JawaPos.com – Sebagian orang mampu tetap tenang saat menghadapi masalah berat, bukan karena mereka tidak merasakannya.
Psikologi menjelaskan bahwa cara seseorang menafsirkan situasi sulit sama pentingnya dengan situasi itu sendiri.
Pola pikir yang berbeda inilah yang membuat beberapa orang tetap fokus dan stabil saat segalanya terasa kacau.
Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (7/7), berikut enam cara berpikir yang membedakan orang-orang tenang dari mereka yang mudah terguncang ketika masalah datang.
Baca Juga: Orang yang Selalu Mengirim Pesan Sebelum Menelepon Biasanya Memiliki 7 Ciri Ini, Menurut Psikologi
1. Tidak terobsesi dengan hal-hal di luar kendali
Saat situasi mulai kacau, pikiran mudah terjebak pada skenario terburuk yang belum tentu akan terjadi.
Orang yang tenang mengalihkan perhatian dari hal yang tidak bisa diubah menuju tindakan kecil yang masih bisa dilakukan.
Mereka mungkin mencari informasi tambahan atau meminta bantuan sebagai langkah konkret yang mengurangi rasa tidak berdaya.
Tindakan sekecil apapun terbukti mampu mengurangi stres dan membantu seseorang merasa lebih punya kendali.
2. Tidak menganggap masalah sementara sebagai masalah permanen
Otak manusia memiliki kecenderungan meyakinkan diri bahwa skenario terburuk adalah sesuatu yang pasti terjadi.
Orang yang tenang secara sadar mengingatkan diri bahwa hampir semua kesulitan bersifat sementara meski terasa berat.
Perspektif ini membantu mereka merespons situasi dengan kepala dingin alih-alih bereaksi karena kepanikan sesaat.
Memahami bahwa keadaan selalu berubah adalah salah satu landasan paling kuat dari ketenangan yang berkelanjutan.
3. Melihat kegagalan sebagai informasi bukan sebagai bukti ketidakmampuan
Banyak orang langsung menyalahkan diri sendiri ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan.
Sebaliknya, orang yang tenang memilih untuk belajar dari pengalaman tersebut dengan pendekatan yang penuh rasa ingin tahu.
Rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk terus bergerak maju, sementara rasa malu justru membuat seseorang terjebak di tempat.
Memandang kesalahan sebagai umpan balik membuatnya jauh lebih mudah untuk beradaptasi dan melanjutkan langkah ke depan.
4. Menerima bahwa ketidaknyamanan adalah bagian dari kehidupan
Banyak situasi stres terasa semakin berat karena seseorang meyakini bahwa hal buruk seharusnya tidak boleh terjadi.
Orang yang tenang memahami bahwa kekecewaan dan kegagalan adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup.
Daripada melawan kenyataan, mereka fokus merespons apa yang ada di hadapan mereka dengan cara yang paling produktif.
Menerima ketidaknyamanan bukan berarti menyukainya, melainkan menyadari bahwa emosi sulit bersifat sementara dan akan berlalu.
Ironisnya, semakin kita berhenti melawan perasaan yang tidak nyaman, semakin cepat intensitas perasaan itu berkurang.
5. Tidak membiarkan emosi mengambil alih setiap keputusan
Orang yang tenang tetap merasakan emosi sepenuhnya, namun tidak berasumsi bahwa setiap perasaan mencerminkan realita.
Mereka menyadari bahwa rasa takut bisa melebih-lebihkan bahaya, dan frustrasi bisa mengaburkan penilaian yang jernih.
Sebelum merespons, mereka memberi diri sendiri waktu untuk menenangkan pikiran terlebih dahulu dengan cara sederhana.
Berjalan kaki singkat atau tidur malam sebelum membuat keputusan adalah contoh nyata dari pendekatan yang sangat efektif.
Jeda singkat memungkinkan emosi mereda dan menghasilkan keputusan yang jauh lebih bijaksana dan terarah.
6. Mempercayai kemampuan diri untuk melewati lebih dari yang dibayangkan
Salah satu alasan orang tenang tidak mudah goyah adalah karena mereka mengingat tantangan yang pernah berhasil dilewati.
Pengalaman masa lalu membuktikan bahwa situasi yang dulu terasa mustahil ternyata bisa dihadapi dengan cara tertentu.
Kepercayaan ini bukan kesombongan, melainkan keyakinan yang dibangun dari pengalaman nyata dan refleksi yang jujur.
Daripada berasumsi bahwa masalah baru akan menghancurkan mereka, orang tenang mengingatkan diri bahwa mereka sudah pernah bertahan.