JawaPos.com - Gym seharusnya menjadi tempat untuk memperbaiki diri, bukan ajang mencari validasi. Namun, tanpa disadari, banyak pria melakukan kebiasaan tertentu yang justru membuat orang lain merasa terganggu. Ironisnya, mereka sering menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal, bahkan mengira itu menunjukkan rasa percaya diri.
Dari sudut pandang psikologi, perilaku-perilaku ini sering kali bukan muncul karena niat buruk. Sebaliknya, mereka dipengaruhi oleh kebutuhan akan pengakuan sosial, keinginan membangun citra diri, atau kurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat sepuluh kebiasaan pria di gym yang sering membuat orang lain memutar mata—meskipun pelakunya mungkin sama sekali tidak menyadarinya.
1. Menguasai Satu Alat Terlalu Lama Sambil Bermain Ponsel
Tidak ada yang salah dengan beristirahat di antara set latihan. Namun, ketika waktu istirahat berubah menjadi lima hingga sepuluh menit hanya karena asyik menggulir media sosial, orang lain mulai kehilangan kesabaran.
Dalam psikologi, fenomena ini berkaitan dengan egocentric bias, yaitu kecenderungan seseorang lebih fokus pada kebutuhannya sendiri daripada menyadari dampaknya terhadap orang lain.
Pelakunya sering kali merasa, "Saya masih menggunakan alat ini." Padahal, bagi orang lain, alat tersebut sebenarnya hanya sedang "diparkir."
Kesadaran situasional merupakan salah satu tanda kecerdasan sosial yang penting di ruang publik seperti gym.
2. Menjatuhkan Beban dengan Dramatis Setelah Set Selesai
Beberapa latihan berat memang mengharuskan beban dijatuhkan demi alasan keselamatan. Namun, ada pula yang sengaja membanting dumbbell atau barbell agar terdengar keras.
Psikologi sosial menjelaskan bahwa sebagian orang memiliki dorongan untuk menunjukkan kompetensi melalui sinyal yang mudah terlihat atau terdengar. Suara keras menjadi cara tidak langsung untuk mengatakan, "Lihat seberapa berat beban yang saya angkat."
Sayangnya, bagi sebagian besar orang di sekitar, perilaku ini justru terlihat seperti mencari perhatian.
Kekuatan tidak selalu perlu diumumkan melalui suara.
3. Terlalu Lama Berkaca Sambil Berpose
Cermin memang berguna untuk mengecek teknik latihan. Namun, jika lebih banyak waktu dihabiskan untuk memamerkan otot daripada berlatih, orang lain biasanya mulai merasa jengah.
Menurut psikologi, manusia memiliki kebutuhan alami untuk memperoleh umpan balik positif terhadap citra dirinya. Masalah muncul ketika kebutuhan tersebut berubah menjadi pencarian validasi secara terus-menerus.
Orang yang benar-benar percaya diri biasanya tidak merasa perlu memeriksa penampilannya setiap beberapa menit.
4. Memberikan Nasihat yang Tidak Diminta
Ada pria yang baru beberapa bulan berlatih tetapi sudah sibuk mengoreksi teknik orang lain.
Fenomena ini sering dikaitkan dengan Dunning-Kruger Effect, yaitu kecenderungan seseorang yang masih memiliki pengetahuan terbatas justru merasa dirinya sangat ahli.
Banyak anggota gym sebenarnya menghargai bantuan jika memang diminta. Namun, memberikan saran tanpa izin sering dianggap mengganggu, bahkan terasa merendahkan.
Membantu adalah hal baik, tetapi menghormati batasan orang lain jauh lebih penting.
5. Berteriak Terlalu Keras Saat Mengangkat Beban
Mengeluarkan suara saat melakukan angkatan maksimal adalah hal yang wajar. Namun, ada perbedaan besar antara mengatur napas dan berteriak hingga seluruh ruangan menoleh.
Dalam psikologi evolusioner, perilaku ini bisa dipahami sebagai bentuk dominance display, yaitu upaya menunjukkan kekuatan kepada lingkungan sosial.
Yang menjadi masalah adalah persepsi orang lain. Alih-alih terlihat kuat, pelaku sering dianggap sedang berusaha menarik perhatian.
6. Tidak Membereskan Peralatan Setelah Digunakan
Meninggalkan piring beban di barbell atau membiarkan dumbbell berserakan merupakan salah satu pelanggaran etika gym yang paling sering dikeluhkan.
Psikologi menyebut adanya fenomena diffusion of responsibility, yaitu anggapan bahwa pasti ada orang lain yang akan membereskannya.
Padahal, tindakan sederhana seperti mengembalikan alat ke tempatnya menunjukkan rasa hormat terhadap komunitas.
Kebiasaan kecil ini sering menjadi indikator kedewasaan sosial.
7. Terlalu Sering Mengambil Video Hingga Mengganggu Orang Lain
Merekam latihan untuk mengevaluasi teknik adalah hal yang masuk akal. Namun, jika tripod dipasang di tengah jalan atau orang lain ikut terekam tanpa izin, situasinya berubah.
Psikologi mengenal konsep spotlight effect, yaitu kecenderungan seseorang merasa dirinya menjadi pusat perhatian lebih besar daripada kenyataannya.
Akibatnya, pelaku lebih fokus menghasilkan konten daripada menyadari bahwa gym merupakan ruang bersama.
8. Berjalan Keliling Seolah Memiliki Seluruh Ruangan
Ada pria yang sengaja berjalan dengan dada dibusungkan, mengambil jalur lebar, atau berdiri tepat di depan rak dumbbell sehingga orang lain sulit mengambil beban.
Bahasa tubuh memang memengaruhi persepsi. Namun, psikologi menunjukkan bahwa orang yang benar-benar memiliki rasa percaya diri stabil cenderung tidak perlu terus-menerus menunjukkan dominasi fisik.
Kepercayaan diri sejati biasanya terasa tenang, bukan memenuhi ruangan.
9. Membandingkan Diri dengan Semua Orang
Sebagian pria diam-diam terus memperhatikan siapa yang mengangkat beban lebih berat, siapa yang memiliki tubuh lebih besar, atau siapa yang terlihat lebih atletis.
Psikolog menyebut kecenderungan ini sebagai social comparison, yaitu kebiasaan menilai diri berdasarkan pencapaian orang lain.
Perbandingan sosial memang dapat memotivasi, tetapi jika dilakukan terus-menerus justru memicu rasa tidak puas dan perilaku kompetitif yang tidak sehat.
Gym seharusnya menjadi tempat melawan diri sendiri, bukan perlombaan tanpa garis akhir.
10. Bertindak Seolah Gym Adalah Panggung Pertunjukan
Mulai dari berbicara sangat keras, sengaja menarik perhatian, hingga terus mencari pengakuan dari orang sekitar, sebagian pria tanpa sadar memperlakukan gym seperti media sosial versi nyata.
Psikologi menjelaskan bahwa perilaku ini sering berasal dari kebutuhan akan validasi eksternal.
Masalahnya, validasi dari orang lain hanya memberikan kepuasan sementara. Sebaliknya, motivasi intrinsik—berolahraga demi kesehatan, kekuatan, atau perkembangan diri—lebih berkaitan dengan kepuasan jangka panjang.
Orang yang fokus pada proses biasanya justru lebih dihormati dibanding mereka yang sibuk membangun citra.
Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadari Perilaku Ini?
Alasan utamanya adalah manusia memiliki blind spot terhadap perilakunya sendiri. Kita cenderung menilai tindakan kita berdasarkan niat, sementara orang lain menilainya berdasarkan dampak yang mereka rasakan.
Seseorang mungkin berpikir:
"Saya hanya istirahat sebentar."
"Saya cuma bercanda."
"Saya hanya bersemangat."
"Saya ingin membantu."
Namun, orang lain mungkin melihat hal yang berbeda:
Tidak menghargai waktu orang lain.
Mengganggu suasana.
Mencari perhatian.
Bersikap sok tahu.
Perbedaan antara niat dan persepsi inilah yang sering memunculkan kesalahpahaman dalam lingkungan sosial, termasuk di gym.
Penutup
Pada akhirnya, etika di gym bukan soal siapa yang mengangkat beban paling berat atau memiliki tubuh paling berotot. Justru, orang yang paling dihormati biasanya adalah mereka yang mampu menyeimbangkan disiplin latihan dengan kepedulian terhadap orang lain.
Psikologi menunjukkan bahwa kesadaran sosial merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional. Mengembalikan peralatan ke tempatnya, berbagi alat saat diperlukan, menghormati ruang pribadi orang lain, dan berlatih tanpa perlu mencari perhatian adalah kebiasaan sederhana yang menciptakan lingkungan gym yang lebih nyaman bagi semua orang.