← Beranda
7 Frasa yang Sering Diucapkan oleh Orang Dewasa yang Punya Trauma Masa Kecil Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 30 Juni 2026 | 03.50 WIB
Frasa orang dewasa yang punya trauma masa kecil menurut Psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Trauma masa kecil kerap terbawa hingga dewasa tanpa disadari, dan hal ini bisa tercermin dari cara seseorang berbicara maupun frasa yang mereka gunakan dalam keseharian.

Dalam psikologi, orang yang memiliki luka emosional dari masa lalu sering kali menunjukkan pola komunikasi tertentu yang berkaitan dengan rasa takut, ketidakpercayaan, atau kebutuhan akan pengakuan dari orang lain. Ungkapan-ungkapan tersebut tampak biasa, namun dapat mencerminkan pengalaman dan pola pikir yang terbentuk sejak masa kecil.

Mengutip geediting.com pada Senin (29/6), terdapat tujuh frasa yang menurut psikologi sering digunakan oleh orang dewasa yang memiliki trauma masa kecil, meskipun mereka tidak menyadarinya.

Baca Juga: Memiliki 7 Hal Ini Saat Kecil? Masa Kecil Anda Lebih Baik daripada Masa Kecil Anak-Anak Zaman Sekarang Menurut Psikologi

1. “baik-baik saja” sebagai topeng

Kata-kata “saya baik-baik saja” telah menjadi mantra yang sering diucapkan oleh orang dewasa dengan trauma masa kecil, meskipun kenyataannya jauh berbeda dari apa yang mereka rasakan.

Frasa sederhana ini sebenarnya menjadi perisai yang melindungi mereka dari pertanyaan lebih lanjut tentang kondisi emosional mereka yang sebenarnya. Mereka telah mengembangkan kemampuan luar biasa untuk menyembunyikan perasaan mereka sejak usia dini, hingga menjadi ahli dalam menampilkan eksterior yang tenang dan terkendali.

Respons “baik-baik saja” ini bukan sekadar jawaban standar, melainkan mekanisme pertahanan yang telah terpatri untuk menghindari mengungkapkan gejolak emosi yang sebenarnya bergejolak di bawah permukaan.

2. Penolakan bantuan sebagai bentuk pertahanan

Orang-orang dengan trauma masa kecil sering menggunakan frasa “saya tidak butuh bantuan” sebagai respons otomatis terhadap tawaran bantuan dari orang lain. Hal ini berakar dari pengalaman masa kecil di mana mereka harus belajar untuk mandiri dan hanya mengandalkan diri sendiri.

Penolakan ini bukanlah karena mereka benar-benar tidak membutuhkan bantuan, tetapi lebih kepada mekanisme pertahanan yang tertanam dalam diri mereka. Perilaku ini muncul sebagai cara untuk mempertahankan kontrol dan melindungi diri dari kemungkinan kekecewaan atau luka batin yang lebih dalam.

3. Menyalahkan diri sebagai kebiasaan

Ungkapan “ini selalu salah saya” menjadi kalimat yang sering terucap dari mulut orang dewasa dengan trauma masa kecil, mencerminkan pola pikir yang terbentuk dari pengalaman masa lalu mereka yang penuh dengan kritik dan tuduhan.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sering disalahkan secara tidak adil cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang secara otomatis mengambil tanggung jawab atas hal-hal di luar kendali mereka.

Pola pikir ini dapat mengakibatkan perasaan bersalah dan malu yang berkelanjutan dalam kehidupan dewasa mereka. Kondisi ini sering kali membuat mereka kesulitan untuk membedakan antara tanggung jawab yang sewajarnya dengan penyalahan diri yang berlebihan.

4. Permintaan maaf yang berlebihan

Bagi mereka yang mengalami trauma masa kecil, kata “maaf” telah berubah dari ungkapan tulus menjadi respons refleks yang sering kali tidak pada tempatnya. Hal ini berakar dari ketakutan mendalam akan konflik dan keyakinan bahwa mereka selalu melakukan kesalahan.

Permintaan maaf berlebihan ini menjadi cara mereka untuk mencegah potensi konflik sebelum benar-benar terjadi. Pola ini menunjukkan bagaimana trauma masa kecil dapat mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, bahkan dalam hal-hal yang tampaknya sepele.

5. Kekaburan ingatan sebagai pelindung

Frasa “saya tidak ingat” sering muncul sebagai mekanisme pertahanan alami otak untuk melindungi dari kenangan traumatis masa kecil. Fenomena ini bukan sekadar lupa biasa, melainkan cara otak secara tidak sadar menyembunyikan ingatan yang menyakitkan.

Proses mengingat kembali membutuhkan waktu dan hanya terjadi ketika seseorang sudah siap untuk menghadapi dan memproses kenangan tersebut. Respons ini menunjukkan bagaimana tubuh dan pikiran bekerja sama untuk melindungi kesehatan mental seseorang.

6. Merendahkan pencapaian diri

Orang dengan trauma masa kecil sering menggunakan frasa “saya hanya beruntung” untuk meremehkan prestasi mereka sendiri. Ungkapan ini mencerminkan kesulitan mereka untuk mengakui dan menghargai kerja keras serta bakat yang mereka miliki.

Perilaku ini berakar dari perasaan tidak layak atau ketakutan bahwa kesuksesan mereka tidak akan bertahan lama. Pola pikir ini sering kali membuat mereka kesulitan untuk menerima pujian atau mengakui peran aktif mereka dalam mencapai keberhasilan.

7. Meminimalkan perasaan dan pengalaman

Frasa “tidak apa-apa” atau “tidak masalah” sering digunakan sebagai cara untuk meminimalkan perasaan dan pengalaman pribadi oleh orang dewasa dengan trauma masa kecil. Ungkapan ini menjadi mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari potensi rasa sakit atau kekecewaan yang mungkin timbul.

Kata-kata ini sebenarnya menyiratkan bahwa kebutuhan, perasaan, atau pengalaman mereka tidak penting. Penggunaan frasa ini secara berulang menunjukkan kebutuhan mendalam untuk didengar dan divalidasi, meskipun mereka sendiri sering kali tidak menyadarinya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho