← Beranda
Pernah Merasa Jatuh Saat Menggunakan Media Sosial? Mulailah Kembangkan 7 Kebiasaan Ini Agar Lebih Cepat Bangkit Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 15 Juli 2026 | 16.55 WIB
seseorang yang merasa jatuh saat menggunakan media sosial./Magnific/Drazen Zigic

JawaPos.com - Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui layar ponsel, kita dapat melihat kehidupan orang lain, berkomunikasi, hingga mencari hiburan. Namun, di balik semua manfaat tersebut, media sosial juga memiliki sisi yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Tidak sedikit orang yang merasa kecewa, minder, sedih, bahkan kehilangan semangat setelah menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial. Melihat pencapaian orang lain, membaca komentar negatif, atau membandingkan diri dengan kehidupan yang tampak sempurna sering kali membuat seseorang merasa "jatuh".

Menurut psikologi, kondisi tersebut merupakan hal yang cukup umum terjadi. Otak manusia secara alami cenderung melakukan perbandingan sosial (social comparison), terutama ketika melihat orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih menarik.

Kabar baiknya, Anda tidak harus terus terjebak dalam perasaan tersebut. Dengan membangun kebiasaan yang tepat, Anda dapat memperkuat ketahanan mental dan lebih cepat bangkit.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (14/7), terdapat tujuh kebiasaan yang direkomendasikan berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Libra dan Scorpio 15 Juli 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan

1. Batasi Waktu Bermain Media Sosial

Psikolog menjelaskan bahwa semakin lama seseorang menghabiskan waktu di media sosial, semakin besar peluang munculnya perbandingan sosial dan kelelahan mental.

Membatasi penggunaan media sosial bukan berarti harus berhenti sepenuhnya. Anda cukup menetapkan waktu tertentu, misalnya 30–60 menit setiap hari, agar pikiran memiliki ruang untuk beristirahat.

Ketika waktu layar berkurang, otak juga memiliki kesempatan untuk kembali fokus pada kehidupan nyata yang sering kali jauh lebih bermakna dibandingkan apa yang terlihat di internet.

2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu penyebab utama seseorang merasa tidak bahagia di media sosial adalah kebiasaan membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial umumnya hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Jarang ada yang mengunggah kegagalan, rasa takut, atau perjuangan yang sebenarnya mereka alami.

Psikologi menyarankan untuk mengubah fokus dari "mengapa hidup mereka lebih baik?" menjadi "apa yang bisa saya pelajari untuk mengembangkan diri?". Pergeseran pola pikir ini membantu mengurangi rasa iri dan meningkatkan motivasi.

3. Latih Rasa Syukur Setiap Hari

Rasa syukur merupakan salah satu kebiasaan yang terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Luangkan beberapa menit setiap hari untuk menuliskan tiga hal yang Anda syukuri. Hal-hal tersebut tidak harus besar, misalnya kesehatan, keluarga, teman baik, atau secangkir kopi hangat di pagi hari.

Saat otak terbiasa mencari hal-hal positif, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada apa yang dimiliki orang lain, melainkan juga pada hal-hal baik yang sudah ada dalam hidup Anda.

4. Bangun Hubungan Nyata di Dunia Offline

Media sosial memang dapat menghubungkan banyak orang, tetapi interaksi secara langsung tetap memiliki dampak emosional yang jauh lebih kuat.

Menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, atau komunitas dapat membantu meningkatkan rasa memiliki dan mengurangi perasaan kesepian.

Menurut psikologi sosial, dukungan dari hubungan yang sehat merupakan salah satu faktor penting yang membuat seseorang lebih tangguh ketika menghadapi tekanan hidup.

5. Latih Self-Compassion atau Sikap Berbelas Kasih pada Diri Sendiri

Banyak orang bersikap sangat keras terhadap dirinya sendiri ketika gagal atau merasa tertinggal dibandingkan orang lain.

Self-compassion mengajarkan bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, mengalami kegagalan, dan menghadapi masa sulit. Alih-alih terus menyalahkan diri sendiri, cobalah memperlakukan diri sebagaimana Anda memperlakukan sahabat yang sedang mengalami masalah.

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki self-compassion cenderung lebih mudah pulih dari stres dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

6. Isi Pikiran dengan Aktivitas yang Bermakna

Semakin banyak waktu kosong yang dihabiskan untuk menggulir media sosial tanpa tujuan, semakin besar peluang munculnya pikiran negatif.

Karena itu, cobalah mengisi waktu dengan aktivitas yang memberi makna, seperti membaca buku, berolahraga, belajar keterampilan baru, menulis jurnal, atau mengembangkan hobi.

Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri karena memberikan pengalaman nyata tentang perkembangan diri, bukan sekadar validasi dari jumlah suka atau komentar.

7. Fokus pada Kemajuan Diri, Bukan Kesempurnaan

Dalam psikologi perkembangan, kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih penting dibandingkan mengejar kesempurnaan.

Daripada merasa gagal karena belum mencapai target besar, cobalah menghargai setiap langkah kecil yang berhasil Anda lakukan hari ini.

Misalnya, membaca lima halaman buku, berolahraga selama 15 menit, atau menyelesaikan satu pekerjaan penting. Kebiasaan menghargai progres akan membantu otak membangun motivasi yang lebih stabil dan mengurangi tekanan untuk selalu tampil sempurna.

Mengapa Kebiasaan Ini Efektif?

Ketujuh kebiasaan di atas bekerja karena membantu mengubah pola pikir sekaligus perilaku sehari-hari. Dalam psikologi, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk kebiasaan baru yang memperkuat ketahanan mental.

Semakin sering Anda membatasi paparan konten negatif, melatih rasa syukur, membangun hubungan yang sehat, serta fokus pada perkembangan diri, semakin kecil pengaruh media sosial terhadap kondisi emosional Anda.

Perubahan tersebut mungkin tidak terjadi dalam semalam. Namun, dengan latihan yang konsisten, Anda akan merasakan bahwa media sosial tidak lagi mengendalikan suasana hati maupun rasa percaya diri.

Penutup

Merasa jatuh setelah menggunakan media sosial bukanlah tanda bahwa Anda lemah. Hal itu merupakan pengalaman yang banyak dialami orang di era digital. Yang terpenting adalah bagaimana Anda merespons perasaan tersebut.

Dengan mulai menerapkan tujuh kebiasaan di atas, Anda dapat membangun kesehatan mental yang lebih kuat, mengurangi kebiasaan membandingkan diri, serta lebih cepat bangkit ketika menghadapi tekanan dari dunia digital.

Pada akhirnya, kehidupan yang paling berharga bukanlah kehidupan yang terlihat paling sempurna di media sosial, melainkan kehidupan yang benar-benar Anda jalani dengan penuh makna, rasa syukur, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

EDITOR: Hanny Suwindari