JawaPos.com - Istilah introvert dan ekstrovert pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Carl Jung pada awal abad ke-20 dan hingga kini masih menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai kepribadian manusia.
Meski sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, karakter introvert masih kerap disalahartikan. Banyak orang menganggap introvert hanya sebagai individu yang tidak suka bersosialisasi atau menghindari keramaian, padahal sifat ini memiliki penjelasan yang lebih kompleks dari sudut pandang psikologi dan ilmu saraf.
Jumlah individu introvert di dunia juga tidak dapat ditentukan secara pasti. Namun, sejumlah penelitian memperkirakan bahwa mereka mencakup bagian yang cukup besar dari populasi global.
Seiring berkembangnya penelitian, para ilmuwan menemukan bahwa perbedaan antara introvert dan ekstrovert tidak hanya berkaitan dengan perilaku sosial, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh cara otak memproses informasi, merespons rangsangan, dan mengelola energi.
Baca Juga: 8 Kelebihan Menjadi Seorang Introvert di Tengah Dunia yang Serba Ramai
Lantas, apa saja fakta ilmiah mengenai otak seorang introvert? Dilansir dari Astroligion.com, berikut lima hal menarik yang perlu diketahui tentang karakter introvert berdasarkan penelitian psikologi.
1. Introversi mengacu pada reaksi terhadap lingkungan
Aspek pertama yang perlu dipahami tentang introversi adalah definisinya. Sering disalahpahami sebagai rasa malu, depresi, kekasaran, atau kecemasan.
Kaum introvert sering menjadi sasaran banyak kesalahpahaman dan stereotip yang hampir tidak ada hubungannya dengan konsep itu sendiri.
Introversi dan ekstroversi, sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Carl Jung, adalah tipe kepribadian yang ditentukan oleh sumber utama kepuasan bagi setiap individu.
Dengan demikian, ekstrovert cenderung memfokuskan energi dan minat mereka terhadap dunia luar, sementara introvert lebih suka mengarahkan kehidupan mereka ke dalam, mengarahkan perhatian mereka ke dunia batin mereka.
Oleh karena itu, kaum introvert cenderung merasa dihargai dan terpuaskan oleh aktivitas introspektif dan bersemangat dengan 'waktu sendiri' yang hakiki.
Akan tetapi, aktivitas yang disukai kaum ekstrovert—berinteraksi dengan lingkungan eksternal dan bersosialisasi dalam waktu lama—menguras semangat kaum introvert dan membanjiri indra mereka setelah beberapa waktu, membuat mereka mencari kesendirian untuk beristirahat dan 'mengisi ulang' energi.
2. Kaum introvert dan ekstrovert menyukai sisi yang berbeda dari sistem saraf otonom mereka
Seperti disebutkan di atas, kaum introvert mendapatkan energi dan bersemangat dengan dunia batin mereka dan kelelahan karena interaksi yang lama dengan dunia luar.
Namun, apa yang tampak seperti preferensi sederhana sering kali merupakan fakta yang terbentuk secara biologis.
Di antara banyak komponen sistem saraf, subdivisi otonom menonjol sebagai yang bertanggung jawab atas gerakan dan tindakan tak sadar yang dilakukan oleh tubuh manusia, termasuk semua fungsi internal.
Sistem saraf otonom memiliki dua cabang utama—sistem saraf simpatik dan parasimpatik, keduanya bertanggung jawab atas impuls tak sadar tetapi sangat berbeda satu sama lain.
Sejauh ini, hal ini mungkin tampak tidak berhubungan dengan introversi, tetapi sebenarnya tidak demikian.
Meskipun semua manusia menggunakan kedua sistem tersebut pada saat-saat tertentu, penelitian ilmiah telah menentukan bahwa orang introvert cenderung lebih menyukai penggunaan sisi parasimpatis secara tidak sadar.
Tidak mengherankan, hal ini sering disebut sistem 'istirahat dan mencerna', yang merangsang tubuh untuk memperlambat, bersantai, dan menyimpan energi.
Sebaliknya, sistem saraf simpatik disebut sebagai cabang 'lawan atau lari', karena merangsang tubuh untuk mengambil tindakan melalui pelepasan adrenalin. Tentu saja, ini adalah cabang yang disukai oleh kaum ekstrovert.
3. Kaum introvert sangat sensitif terhadap dopamin
Meskipun tidak jelas mengapa beberapa orang lebih menyukai salah satu dari dua cabang sistem saraf otonom, penelitian tertentu mengaitkannya dengan neurotransmiter tertentu.
Meskipun setiap tubuh bekerja dengan senyawa kimia yang sama dan memproduksinya dengan cara yang sama, otak dapat lebih atau kurang menerima senyawa tersebut.
Secara spesifik, Dr. Marti Olsen Laney menjelaskan dalam bukunya The Introvert Advantage bahwa semuanya bermuara pada kepekaan otak terhadap dopamin, hormon yang dikaitkan dengan kesenangan.
Secara sederhana, produksi dopamin memberikan kebahagiaan instan saat individu berinteraksi dengan lingkungan dengan cara baru. Hal ini mendorong perilaku yang rentan terhadap risiko untuk mencari kepuasan berupa hadiah.
Sementara semua individu neurotipikal memiliki jumlah dopamin yang sama di otak mereka, Dr. Laney menegaskan bahwa kaum introvert sangat sensitif terhadap dopamin, sementara kaum ekstrovert memiliki sensitivitas yang rendah.
Selanjutnya, kaum ekstrovert perlu mencari lebih banyak rangsangan dari luar untuk merasakan kebahagiaan yang diberikan oleh hormon tersebut, sementara kaum introvert dapat menjadi terlalu terstimulasi dengan cepat.
4. Asetilkolin merupakan hormon kebahagiaan bagi kaum introvert
Dopamin dapat membuat orang introvert kewalahan, sehingga menimbulkan teka-teki bagi mereka—bagaimanapun juga, dopamin adalah hormon kesenangan dan penghargaan.
Bagaimana orang introvert menikmati kepuasan setelah mencapai tujuan? Jawabannya adalah asetilkolin. Alih-alih memberi hadiah berupa suntikan energi, asetilkolin adalah neurotransmitter yang memberikan relaksasi dan ketenangan.
Dengan demikian, asetilkolin menstimulasi seseorang saat mereka menoleh ke dalam dan terlibat dalam aktivitas introspektif.
Efek asetilkolin sangat lembut dan halus sehingga kaum ekstrovert tidak dapat merasakannya karena kepekaan sistem saraf mereka yang rendah, yang menjelaskan mengapa mereka sering kali tidak dapat menemukan kenikmatan atau kesenangan yang berkepanjangan dari waktu menyendiri yang tenang.
Sebaliknya, sistem saraf kaum introvert yang sangat sensitif merasa cukup puas dengan sentuhan lembut asetilkolin.
5. Kaum introvert secara biologis cenderung berpikir berlebihan
Meskipun asetilkolin tampaknya memberi penghargaan kepada kaum introvert karena bersikap tenang, efeknya tidak selalu bermanfaat.
Faktanya, kecenderungan mereka terhadap neurotransmitter ini mungkin juga menjadi penjelasan di balik kecenderungan sebagian besar kaum introvert untuk berpikir berlebihan.
Neurotransmitter, seperti yang ditunjukkan oleh namanya, mengirimkan pesan yang diterima dari sel ke sel, mengikuti 'jalur' tertentu yang menentukan bagian otak mana yang menerima pesan tersebut.
Jadi, ketika seseorang mendengarkan suara orang lain atau membaca buku, neurotransmitter mengirimkan informasi ke otak melalui jalur tertentu.
Menurut Dr. Laney, jalur yang dilalui asetilkolin lebih panjang dan jauh lebih rumit daripada jalur dopamin.
Ternyata, dopamin mengikuti jalur yang lebih pendek yang memungkinkan otak melakukan respons 'cepat', yang menjelaskan perilaku dinamisnya.
Di sisi lain, asetilkolin memiliki jalur yang lebih panjang yang mengaktifkan lebih banyak area otak, membuat kaum introvert memproses informasi lebih lambat namun lebih hati-hati.
Tentu saja, hal ini menjelaskan kecenderungan kaum introvert untuk berpikir berlebihan, ragu-ragu sebelum membuat keputusan, dan terlibat dalam analisis yang cermat terhadap informasi yang diterima.
Meskipun karakteristik biokimia ini menjelaskan kecenderungan tertentu, karakteristik tersebut tidak menjelaskan kepribadian seseorang secara utuh.
Introversi tidak sama dengan kecerdasan, rasa malu, atau stereotip lain yang mungkin ada di dunia maya.
Namun, hal itu menjelaskan preferensi sebagian orang terhadap kesenangan yang lebih sederhana dalam hidup.