← Beranda
8 Ungkapan yang Sering Digunakan Orang di Restoran yang Menurut Psikologi Dapat Mencerminkan Kurangnya Kelas
Irfan Ferdiansyah• Senin, 29 Juni 2026 | 02.42 WIB
seseorang yang mencerminkan kurangnya kelas / foto: Magnific/freepik

JawaPos.com - Saat berada di restoran, cara seseorang berbicara sering kali meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada pakaian yang dikenakannya. Dalam psikologi sosial, pilihan kata mencerminkan tingkat empati, kecerdasan emosional, kemampuan mengendalikan diri, serta cara seseorang memandang orang lain. Karena itu, ungkapan yang tampak sepele bisa memberikan gambaran mengenai karakter dan etika seseorang.

Perlu dipahami sejak awal bahwa "kurang kelas" bukan berarti berkaitan dengan kekayaan, status sosial, atau tingkat pendidikan. Seseorang yang sederhana tetap bisa terlihat berkelas jika memperlakukan orang lain dengan hormat. Sebaliknya, orang yang kaya sekalipun dapat meninggalkan kesan buruk apabila menunjukkan sikap merendahkan orang lain.

Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat delapan ungkapan yang sering terdengar di restoran dan menurut berbagai temuan dalam psikologi komunikasi dapat mencerminkan rendahnya kecerdasan emosional maupun etika sosial.

1. "Hei, pelayan!"

Memanggil staf restoran dengan bentakan atau siulan adalah salah satu perilaku yang paling sering dianggap tidak sopan.

Dalam psikologi interpersonal, cara seseorang memperlakukan individu yang bekerja di sektor layanan sering dipandang sebagai indikator empati dan rasa hormat terhadap sesama. Menggunakan sapaan seperti "Permisi", "Mas", "Mbak", atau "Pak/Bu" biasanya menciptakan interaksi yang lebih positif dibanding memanggil dengan nada memerintah.

Orang yang terbiasa membentak cenderung menunjukkan kebutuhan untuk mendominasi situasi, bukan membangun komunikasi yang saling menghargai.

2. "Cepat sedikit, dong!"

Semua orang tentu menginginkan pelayanan yang cepat. Namun menyampaikan keluhan dengan nada memerintah berbeda dengan menyampaikannya secara sopan.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan dan mengendalikan frustrasi merupakan bagian penting dari kematangan emosional. Kalimat bernada mendesak atau kasar sering kali menunjukkan rendahnya toleransi terhadap ketidaknyamanan.

Mengatakan, "Maaf, apakah pesanan kami masih lama?" akan menghasilkan kesan yang jauh lebih baik dibanding menyuruh staf mempercepat pelayanan.

3. "Saya bayar mahal di sini!"

Kalimat ini biasanya muncul ketika pelanggan merasa kecewa terhadap pelayanan.

Memang pelanggan berhak menyampaikan komplain. Namun mengaitkan nilai diri dengan jumlah uang yang dibayarkan sering kali mencerminkan pola pikir bahwa uang memberikan hak untuk memperlakukan orang lain secara semena-mena.

Dalam psikologi sosial, perilaku seperti ini sering dikaitkan dengan rasa superioritas dan kecenderungan melihat hubungan sebagai hierarki kekuasaan.

4. "Memangnya kamu tahu siapa saya?"

Ungkapan ini sering digunakan untuk memperoleh perlakuan khusus.

Dari sudut pandang psikologi, individu yang merasa perlu terus-menerus menegaskan status atau pengaruhnya justru sering memiliki kebutuhan tinggi akan validasi sosial.

Orang yang benar-benar percaya diri umumnya tidak perlu mengingatkan orang lain mengenai jabatan, kekayaan, atau koneksi yang dimilikinya.

5. "Makanan begini saja kok mahal."

Tidak ada yang salah dengan mempertanyakan harga jika dilakukan dengan sopan.

Namun mengeluh keras-keras sambil meremehkan kualitas makanan di depan pelanggan lain sering menciptakan suasana yang tidak nyaman.

Psikologi menjelaskan bahwa orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung menyampaikan kritik secara konstruktif kepada pihak yang tepat, bukan menjadikannya tontonan publik.

6. "Pokoknya salah kalian."

Kesalahan memang bisa terjadi, baik dari pihak restoran maupun pelanggan.

Namun menyalahkan staf tanpa mau mendengar penjelasan menunjukkan pola pikir defensif dan rendahnya kemampuan mengambil perspektif orang lain.

Psikologi menyebut kemampuan melihat situasi dari berbagai sudut pandang sebagai salah satu ciri kematangan sosial. Individu yang mampu berdialog biasanya lebih mudah menemukan solusi dibanding langsung mencari kambing hitam.

7. "Kasih yang paling mahal."

Sekilas kalimat ini terdengar biasa. Namun jika diucapkan semata-mata untuk pamer kepada orang lain, maknanya menjadi berbeda.

Dalam psikologi konsumen, perilaku membeli sesuatu demi menunjukkan status sosial dikenal sebagai conspicuous consumption. Motivasinya bukan karena kebutuhan atau kualitas produk, melainkan keinginan memperoleh pengakuan dari lingkungan.

Orang yang benar-benar percaya diri umumnya memilih makanan berdasarkan selera, bukan demi terlihat lebih bergengsi.

8. "Tip? Buat apa?"

Memberi tip memang bergantung pada budaya dan kebijakan masing-masing negara. Di banyak tempat, termasuk Indonesia, tip bukanlah kewajiban.

Namun mengucapkan kalimat tersebut dengan nada meremehkan atau mengejek staf dapat mencerminkan kurangnya apresiasi terhadap pekerjaan orang lain.

Psikologi positif menunjukkan bahwa rasa syukur dan penghargaan terhadap kontribusi orang lain berhubungan dengan kualitas hubungan sosial yang lebih baik. Bahkan jika tidak memberikan tip, menyampaikan ucapan terima kasih dengan tulus tetap merupakan bentuk penghormatan yang berarti.

Mengapa Pilihan Kata Sangat Penting?

Psikologi komunikasi menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat menyampaikan informasi. Cara seseorang berbicara juga mengirimkan sinyal mengenai kepribadian, tingkat empati, kemampuan mengelola emosi, dan cara menghargai orang lain.

Di restoran, staf pelayanan sering menghadapi tekanan tinggi, mulai dari banyaknya pesanan hingga keluhan pelanggan. Karena itu, komunikasi yang sopan tidak hanya menciptakan suasana yang nyaman, tetapi juga membantu membangun interaksi yang saling menghormati.

Sebaliknya, penggunaan kalimat yang kasar, merendahkan, atau penuh tuntutan dapat membuat seseorang dipersepsikan kurang berkelas, meskipun memiliki penampilan mewah atau status sosial tinggi.

Penutup

Menjadi pribadi yang berkelas tidak ditentukan oleh restoran tempat kita makan atau besarnya tagihan yang kita bayar. Kelas sejati lebih terlihat dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang sedang melayani kita.

Ungkapan-ungkapan di atas bukan berarti setiap orang yang pernah mengucapkannya pasti memiliki karakter buruk. Konteks, nada bicara, dan situasi tetap sangat berpengaruh. Namun secara umum, psikologi menunjukkan bahwa komunikasi yang penuh rasa hormat, empati, dan pengendalian diri cenderung meninggalkan kesan yang jauh lebih positif daripada kata-kata yang bernada merendahkan atau menunjukkan superioritas.

Pada akhirnya, orang yang benar-benar berkelas tidak perlu membuktikannya lewat ucapan keras atau sikap dominan. Mereka justru dikenang karena kesopanan, penghargaan kepada sesama, dan kemampuan menjaga martabat semua orang dalam setiap interaksi.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho