← Beranda
10 Hal yang Tidak Pernah Dilakukan Orang Percaya Diri di Depan Umum Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSelasa, 7 Juli 2026 | 21.57 WIB
seseorang yang terlihat sangat percaya diri./ Magnific/Drazen Zigic

JawaPos.com - Kepercayaan diri sering disalahpahami sebagai sikap yang selalu dominan, selalu berbicara keras, atau selalu menjadi pusat perhatian.

Padahal, dalam psikologi, kepercayaan diri lebih dekat dengan self-efficacy (keyakinan pada kemampuan diri) dan self-regulation (kemampuan mengatur perilaku dan emosi), bukan sekadar gaya tampil.

Orang yang benar-benar percaya diri justru memiliki batas perilaku yang jelas di ruang publik. Mereka tidak bertindak impulsif hanya karena merasa “nyaman”, dan tidak mengorbankan persepsi sosial demi validasi sesaat.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (5/7), terdapat 10 hal yang umumnya tidak dilakukan oleh orang yang percaya diri di depan umum, berdasarkan temuan psikologi sosial, komunikasi, dan perilaku.

1. Tidak mencari validasi berlebihan dari orang lain

Orang percaya diri tidak menjadikan respons orang lain sebagai tolok ukur utama nilai diri mereka.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan internal locus of evaluation—penilaian berasal dari dalam diri, bukan dari persetujuan eksternal.

Mereka bisa menerima pujian, tetapi tidak bergantung padanya. Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri cenderung:

sering mengecek reaksi orang lain
mudah berubah pendapat agar disukai
cemas jika tidak mendapat respon positif

2. Tidak berbicara hanya untuk didengar

Orang percaya diri tidak merasa perlu mengisi setiap keheningan.

Dalam komunikasi interpersonal, ini disebut kemampuan tolerance of silence. Mereka memahami bahwa jeda dalam percakapan bukan ancaman.

Sebaliknya, orang yang tidak nyaman dengan dirinya sering:

berbicara terlalu banyak
memotong pembicaraan
merasa diam adalah kegagalan sosial

Orang percaya diri tahu bahwa kualitas bicara lebih penting daripada kuantitas.

3. Tidak merendahkan orang lain untuk terlihat unggul

Salah satu tanda kepercayaan diri palsu adalah dominance through comparison—meningkatkan diri dengan menjatuhkan orang lain.

Secara psikologis, orang percaya diri sejati tidak perlu strategi ini karena mereka memiliki self-esteem yang stabil.

Mereka:

tidak bersaing secara tidak sehat dalam percakapan
tidak mengecilkan pengalaman orang lain
tidak menggunakan humor yang menyakitkan

4. Tidak berusaha menjadi pusat perhatian sepanjang waktu

Banyak orang mengira percaya diri berarti harus “terlihat”. Padahal, dalam psikologi sosial, ini justru sering berkaitan dengan impression management yang berlebihan.

Orang percaya diri tahu kapan harus tampil dan kapan harus mundur.

Mereka tidak:

memaksakan diri menjadi pusat obrolan
mengambil alih semua ruang sosial
merasa gelisah jika tidak diperhatikan

Sebaliknya, mereka nyaman juga ketika berada di posisi pendengar.

5. Tidak menghindari kontak mata secara berlebihan, tapi juga tidak menatap agresif

Kontak mata adalah indikator penting dalam komunikasi nonverbal.

Orang percaya diri:

mampu menjaga kontak mata yang wajar
tidak menunduk terus-menerus karena cemas
tetapi juga tidak menatap berlebihan hingga terasa mengintimidasi

Dalam psikologi, ini disebut regulated gaze behavior—kontak mata yang seimbang antara keterbukaan dan kenyamanan sosial.

6. Tidak mengubah kepribadian hanya demi diterima

Orang percaya diri tidak melakukan self-erasure, yaitu menghapus identitas diri demi diterima lingkungan.

Mereka:

tetap mempertahankan pendapat yang logis
tidak berpura-pura suka sesuatu yang sebenarnya tidak disukai
tidak menjadi “versi palsu” dari diri mereka

Namun penting: ini bukan berarti keras kepala. Mereka tetap fleksibel, tapi tidak kehilangan identitas.

7. Tidak panik saat melakukan kesalahan kecil di depan umum

Dalam psikologi kognitif, ini terkait dengan error tolerance dan rendahnya catastrophic thinking.

Orang percaya diri memahami bahwa:

tersandung kata adalah hal normal
salah bicara bukan bencana sosial
orang lain biasanya tidak terlalu memperhatikan kesalahan kecil

Sebaliknya, orang yang kurang percaya diri sering memperbesar kesalahan kecil menjadi “malapetaka sosial”.

8. Tidak menghindari ruang sosial karena takut dinilai

Orang percaya diri tetap masuk ke situasi sosial meskipun tidak selalu nyaman.

Ini berkaitan dengan konsep approach behavior dalam psikologi: kecenderungan mendekati, bukan menghindari.

Mereka tidak menunggu “rasa siap sempurna” untuk hadir di ruang publik. Sebaliknya, mereka:

tetap datang ke acara
tetap berbicara meski gugup
tetap berpartisipasi tanpa harus sempurna

9. Tidak terlalu fokus pada citra sampai kehilangan spontanitas

Orang yang terlalu sadar diri (over self-conscious) sering kehilangan aliran alami dalam interaksi.

Orang percaya diri justru memiliki keseimbangan antara:

kesadaran sosial
dan spontanitas

Mereka tidak terlalu sibuk memikirkan:

“Apakah saya terlihat bodoh?”
“Bagaimana orang menilai saya?”

Karena terlalu banyak self-monitoring justru membuat interaksi menjadi kaku.

10. Tidak mengabaikan orang lain demi menunjukkan superioritas

Kepercayaan diri yang sehat selalu disertai dengan social awareness.

Orang percaya diri:

tetap mendengarkan orang lain dengan sungguh-sungguh
tidak mendominasi percakapan secara egois
menghargai keberadaan orang lain dalam ruang sosial

Dalam psikologi humanistik, ini terkait dengan konsep respect for others as autonomous individuals.

Kesimpulan

Kepercayaan diri bukan tentang menjadi paling keras, paling menonjol, atau paling dominan di ruangan. Justru sebaliknya, orang yang benar-benar percaya diri biasanya tidak perlu membuktikan apa pun secara berlebihan di depan umum.

Mereka tidak terjebak dalam:

kebutuhan validasi
ketakutan dinilai
atau keinginan mengontrol persepsi orang lain

Sebaliknya, mereka fokus pada kehadiran yang stabil, perilaku yang sadar, dan interaksi yang seimbang.

Kalau diringkas dalam satu kalimat:

Orang percaya diri tidak sibuk terlihat percaya diri—mereka sibuk menjadi dirinya sendiri dengan tenang.

EDITOR: Hanny Suwindari