← Beranda
5 Kebiasaan Kecil yang Mungkin Membuat Orang Tidak Menyukai Anda, Meskipun Anda Orang yang Baik Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 15 Juli 2026 | 17.59 WIB
seseorang yang tidak disukai oleh teman-temannya./Magnific/cookie_studio

JawaPos.com - Menjadi orang yang baik ternyata tidak selalu membuat kita disukai oleh semua orang. Banyak orang yang memiliki hati tulus, suka membantu, dan tidak pernah berniat menyakiti orang lain, tetapi tetap saja sering dijauhi atau kurang disukai dalam lingkungan sosial.

Hal ini bukan berarti ada yang salah dengan kepribadian mereka. Dalam psikologi, kesan pertama dan hubungan sosial sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang. Kebiasaan ini sering kali tidak disadari, tetapi dapat memengaruhi cara orang lain memandang kita.

Dilansir dari Hack Spirit pada Minggu (12/7), terdapat lima kebiasaan kecil yang mungkin membuat orang tidak menyukai Anda, meskipun sebenarnya Anda adalah pribadi yang baik.

Baca Juga: 9 Frasa yang Digunakan Orang Berkelas untuk Mengakhiri Percakapan dengan Anggun Menurut Psikologi

1. Terlalu Sering Memotong Pembicaraan

Banyak orang memotong pembicaraan bukan karena ingin mendominasi, tetapi karena terlalu antusias. Mereka merasa memiliki pengalaman yang sama atau ingin segera memberikan solusi.

Sayangnya, dari sudut pandang lawan bicara, kebiasaan ini bisa terasa seperti bentuk ketidakhormatan. Orang lain mungkin merasa bahwa pendapat mereka tidak penting atau tidak didengarkan sampai selesai.

Dalam psikologi komunikasi, setiap orang memiliki kebutuhan untuk merasa didengar dan dipahami. Ketika seseorang terus-menerus dipotong, otaknya dapat menafsirkan situasi tersebut sebagai ancaman terhadap harga diri sosial.

Cobalah memberi jeda beberapa detik setelah lawan bicara selesai berbicara sebelum Anda merespons. Kebiasaan sederhana ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan.

2. Jarang Memberikan Kontak Mata

Kontak mata merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang sangat penting. Orang yang terlalu sering menghindari kontak mata kadang dianggap tidak percaya diri, tidak jujur, tidak tertarik, atau bahkan tidak menghargai lawan bicara.

Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Banyak orang menghindari kontak mata karena pemalu, cemas, atau memang tidak terbiasa.

Psikologi menunjukkan bahwa kontak mata yang wajar membantu membangun rasa percaya dan kedekatan emosional. Tidak perlu menatap terus-menerus, cukup lakukan secara alami selama percakapan berlangsung.

Dengan menjaga kontak mata secara nyaman, orang lain akan merasa lebih dihargai dan lebih mudah mempercayai Anda.

3. Terlalu Sering Mengeluh

Semua orang tentu pernah mengeluh. Itu adalah hal yang manusiawi. Namun, jika setiap percakapan selalu dipenuhi keluhan tentang pekerjaan, cuaca, ekonomi, keluarga, atau kehidupan, orang lain bisa merasa kelelahan secara emosional.

Fenomena ini dikenal sebagai emotional contagion, yaitu kecenderungan emosi seseorang menular kepada orang lain. Ketika seseorang terus-menerus menyampaikan energi negatif, orang di sekitarnya juga dapat ikut merasakan suasana hati yang buruk.

Bukan berarti Anda harus selalu berpura-pura bahagia. Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan. Sesekali berbagi cerita memang baik, tetapi berikan juga ruang untuk membahas hal-hal yang menyenangkan, inspiratif, atau penuh harapan.

4. Terlalu Sering Memberikan Nasihat yang Tidak Diminta

Keinginan membantu adalah sifat yang baik. Namun, tidak semua orang yang bercerita sedang meminta solusi.

Sering kali seseorang hanya ingin didengarkan. Ketika kita langsung memberikan nasihat tanpa diminta, lawan bicara bisa merasa bahwa perasaannya diabaikan atau masalahnya dianggap sederhana.

Psikologi konseling menjelaskan bahwa validasi emosi sering kali lebih penting daripada solusi instan. Mendengarkan dengan penuh perhatian dapat membuat seseorang merasa jauh lebih dihargai dibanding menerima daftar saran.

Sebelum memberi masukan, cobalah bertanya, "Kamu ingin didengarkan saja atau ingin aku kasih pendapat?" Pertanyaan sederhana ini dapat membuat komunikasi menjadi jauh lebih nyaman.

5. Terlalu Keras pada Diri Sendiri di Depan Orang Lain

Kebiasaan seperti berkata, "Aku memang bodoh," "Aku selalu gagal," atau "Aku tidak pernah cukup baik," mungkin terdengar sebagai bentuk kerendahan hati.

Namun, jika dilakukan terus-menerus, orang lain bisa merasa tidak nyaman. Mereka mungkin bingung harus merespons seperti apa atau merasa percakapan menjadi berat.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai negative self-talk. Selain berdampak buruk pada kesehatan mental sendiri, kebiasaan tersebut juga memengaruhi suasana interaksi sosial.

Sebaliknya, cobalah berbicara kepada diri sendiri dengan lebih seimbang. Mengakui kesalahan bukan berarti harus merendahkan diri. Orang yang mampu menerima kekurangan tanpa terus-menerus menghakimi dirinya sendiri biasanya lebih mudah membangun hubungan yang sehat.

Mengapa Kebiasaan Kecil Sangat Berpengaruh?

Otak manusia bekerja sangat cepat dalam membentuk kesan terhadap orang lain. Bahkan dalam hitungan detik, seseorang sudah mulai menyusun penilaian berdasarkan bahasa tubuh, nada bicara, ekspresi wajah, hingga pola komunikasi.

Penilaian tersebut belum tentu benar, tetapi sering kali menjadi dasar dalam menentukan apakah seseorang terasa nyaman untuk diajak berinteraksi.

Karena itu, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari justru memiliki dampak yang lebih besar dibanding tindakan besar yang hanya sesekali dilakukan.

Cara Memperbaikinya

Kabar baiknya, semua kebiasaan di atas dapat dilatih. Anda tidak perlu mengubah kepribadian untuk menjadi lebih disukai.

Mulailah dengan mendengarkan lebih banyak daripada berbicara, menjaga kontak mata secara alami, mengurangi kebiasaan mengeluh, bertanya sebelum memberi nasihat, dan belajar berbicara lebih baik kepada diri sendiri.

Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar terhadap kualitas hubungan sosial Anda.

Penutup

Tidak semua orang akan menyukai kita, dan itu adalah hal yang wajar. Namun, memahami bagaimana kebiasaan kecil memengaruhi persepsi orang lain dapat membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dan nyaman.

Menjadi pribadi yang baik tetap merupakan fondasi utama. Namun, ketika kebaikan tersebut didukung oleh komunikasi yang hangat, empati, dan kebiasaan sosial yang positif, peluang untuk diterima dan dihargai oleh orang lain akan semakin besar.

Pada akhirnya, tujuan bukanlah agar disukai semua orang, melainkan menjadi seseorang yang membuat orang lain merasa nyaman, dihargai, dan didengarkan saat berada di dekat kita.

EDITOR: Hanny Suwindari