← Beranda
Anda Benar-Benar Telah Dewasa Ketika 9 Hal Ini Berhenti Mengganggu Anda Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 29 Juni 2026 | 03.21 WIB
seseorang yang benar-benar telah dewasa / foto: Magnific/SkelDry

JawaPos.com - Menjadi dewasa bukan sekadar soal usia. Banyak orang berusia 40 atau bahkan 50 tahun masih mudah tersinggung oleh hal-hal kecil, sementara ada yang berusia 25 tahun sudah mampu menghadapi berbagai situasi dengan kepala dingin.

Dalam psikologi, kedewasaan emosional diukur dari bagaimana seseorang mengelola pikiran, emosi, dan reaksinya terhadap dunia. Orang yang matang secara emosional bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau sedih. Mereka hanya tidak lagi membiarkan hal-hal sepele menguasai hidup mereka.

Seiring bertambahnya pengalaman hidup, kita mulai menyadari bahwa energi mental adalah sumber daya yang sangat berharga. Tidak semua hal layak dipikirkan, diperdebatkan, atau dijadikan beban.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat sembilan tanda bahwa Anda benar-benar telah dewasa ketika berbagai hal berikut ini tidak lagi mengganggu Anda.

1. Pendapat Orang yang Tidak Mengenal Anda

Saat masih muda, banyak orang merasa perlu mendapatkan persetujuan dari semua orang. Kritik kecil saja bisa menghancurkan rasa percaya diri selama berhari-hari.

Namun, psikologi menunjukkan bahwa individu yang memiliki self-esteem yang sehat tidak terlalu bergantung pada validasi eksternal.

Mereka memahami bahwa setiap orang memiliki sudut pandang berbeda.

Seseorang mungkin menganggap Anda terlalu pendiam, sementara orang lain justru melihat Anda sebagai pribadi yang tenang dan bijaksana.

Ketika dewasa, Anda mulai bertanya:

"Apakah orang ini benar-benar mengenal saya?"

Jika jawabannya tidak, maka pendapat mereka tidak lagi memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi hidup Anda.

Bukan berarti Anda anti kritik.

Anda hanya mampu membedakan kritik yang membangun dengan komentar yang sekadar opini.

2. Tidak Menjadi Pusat Perhatian

Banyak orang diam-diam ingin selalu diperhatikan.

Ketika unggahan media sosial tidak mendapat banyak respons, atau ketika orang lain lebih banyak dipuji, muncul rasa tidak nyaman.

Namun kedewasaan membawa perubahan besar.

Anda menyadari bahwa tidak menjadi pusat perhatian bukanlah masalah.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai berkurangnya spotlight effect, yaitu kecenderungan manusia merasa bahwa semua orang terus memperhatikan dirinya.

Padahal kenyataannya?

Sebagian besar orang terlalu sibuk memikirkan hidup mereka sendiri.

Kesadaran ini membuat hidup terasa jauh lebih ringan.

3. Kesuksesan Orang Lain

Saat melihat teman membeli rumah, mendapatkan promosi jabatan, atau berlibur ke luar negeri, rasa iri mudah muncul.

Tetapi orang yang matang memahami bahwa hidup bukan perlombaan.

Setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda.

Psikolog telah lama menjelaskan bahwa terlalu sering melakukan social comparison atau perbandingan sosial dapat meningkatkan stres, kecemasan, hingga menurunkan kepuasan hidup.

Orang dewasa lebih memilih menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi daripada ancaman.

Mereka fokus memperbaiki langkah sendiri, bukan menghitung pencapaian orang lain.

4. Kesalahan Kecil

Menumpahkan kopi.

Salah mengirim pesan.

Lupa membawa dompet.

Dulu mungkin hal-hal kecil seperti ini mampu merusak suasana hati sepanjang hari.

Kini tidak lagi.

Mengapa?

Karena Anda memahami bahwa kesalahan adalah bagian alami dari kehidupan.

Psikologi menyebut sikap ini sebagai self-compassion, yaitu kemampuan memperlakukan diri sendiri dengan pengertian ketika melakukan kesalahan.

Alih-alih berkata,

"Saya memang bodoh."

Anda mulai berkata,

"Tidak apa-apa. Semua orang pernah melakukan kesalahan."

Perubahan cara berpikir sederhana ini mampu mengurangi stres secara signifikan.

5. Tidak Bisa Menyenangkan Semua Orang

Ini mungkin salah satu pelajaran hidup yang paling sulit.

Selalu akan ada orang yang tidak menyukai Anda.

Bahkan jika Anda sudah berusaha bersikap baik.

Orang yang dewasa tidak lagi menghabiskan energi untuk membuat semua orang bahagia.

Mereka memahami bahwa setiap orang memiliki ekspektasi yang berbeda.

Berusaha menjadi "orang yang disukai semua orang" justru sering membuat seseorang kehilangan identitas dirinya.

Sebaliknya, mereka memilih hidup sesuai nilai dan prinsip yang diyakini.

6. Perubahan yang Tidak Bisa Dikendalikan

Rencana batal.

Cuaca buruk.

Kemacetan.

Perusahaan melakukan reorganisasi.

Harga kebutuhan naik.

Semua ini berada di luar kendali kita.

Psikologi menunjukkan bahwa salah satu sumber stres terbesar adalah berusaha mengontrol sesuatu yang memang tidak dapat dikendalikan.

Orang yang matang belajar membedakan dua hal:

Apa yang bisa mereka ubah.
Apa yang harus mereka terima.

Energi mereka difokuskan pada tindakan, bukan penyesalan.

Hasilnya, mereka lebih tangguh menghadapi perubahan.

7. Tidak Selalu Menang dalam Perdebatan

Saat masih muda, memenangkan argumen sering terasa seperti kemenangan pribadi.

Namun seiring bertambahnya kedewasaan, Anda mulai sadar bahwa tidak semua perdebatan layak dimenangkan.

Kadang-kadang, mempertahankan kedamaian jauh lebih penting daripada membuktikan diri benar.

Psikologi komunikasi menunjukkan bahwa banyak konflik tidak selesai karena kurangnya fakta, melainkan karena masing-masing pihak ingin merasa didengar.

Orang dewasa lebih sering memilih mendengarkan daripada sekadar membalas.

Mereka tahu bahwa diam bukan selalu tanda kalah.

Kadang itu adalah tanda kebijaksanaan.

8. Masa Lalu

Setiap orang pernah melakukan kesalahan.

Setiap orang memiliki penyesalan.

Namun terus hidup di masa lalu hanya akan menguras energi mental.

Psikologi menjelaskan bahwa rumination atau kebiasaan mengulang-ulang pikiran negatif merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.

Orang yang dewasa belajar mengambil pelajaran dari masa lalu tanpa terus tinggal di dalamnya.

Mereka memahami bahwa pengalaman memang membentuk diri mereka, tetapi tidak harus menentukan masa depan.

9. Penolakan

Tidak diterima bekerja.

Bisnis gagal.

Lamaran ditolak.

Hubungan berakhir.

Dulu semua ini terasa seperti akhir dunia.

Kini Anda melihatnya sebagai bagian dari proses.

Psikologi menunjukkan bahwa individu dengan growth mindset cenderung memandang kegagalan sebagai kesempatan belajar, bukan bukti bahwa dirinya tidak mampu.

Penolakan tidak lagi dianggap sebagai penghinaan terhadap harga diri.

Sebaliknya, ia menjadi informasi yang membantu seseorang berkembang.

Banyak keberhasilan besar justru lahir setelah serangkaian kegagalan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Kedewasaan Adalah Tentang Memilih Pertempuran yang Layak

Menjadi dewasa bukan berarti hidup tanpa masalah.

Bukan pula berarti Anda tidak pernah merasa sedih, kecewa, atau marah.

Kedewasaan adalah kemampuan memilih mana yang benar-benar pantas mendapatkan perhatian Anda.

Semakin matang seseorang, semakin ia menyadari bahwa ketenangan batin jauh lebih berharga daripada keinginan untuk selalu benar, selalu dipuji, atau selalu diterima oleh semua orang.

Pada akhirnya, ukuran kedewasaan bukanlah seberapa banyak pengalaman yang telah Anda lalui, melainkan seberapa bijak Anda merespons pengalaman tersebut.

Jika beberapa dari sembilan hal di atas sudah tidak lagi mengganggu Anda, kemungkinan besar Anda sedang berada di jalur menuju kedewasaan emosional yang sesungguhnya—sebuah kondisi ketika hidup terasa lebih damai, lebih seimbang, dan jauh lebih bermakna.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho