← Beranda
9 Ucapan yang Sering Dipakai Orang Canggung Sosial saat Percakapan Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalJumat, 10 Juli 2026 | 20.17 WIB
Ucapan yang sering dipakai orang canggung sosial saat percakapan menurut psikologi / foto : Magnific/ gpointstudio

JawaPos.com – Canggung secara sosial bukan selalu hal yang buruk, namun sering kali menciptakan pola komunikasi yang sangat khas dan mudah dikenali.

Psikologi mengungkap bahwa orang dengan kecemasan sosial cenderung mengandalkan frasa-frasa tertentu saat merasa tidak nyaman.

Ucapan-ucapan ini bukan disengaja, melainkan respons alami terhadap ketidaknyamanan yang mereka rasakan dalam percakapan sehari-hari.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (10/6), berikut delapan sembilan frasa yang paling sering diucapkan oleh orang yang merasa canggung atau tidak nyaman dalam situasi sosial.

Baca Juga: Menurut Psikologi, Orang yang Sering Berjalan Cepat Memiliki 8 Karakteristik Ini

1. "Aku biarkan kamu lanjut saja"

Frasa ini sering digunakan untuk mengakhiri percakapan dengan sopan, namun sebenarnya mencerminkan keinginan untuk segera menjauh.

Baik karena kecemasan sosial atau ketidaknyamanan mendalam, mereka mencari cara keluar pada momen yang terasa mendadak bagi orang lain.

Gestur seperti tiba-tiba memeriksa ponsel atau berpura-pura sibuk adalah tanda lain yang menyertai keinginan ini.

2. "Aku kurang tahu"

Ketika tidak bisa menarik diri secara fisik, orang yang tidak nyaman menggunakan frasa samar untuk meredam percakapan.

Respons seperti "kurang tahu" atau "terserah" adalah cara tidak sadar untuk mengambil jarak dari interaksi yang terasa mengancam.

Jika seseorang tampak tidak merespons dengan penuh atau terlihat tidak terlibat, kemungkinan besar mereka sedang tidak nyaman.

3. "Kamu ngerti maksudku kan?"

Orang dengan kecemasan sosial sering mencari validasi untuk merasa lebih aman dalam percakapan yang membuat mereka tidak nyaman.

Pertanyaan seperti "Kamu ngerti kan?" atau "Boleh koreksi aku" adalah tanda terselubung bahwa mereka sedang mencari persetujuan.

Ada ketidakpastian internal yang mendalam yang mendorong komentar dan pertanyaan reflektif seperti ini keluar secara otomatis.

4. "Mungkin cuma aku yang ngerasain"

Frasa ini digunakan untuk melembutkan pendapat dan menghindari konflik yang mungkin memperparah ketidaknyamanan yang sudah ada.

Ini adalah mekanisme pertahanan yang justru merugikan diri sendiri karena membuat mereka sulit menyuarakan pendapat atau batasan.

Saat tidak nyaman, naluri pertama adalah menjadi sangat akomodatif agar situasi tidak semakin tegang atau canggung.

5. "Eh, kamu lihat itu tadi?"

Orang yang tidak nyaman sering mengalihkan perhatian diri sendiri dan orang lain dari topik yang membuat mereka kewalahan.

Ini bisa berupa insting untuk menghindari percakapan tertentu yang terasa terlalu berat atau terlalu personal bagi mereka.

Mengubah topik dengan cepat atau mengarahkan pandangan orang lain adalah cara mereka menghindari sorotan tanpa terlihat melarikan diri.

6. "Menarik juga ya"

Pendengar aktif biasanya berbicara lebih sedikit namun mengajukan pertanyaan yang mendalam untuk menjaga percakapan tetap bermakna.

Sebaliknya, orang yang tidak nyaman menggunakan kalimat singkat dan datar seperti "menarik" yang justru memutus koneksi percakapan.

Respons seperti ini sering datang dari kondisi terputus, baik karena tidak tertarik maupun karena terlalu tidak nyaman untuk terlibat.

7. "Jujur aja ya"

Beberapa orang yang sangat tidak aman secara sosial menggunakan kepercayaan diri berlebihan sebagai topeng untuk menyembunyikan kecemasan.

Frasa seperti "jujur aja ya" dimaksudkan untuk menampilkan keyakinan, namun sebenarnya justru mengungkap kerentanan yang disembunyikan.

Semakin sering frasa ini digunakan, semakin besar kemungkinan ada rasa tidak aman yang sedang coba ditutupi di baliknya.

8. "Maaf, maksudku bukan gitu"

Kecemasan sosial kadang muncul sebagai energi gelisah yang membuat seseorang berbicara terlalu cepat dan tergesa-gesa.

Frasa seperti "bukan gitu maksudku" atau "gimana ya njelasinnya" menunjukkan mereka kesulitan memperlambat diri dan hadir sepenuhnya.

Pikiran yang penuh kecemasan membuat mereka sulit menemukan kata yang tepat sehingga sering merasa harus merevisi ucapannya.

9. "Mungkin lain kali deh"

Bahkan tanpa keberanian untuk meninggalkan percakapan secara langsung, seseorang yang tidak nyaman akan terus menolak rencana baru.

Mereka mungkin berkata "ya" namun sudah tahu sejak awal bahwa mereka tidak akan datang karena ingin menghindari ketidaknyamanan.

Kecenderungan untuk tidak antusias bertahan atau berkomitmen pada pertemuan baru adalah tanda yang sangat jelas dari kecemasan sosial.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho