← Beranda
10 Ungkapan Kerap Digunakan Orang Sombong Tanpa Menyadari Bagaimana Ucapan Mereka Terdengar Bagi Orang Lain Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahRabu, 15 Juli 2026 | 16.49 WIB
seseorang yang tidak menyadari ucapannya sombong./Magnific/katemangostar

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu dengan orang yang terkesan rendah hati, tetapi tanpa sadar cara mereka berbicara justru membuat orang lain merasa diremehkan.

Menariknya, sikap sombong tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan yang mencolok. Kadang, kesan tersebut muncul hanya dari pilihan kata dan cara seseorang menyampaikan pendapat.

Menurut psikologi, komunikasi tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh nada, konteks, dan bagaimana pesan itu diterima oleh lawan bicara. Seseorang mungkin merasa sedang berbagi pengalaman, tetapi orang lain menangkapnya sebagai bentuk pamer atau merendahkan.

Hal ini berkaitan dengan konsep self-awareness atau kesadaran diri. Semakin rendah kesadaran seseorang terhadap dampak ucapannya, semakin besar kemungkinan ia dianggap arogan tanpa menyadarinya.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Aries 15 Juli 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan

Dilansir dari Hack Spirit pada Minggu (12/7), terdapat sepuluh ungkapan yang sering diucapkan orang yang terkesan sombong, meskipun belum tentu mereka memiliki niat seperti itu.

1. "Kalau saya sih sudah biasa."

Kalimat ini sering muncul ketika seseorang menanggapi pencapaian, tantangan, atau pengalaman orang lain.

Sekilas terdengar biasa saja, tetapi ungkapan ini dapat memberi kesan bahwa pengalaman orang lain tidak istimewa karena pembicara merasa dirinya sudah jauh lebih berpengalaman.

Dalam psikologi sosial, perilaku seperti ini dapat mengurangi validasi terhadap pengalaman orang lain. Lawan bicara bisa merasa pencapaiannya dianggap remeh.

Alternatif yang lebih baik adalah mengatakan, "Saya pernah mengalami hal yang mirip. Mungkin pengalaman saya bisa membantu."

2. "Saya sudah tahu itu."

Tidak ada yang salah dengan memiliki pengetahuan luas. Namun, langsung memotong pembicaraan dengan mengatakan bahwa kita sudah mengetahui sesuatu sering kali membuat orang lain merasa tidak dihargai.

Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa setiap orang ingin merasa didengar. Ketika seseorang buru-buru menunjukkan bahwa dirinya sudah tahu, kesempatan orang lain untuk berbagi menjadi hilang.

Ucapan sederhana seperti, "Menarik, coba lanjutkan," sering kali jauh lebih membangun hubungan.

3. "Dulu saya juga lebih hebat."

Kalimat ini biasanya muncul ketika seseorang menceritakan prestasinya di masa lalu.

Alih-alih memberikan inspirasi, ungkapan tersebut bisa terdengar seperti kompetisi yang tidak diminta.

Psikolog menyebut kecenderungan ini sebagai one-upmanship, yaitu kebiasaan selalu berusaha menunjukkan bahwa pengalaman diri lebih besar atau lebih hebat daripada pengalaman orang lain.

4. "Kalau bukan karena saya, itu tidak akan berhasil."

Dalam dunia kerja maupun kehidupan sehari-hari, keberhasilan biasanya merupakan hasil kerja sama banyak pihak.

Mengklaim seluruh keberhasilan sebagai hasil usaha pribadi dapat membuat orang lain merasa kontribusinya diabaikan.

Psikologi organisasi menunjukkan bahwa pengakuan terhadap kontribusi tim meningkatkan rasa saling percaya dan kerja sama.

5. "Orang-orang memang tidak sepintar saya."

Ini merupakan salah satu bentuk kesombongan yang paling jelas.

Ucapan seperti ini menunjukkan adanya kecenderungan merasa diri lebih unggul dibandingkan orang lain.

Dalam psikologi, sikap tersebut dapat berkaitan dengan bias superioritas, yaitu kecenderungan seseorang melebih-lebihkan kemampuan dirinya dibandingkan orang lain.

Akibatnya, hubungan sosial menjadi kurang harmonis karena orang lain merasa direndahkan.

6. "Saya tidak pernah salah."

Semua manusia memiliki keterbatasan dan bisa melakukan kesalahan.

Orang yang sulit mengakui kesalahan sering kali dipandang arogan karena lebih memilih mempertahankan citra diri daripada menerima kenyataan.

Psikologi menyebut kemampuan mengakui kesalahan sebagai bagian penting dari emotional maturity atau kematangan emosional.

Justru orang yang percaya diri biasanya tidak takut mengakui kekeliruannya.

7. "Itu sih gampang."

Kalimat ini mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan optimisme.

Namun, bagi orang yang sedang berjuang menyelesaikan suatu masalah, ucapan tersebut dapat terasa meremehkan.

Psikologi empati mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan, pengalaman, dan tantangan yang berbeda.

Mengatakan, "Mari kita cari solusinya bersama," jauh lebih menunjukkan kepedulian.

8. "Saya selalu menjadi yang terbaik."

Percaya diri memang penting.

Namun, terus-menerus menegaskan bahwa diri sendiri adalah yang terbaik bisa menimbulkan kesan haus pengakuan.

Orang yang benar-benar kompeten biasanya membiarkan hasil kerjanya berbicara, bukan terus-menerus mengumumkan keunggulannya.

Psikologi menyebut bahwa rasa percaya diri yang sehat tidak selalu membutuhkan validasi dari orang lain.

9. "Pendapat saya pasti benar."

Kalimat ini menutup ruang diskusi.

Padahal, komunikasi yang sehat membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai sudut pandang.

Orang yang selalu merasa benar cenderung mengalami confirmation bias, yaitu kecenderungan hanya menerima informasi yang mendukung keyakinannya sendiri dan mengabaikan informasi yang bertentangan.

Akibatnya, proses belajar menjadi terhambat.

10. "Mereka sukses karena beruntung, saya sukses karena kemampuan."

Ungkapan ini menunjukkan adanya standar ganda dalam menilai keberhasilan.

Keberhasilan diri dianggap sepenuhnya hasil kerja keras, sedangkan keberhasilan orang lain dianggap sekadar keberuntungan.

Dalam psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai self-serving bias, yaitu bias yang membuat seseorang menghubungkan keberhasilan dengan kemampuan pribadi, tetapi mengaitkan keberhasilan orang lain dengan faktor eksternal.

Cara berpikir seperti ini dapat mengurangi empati dan membuat seseorang sulit menghargai pencapaian orang lain.

Mengapa Orang Bisa Terdengar Sombong Tanpa Menyadarinya?

Tidak semua orang yang terdengar sombong memang memiliki niat untuk merendahkan orang lain. Ada beberapa faktor psikologis yang dapat memengaruhinya, seperti:

Kurangnya kesadaran diri terhadap dampak ucapan.
Keinginan memperoleh pengakuan atau validasi.
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Lingkungan yang mendorong budaya kompetisi.
Rasa tidak aman (insecurity) yang ditutupi dengan menunjukkan kelebihan diri.

Dengan memahami faktor-faktor tersebut, kita dapat lebih bijak dalam menilai seseorang sekaligus lebih berhati-hati terhadap cara kita sendiri berkomunikasi.

Penutup

Pilihan kata memiliki kekuatan besar dalam membentuk hubungan antarmanusia. Kalimat yang menurut kita biasa saja bisa terdengar arogan, meremehkan, atau menyakitkan bagi orang lain.

Psikologi mengajarkan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya soal menyampaikan apa yang kita pikirkan, tetapi juga memahami bagaimana pesan tersebut diterima oleh lawan bicara. Memiliki pengetahuan, pengalaman, atau prestasi tentu merupakan hal yang membanggakan. Namun, menyampaikannya dengan empati dan kerendahan hati akan membuat orang lain lebih nyaman serta menghargai kita.

Pada akhirnya, orang yang benar-benar percaya diri tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa dirinya lebih hebat. Mereka justru mampu mendengarkan, menghargai, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang bersama.

EDITOR: Hanny Suwindari