JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang jadwalnya padat, pekerjaannya menumpuk, tanggung jawabnya banyak, tetapi tetap terlihat tenang?
Mereka tidak berbicara dengan tergesa-gesa. Mereka tidak panik saat menghadapi masalah. Bahkan ketika keadaan mendadak berubah, mereka tetap mampu berpikir jernih.
Di sisi lain, ada orang yang baru menghadapi sedikit tekanan saja sudah merasa dikejar-kejar waktu.
Apa yang membedakan keduanya?
Psikologi menunjukkan bahwa perbedaannya bukan semata-mata terletak pada banyak atau sedikitnya kesibukan. Yang lebih menentukan adalah cara seseorang mengelola perhatian, emosi, dan kebiasaan sehari-hari.
Orang yang tampaknya tidak pernah terburu-buru biasanya memiliki serangkaian kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kebiasaan-kebiasaan ini membantu otak tetap merasa memiliki kendali, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam mode panik.
Dilansir dari Hack Spirit pada Minggu (12/7), terdapat tujuh kebiasaan yang sering dimiliki orang-orang tersebut.
1. Mereka Selalu Memberikan Ruang Waktu Ekstra
Banyak orang berpikir mereka pandai memperkirakan waktu. Faktanya, psikologi mengenal fenomena yang disebut planning fallacy, yaitu kecenderungan manusia meremehkan berapa lama suatu pekerjaan akan selesai.
Orang yang terlihat santai memahami hal ini, meski mungkin tidak mengenal istilah ilmiahnya.
Mereka sengaja berangkat lebih awal.
Mereka menyelesaikan pekerjaan sebelum tenggat.
Mereka menyediakan jeda di antara jadwal.
Akibatnya, ketika terjadi kemacetan, gangguan teknis, atau perubahan mendadak, mereka tidak langsung panik karena masih memiliki ruang untuk beradaptasi.
Sebaliknya, orang yang selalu menjadwalkan aktivitas dengan sangat rapat hidup dalam tekanan yang terus-menerus. Satu keterlambatan kecil saja bisa membuat seluruh hari terasa berantakan.
Memberikan tambahan waktu lima hingga lima belas menit mungkin terdengar sepele, tetapi efek psikologisnya sangat besar. Otak tidak lagi merasa sedang "dikejar", sehingga tingkat stres pun menurun.
2. Mereka Fokus pada Satu Hal dalam Satu Waktu
Kesibukan sering disamakan dengan kemampuan melakukan banyak hal sekaligus.
Padahal penelitian psikologi kognitif menunjukkan bahwa multitasking sebenarnya lebih banyak berupa perpindahan perhatian secara cepat daripada benar-benar mengerjakan dua hal sekaligus.
Setiap kali perhatian berpindah, otak membutuhkan energi tambahan.
Semakin sering perpindahan itu terjadi, semakin besar pula rasa lelah mental.
Orang yang tampak tidak terburu-buru cenderung menghindari kebiasaan ini.
Saat membaca email, mereka benar-benar membaca email.
Saat berbicara dengan seseorang, mereka benar-benar mendengarkan.
Saat mengerjakan laporan, mereka tidak terus-menerus mengecek media sosial.
Karena perhatian mereka utuh, pekerjaan justru selesai lebih cepat dan lebih sedikit kesalahan yang harus diperbaiki.
Ironisnya, bergerak lebih lambat dalam setiap aktivitas sering kali menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
3. Mereka Tidak Menganggap Semua Hal Sebagai Keadaan Darurat
Dalam kehidupan modern, hampir segala sesuatu diberi label "segera".
Balas pesan segera.
Jawab email sekarang juga.
Selesaikan pekerjaan secepat mungkin.
Namun orang yang tenang memiliki kemampuan membedakan antara sesuatu yang benar-benar mendesak dan sesuatu yang hanya terasa mendesak.
Psikologi menyebut kemampuan ini sebagai pengendalian diri atau self-regulation.
Mereka berhenti sejenak sebelum bereaksi.
Mereka bertanya dalam hati:
"Apakah ini benar-benar harus diselesaikan sekarang?"
Sering kali jawabannya ternyata tidak.
Kemampuan memberi jeda beberapa detik sebelum bertindak membuat mereka lebih rasional dan tidak mudah terseret kepanikan orang lain.
4. Mereka Mengatur Napas Ketika Tekanan Meningkat
Saat stres, tubuh secara otomatis mengaktifkan respons "fight or flight".
Detak jantung meningkat.
Pernapasan menjadi pendek.
Otot menegang.
Otak mulai fokus pada ancaman sehingga kemampuan berpikir jernih menurun.
Orang yang tampaknya selalu tenang sering memiliki kebiasaan sederhana: memperlambat napas.
Tarikan napas yang lebih dalam dan embusan yang lebih panjang membantu mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yaitu sistem yang berperan menenangkan tubuh setelah mengalami tekanan.
Inilah sebabnya banyak teknik psikologi maupun mindfulness selalu melibatkan latihan pernapasan.
Bukan karena terdengar spiritual, melainkan karena memang memiliki dasar fisiologis yang kuat.
Beberapa napas yang tenang dapat mengubah cara otak memandang sebuah situasi.
5. Mereka Menerima Bahwa Tidak Semua Hal Bisa Dikendalikan
Salah satu penyebab terbesar seseorang merasa terburu-buru adalah keinginan mengendalikan segala sesuatu.
Mereka ingin semua orang tepat waktu.
Semua rencana berjalan sempurna.
Tidak ada kesalahan.
Tidak ada perubahan.
Sayangnya, kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu.
Psikologi menunjukkan bahwa orang dengan tingkat penerimaan yang lebih tinggi terhadap ketidakpastian cenderung memiliki stres yang lebih rendah.
Mereka tetap berusaha melakukan yang terbaik.
Namun ketika sesuatu berada di luar kendali mereka, mereka tidak menghabiskan energi untuk melawannya.
Alih-alih berkata, "Semuanya berantakan."
Mereka lebih memilih berpikir, "Baik, apa langkah berikutnya?"
Perubahan sudut pandang kecil ini membuat mereka jauh lebih tenang.
6. Mereka Memiliki Rutinitas yang Mengurangi Beban Pikiran
Setiap keputusan kecil membutuhkan energi mental.
Memilih pakaian.
Menentukan menu makan.
Memikirkan urutan pekerjaan.
Mencari barang yang lupa diletakkan.
Semua itu menguras kapasitas otak.
Karena itulah banyak orang sukses memiliki rutinitas yang konsisten.
Mereka membuat keputusan penting hanya ketika benar-benar diperlukan.
Sisanya dijadikan kebiasaan.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai upaya mengurangi decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan.
Semakin sedikit energi yang dihabiskan untuk hal-hal kecil, semakin banyak kapasitas mental yang tersisa untuk menghadapi persoalan yang benar-benar penting.
Akibatnya, mereka tampak lebih santai meskipun aktivitasnya sangat padat.
7. Mereka Tidak Mengukur Nilai Diri dari Seberapa Sibuk Mereka
Budaya modern sering menganggap kesibukan sebagai simbol kesuksesan.
Semakin sibuk seseorang, semakin dianggap penting.
Akibatnya, banyak orang tanpa sadar selalu ingin terlihat sibuk.
Padahal psikologi menemukan bahwa kesibukan yang terus-menerus tidak identik dengan produktivitas ataupun kebahagiaan.
Orang yang tampak tidak pernah terburu-buru biasanya memiliki pandangan berbeda.
Mereka tidak merasa harus membuktikan diri melalui jadwal yang penuh.
Mereka memahami bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia bergerak, tetapi oleh kualitas keputusan, hubungan, dan hasil yang dihasilkan.
Cara berpikir ini membuat mereka lebih mudah mengatakan "tidak" pada hal-hal yang tidak penting.
Mereka juga lebih mampu menikmati waktu istirahat tanpa merasa bersalah.
Pada akhirnya, ketenangan bukanlah hasil dari hidup yang bebas masalah.
Ketenangan adalah hasil dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.
Memberi ruang waktu ekstra, fokus pada satu hal, membedakan mana yang benar-benar mendesak, mengatur napas, menerima hal-hal di luar kendali, membangun rutinitas, dan tidak menjadikan kesibukan sebagai ukuran harga diri adalah kebiasaan yang tampak sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.
Orang-orang yang terlihat tidak pernah terburu-buru bukan berarti memiliki lebih sedikit pekerjaan daripada kita.
Mereka hanya belajar mengelola pikiran dengan cara yang membuat kesibukan tidak berubah menjadi kekacauan.
Dan kabar baiknya, kebiasaan-kebiasaan tersebut bukanlah bakat bawaan. Siapa pun dapat mulai melatihnya, satu langkah kecil setiap hari, hingga ketenangan menjadi bagian alami dari cara menjalani hidup.