tetapi terbukti membantu mengurangi kecemasan menurut berbagai teori dan penelitian psikologi.

Baca Juga: 8 Alasan Mengapa Kerja Jarak Jauh Lebih Merugikan Karier Awal Dibandingkan dengan Kemunculan AI Menurut Psikologi

1. Rasa Syukur (Gratitude)

Banyak orang menganggap bersyukur hanyalah nasihat moral atau ajaran agama. Padahal dalam psikologi positif, rasa syukur merupakan salah satu faktor yang paling konsisten dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik.

Ketika seseorang membiasakan diri menghargai apa yang dimiliki, otak mulai mengalihkan fokus dari ancaman menuju hal-hal yang memberikan rasa aman. Proses ini membantu menurunkan aktivitas pikiran negatif yang sering menjadi pemicu kecemasan.

Penelitian menunjukkan bahwa praktik menulis jurnal syukur selama beberapa minggu dapat meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, dan membuat seseorang lebih optimis menghadapi masa depan.

Bersyukur bukan berarti mengabaikan masalah. Sebaliknya, rasa syukur membantu seseorang melihat bahwa hidup tidak sepenuhnya buruk, sehingga kecemasan tidak menguasai seluruh pikirannya.

Cara melatih rasa syukur:

Menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap malam.
Mengucapkan terima kasih kepada orang lain secara tulus.
Mengingat kembali pengalaman baik setiap kali merasa cemas.

2. Menerima Ketidaksempurnaan (Self-Acceptance)

Banyak orang percaya bahwa mereka baru akan bahagia jika menjadi sempurna. Akibatnya, setiap kesalahan kecil terasa seperti ancaman besar.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai maladaptive perfectionism, yaitu perfeksionisme yang justru meningkatkan kecemasan.

Sebaliknya, penerimaan diri (self-acceptance) mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Orang yang mampu menerima dirinya tidak lagi menghabiskan energi untuk mengejar standar yang tidak realistis.

Penerimaan diri bukan berarti berhenti berkembang. Nilai ini justru membuat seseorang berkembang dengan lebih sehat karena motivasinya berasal dari keinginan belajar, bukan rasa takut gagal.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat penerimaan diri yang tinggi memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah dan kemampuan mengatasi tekanan yang lebih baik.

Cara melatih penerimaan diri:

Menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Mengakui kesalahan tanpa menyalahkan diri secara berlebihan.
Menggunakan bahasa yang lebih lembut saat berbicara kepada diri sendiri.

3. Kesabaran

Kesabaran sering dianggap sebagai sikap pasif atau tanda kelemahan. Padahal dalam psikologi, kesabaran merupakan kemampuan mengatur emosi ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.

Orang yang sabar tidak berarti diam tanpa tindakan. Mereka mampu menunda reaksi impulsif dan memilih respons yang lebih rasional.

Kecemasan sering muncul karena seseorang ingin semua masalah segera selesai. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.

Kesabaran membantu otak memberikan ruang sebelum bereaksi. Dengan demikian, sistem saraf tidak terus-menerus berada dalam kondisi siaga.

Dalam terapi perilaku kognitif, kemampuan mentoleransi ketidakpastian juga dianggap sebagai salah satu keterampilan penting untuk mengurangi gangguan kecemasan.

Cara melatih kesabaran:

Mengambil jeda beberapa detik sebelum merespons situasi emosional.
Melatih pernapasan perlahan saat mulai merasa gelisah.
Memahami bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan.

Baca Juga: 8 Alasan Mengapa Anda Harus Melakukan Hal yang Menurutmu Tidak Bisa Kamu Lakukan Menurut Psikologi

4. Kerendahan Hati (Humility)

Di tengah budaya yang mendorong seseorang untuk selalu tampil hebat, rendah hati sering dianggap kurang menarik.

Padahal penelitian psikologi menemukan bahwa orang yang rendah hati cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat dan tingkat stres yang lebih rendah.

Kerendahan hati membuat seseorang tidak merasa harus selalu benar, selalu unggul, atau selalu mendapatkan pengakuan.

Sebaliknya, orang yang terus mengejar validasi eksternal lebih mudah mengalami kecemasan karena harga dirinya bergantung pada penilaian orang lain.

Orang yang rendah hati lebih mudah menerima kritik sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai ancaman terhadap identitasnya.

Nilai ini juga membantu seseorang membangun empati sehingga hubungan interpersonal menjadi lebih kuat. Dukungan sosial sendiri merupakan salah satu faktor pelindung terbesar terhadap kecemasan.

Cara melatih kerendahan hati:

Bersedia mengakui ketika melakukan kesalahan.
Mendengarkan pendapat orang lain tanpa langsung membantah.
Menghargai kontribusi orang lain dalam setiap keberhasilan.

5. Kepedulian kepada Orang Lain (Compassion)

Saat seseorang sedang cemas, pikirannya sering berputar hanya pada dirinya sendiri. Semakin besar fokus terhadap diri, semakin kuat pula rasa khawatir yang muncul.

Psikologi menunjukkan bahwa membantu orang lain dapat mengurangi kecemasan karena perhatian tidak lagi sepenuhnya terpusat pada masalah pribadi.

Tindakan sederhana seperti mendengarkan teman, menjadi sukarelawan, atau membantu keluarga dapat meningkatkan perasaan bermakna dalam hidup.

Selain itu, perilaku prososial juga dikaitkan dengan meningkatnya hormon oksitosin, yang berperan dalam menciptakan rasa aman dan kedekatan sosial.

Kepedulian kepada orang lain tidak harus berupa tindakan besar. Hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten justru memberikan manfaat psikologis yang signifikan.

Cara melatih kepedulian:

Menawarkan bantuan kepada orang yang membutuhkan.
Menjadi pendengar yang baik bagi teman atau keluarga.
Melakukan satu tindakan kebaikan sederhana setiap hari tanpa mengharapkan balasan.

Mengapa Nilai-Nilai Ini Efektif Menurut Psikologi?

Kelima nilai di atas memiliki kesamaan. Semuanya membantu mengubah cara otak memproses ancaman.

Kecemasan berkembang ketika pikiran terus memprediksi kemungkinan buruk, menuntut kesempurnaan, atau terlalu fokus pada hal-hal yang berada di luar kendali.

Sebaliknya, rasa syukur, penerimaan diri, kesabaran, kerendahan hati, dan kepedulian mengarahkan perhatian pada aspek kehidupan yang lebih realistis dan dapat dikendalikan.

Nilai-nilai tersebut juga memperkuat resiliensi psikologis, yaitu kemampuan untuk bangkit kembali setelah menghadapi tekanan atau kegagalan. Orang yang memiliki resiliensi tinggi bukan berarti tidak pernah cemas, tetapi mereka mampu mengelola kecemasan dengan lebih sehat sehingga tidak mengganggu kehidupan sehari-hari.

Penutup

Dalam kehidupan yang serba cepat, kita sering mengira bahwa solusi untuk mengurangi kecemasan adalah mendapatkan lebih banyak uang, jabatan, atau pengakuan. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa ketenangan batin justru sering tumbuh dari nilai-nilai sederhana yang jarang mendapatkan perhatian.

Rasa syukur membantu kita menghargai apa yang dimiliki. Penerimaan diri mengurangi tekanan untuk menjadi sempurna. Kesabaran membuat kita lebih tenang menghadapi ketidakpastian. Kerendahan hati membebaskan kita dari kebutuhan akan validasi yang berlebihan. Sementara itu, kepedulian kepada orang lain memperluas perspektif sehingga hidup terasa lebih bermakna.

Nilai-nilai ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dipraktikkan secara konsisten, dampaknya terhadap kesehatan mental dapat sangat besar. Kecemasan memang tidak selalu bisa dihilangkan sepenuhnya, namun dengan membangun nilai-nilai tersebut, kita dapat menghadapi kehidupan dengan pikiran yang lebih tenang, hati yang lebih kuat, dan kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai tantangan.

Baca Juga: 5 Film yang Mencerminkan Pergeseran Keyakinan Orang-Orang tentang Kekuatan Psikologi

EDITOR: Candra Mega Sari