← Beranda
Orang yang Bisa Tertidur di Mana Saja, Kapan Saja Telah Menguasai 9 Keterampilan Hidup Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 6 Juli 2026 | 22.41 WIB
seseorang yang bisa tertidur di mana saja./Magnific/drobotdean

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang dapat tertidur di kursi bandara, di dalam kereta, saat perjalanan mobil, atau bahkan di ruangan yang cukup bising?

Banyak orang menganggap kemampuan tersebut sebagai "bakat alami" atau sekadar karena orang itu mudah mengantuk. Padahal, dari sudut pandang psikologi, kemampuan untuk tertidur dengan mudah sering kali mencerminkan sejumlah keterampilan hidup yang telah berkembang dengan baik.

Tentu saja, kemampuan ini tidak selalu berlaku untuk semua orang. Ada kondisi medis seperti narkolepsi atau gangguan tidur lainnya yang perlu ditangani oleh tenaga kesehatan.

Namun, bagi individu yang sehat, kemampuan untuk beristirahat kapan pun dibutuhkan sering kali menunjukkan hubungan yang baik antara pikiran, tubuh, dan kebiasaan sehari-hari.

Psikologi modern menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak hanya dipengaruhi oleh kasur yang nyaman atau suasana yang tenang, tetapi juga oleh cara seseorang mengelola stres, emosi, dan energinya.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (5/7), terdapat sembilan keterampilan hidup yang sering dimiliki oleh orang-orang yang mampu tertidur hampir di mana saja.

1. Mereka Mampu Mengelola Stres dengan Baik

Salah satu penyebab utama seseorang sulit tidur adalah pikiran yang terus bekerja. Ketika tubuh lelah tetapi otak masih sibuk memikirkan pekerjaan, masalah keluarga, atau kekhawatiran tentang masa depan, tidur menjadi sulit dicapai.

Orang yang mudah tertidur biasanya memiliki kemampuan untuk "mematikan mode waspada" ketika tubuh membutuhkan istirahat. Mereka tidak berarti bebas dari masalah, tetapi mampu menempatkan kekhawatiran pada waktunya.

Dalam psikologi, kemampuan ini berkaitan dengan regulasi stres. Mereka memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan saat itu juga. Ketika waktu istirahat tiba, mereka memberi izin kepada tubuh untuk benar-benar beristirahat.

2. Mereka Memiliki Regulasi Emosi yang Sehat

Emosi yang tidak terselesaikan sering kali mengikuti seseorang hingga waktu tidur. Kemarahan, rasa bersalah, kecemasan, atau kesedihan dapat membuat sistem saraf tetap aktif.

Sebaliknya, orang yang mudah tertidur cenderung memiliki kemampuan mengenali, menerima, dan mengelola emosinya. Mereka tidak selalu menekan perasaan, tetapi juga tidak membiarkan emosi mengambil alih seluruh pikirannya.

Kemampuan mengelola emosi membantu tubuh memasuki kondisi relaksasi dengan lebih cepat sehingga tidur menjadi lebih mudah.

3. Mereka Mampu Melepaskan Kontrol

Banyak orang mengalami kesulitan tidur karena ingin mengendalikan segala sesuatu. Mereka terus memikirkan apa yang akan terjadi besok atau mengulang-ulang percakapan yang sudah berlalu.

Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai rumination atau mengulang pikiran secara terus-menerus.

Orang yang dapat tidur hampir di mana saja biasanya lebih mampu menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Mereka fokus pada apa yang bisa dilakukan hari ini dan membiarkan sisanya berjalan sebagaimana mestinya.

Sikap menerima ini mengurangi beban mental yang sering menjadi penghalang tidur.

4. Mereka Mendengarkan Kebutuhan Tubuh

Sebagian orang memaksa diri tetap bekerja meski tubuh sudah memberi sinyal kelelahan. Mereka mengandalkan kopi, minuman berenergi, atau stimulasi lain agar tetap produktif.

Sebaliknya, orang yang mudah tidur cenderung lebih peka terhadap sinyal tubuh. Ketika tubuh membutuhkan istirahat, mereka tidak menganggapnya sebagai kelemahan.

Kesadaran terhadap kondisi fisik merupakan bagian dari keterampilan self-awareness, yaitu kemampuan memahami apa yang sedang dialami tubuh maupun pikiran.

Semakin seseorang selaras dengan kebutuhan tubuhnya, semakin mudah tubuh memasuki fase istirahat.

5. Mereka Tidak Terlalu Terikat pada Kesempurnaan

Perfeksionisme sering kali membuat seseorang sulit beristirahat. Mereka merasa pekerjaan harus benar-benar selesai sebelum boleh tidur atau terus memikirkan kesalahan kecil yang telah terjadi.

Orang yang bisa tidur dengan mudah biasanya memiliki standar yang realistis. Mereka tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, tetapi tidak menjadikan kesempurnaan sebagai syarat untuk merasa tenang.

Psikologi menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam berpikir membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur.

6. Mereka Memiliki Kemampuan Beradaptasi yang Tinggi

Sebagian orang hanya bisa tidur jika semua kondisi sempurna: lampu harus mati total, suhu ruangan harus tepat, dan tidak boleh ada suara sedikit pun.

Sebaliknya, orang yang dapat tidur di berbagai tempat menunjukkan tingkat adaptabilitas yang lebih baik.

Kemampuan beradaptasi ini bukan berarti mereka tidak memiliki preferensi, melainkan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak selalu ideal.

Dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan ini juga membuat mereka lebih tangguh menghadapi perubahan.

7. Mereka Memiliki Kepercayaan terhadap Lingkungan

Tidur adalah keadaan ketika seseorang berada dalam posisi paling rentan. Agar bisa tidur, otak harus merasa bahwa situasi relatif aman.

Orang yang mudah tertidur umumnya memiliki tingkat rasa aman psikologis yang cukup baik. Mereka tidak terus-menerus berada dalam mode siaga atau curiga terhadap lingkungan.

Hal ini berkaitan dengan sistem saraf yang mampu beralih dari kondisi "fight or flight" menuju kondisi relaksasi.

Meski demikian, kemampuan ini tentu bergantung pada situasi. Hampir semua orang akan sulit tidur jika benar-benar berada dalam lingkungan yang berbahaya.

8. Mereka Menjaga Ritme Hidup yang Konsisten

Tubuh manusia bekerja mengikuti ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur kapan kita merasa mengantuk dan kapan merasa segar.

Orang yang mudah tidur sering kali memiliki kebiasaan hidup yang relatif konsisten. Mereka memiliki pola makan, aktivitas fisik, dan waktu istirahat yang cukup teratur.

Konsistensi ini membantu tubuh mengenali kapan waktunya aktif dan kapan waktunya beristirahat.

Meskipun sesekali harus tidur di tempat yang tidak biasa, tubuh mereka tetap mampu menyesuaikan diri dengan cepat.

9. Mereka Memahami Bahwa Istirahat Adalah Bentuk Produktivitas

Salah satu perubahan pola pikir yang penting adalah melihat istirahat sebagai bagian dari produktivitas, bukan lawannya.

Orang yang mudah tidur biasanya tidak merasa bersalah ketika tubuh membutuhkan jeda. Mereka memahami bahwa tidur membantu meningkatkan konsentrasi, daya ingat, kreativitas, hingga kemampuan mengambil keputusan.

Psikologi positif menekankan bahwa pemulihan energi sama pentingnya dengan bekerja keras. Tanpa istirahat yang cukup, performa mental justru akan menurun.

Karena itu, mereka memandang tidur sebagai investasi bagi kesehatan fisik dan mental.

Kesimpulan

Kemampuan untuk tertidur di mana saja dan kapan saja bukan sekadar soal rasa kantuk. Dalam banyak kasus, hal tersebut mencerminkan kemampuan seseorang mengelola stres, mengatur emosi, menerima ketidakpastian, mendengarkan kebutuhan tubuh, serta menjaga keseimbangan hidup.

Meski demikian, penting diingat bahwa setiap orang memiliki pola tidur yang berbeda. Tidak semua orang yang sulit tidur memiliki masalah psikologis, dan tidak semua orang yang mudah tertidur memiliki kesehatan yang sempurna. Faktor usia, pekerjaan, kondisi lingkungan, hingga gangguan medis juga memainkan peran besar.

Pada akhirnya, pelajaran terpenting bukanlah bagaimana bisa tertidur di kursi bandara atau di dalam bus, melainkan bagaimana membangun hubungan yang lebih sehat dengan tubuh dan pikiran. Ketika keduanya bekerja selaras, istirahat menjadi lebih berkualitas, dan kualitas hidup pun ikut meningkat.

EDITOR: Hanny Suwindari