JawaPos.com - Seiring bertambahnya usia, banyak orang berharap akan menjadi lebih bijaksana, tenang, dan percaya diri. Pengalaman hidup yang semakin panjang memang sering kali membuat seseorang lebih matang dalam menghadapi berbagai situasi. Namun kenyataannya, bertambahnya usia tidak selalu berjalan beriringan dengan meningkatnya rasa percaya diri.
Tanpa disadari, ada sejumlah kebiasaan yang justru mulai berkembang ketika seseorang memasuki usia dewasa hingga lanjut usia. Kebiasaan-kebiasaan ini terlihat sepele, bahkan sering dianggap sebagai bentuk kehati-hatian atau kedewasaan. Padahal, dari sudut pandang psikologi, perilaku tersebut perlahan mengikis keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri.
Kepercayaan diri bukan sekadar merasa hebat atau selalu optimistis. Psikologi menjelaskan bahwa kepercayaan diri adalah keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi tantangan, belajar dari kesalahan, dan tetap menghargai dirinya meski tidak sempurna. Sayangnya, beberapa pola pikir dan kebiasaan dapat menggerogoti fondasi tersebut sedikit demi sedikit.
Dilansir dari Expert Editor pada Sabtu (27/6), terdapat sembilan kebiasaan yang sering muncul seiring bertambahnya usia dan diam-diam menghancurkan kepercayaan diri menurut psikologi.
1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Di era media sosial, membandingkan diri dengan orang lain menjadi semakin mudah. Ironisnya, kebiasaan ini tidak berhenti ketika seseorang bertambah tua.
Sebagian orang mulai membandingkan pencapaian karier, kondisi finansial, rumah, kesehatan, hingga kehidupan keluarga dengan teman sebaya. Mereka merasa tertinggal karena melihat orang lain tampak lebih sukses.
Menurut psikologi, perbandingan sosial yang berlebihan dapat menurunkan harga diri. Seseorang akan lebih fokus pada kekurangan dirinya dibandingkan menghargai perjalanan hidup yang telah ditempuh.
Padahal setiap orang memiliki waktu, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Mengukur hidup dengan standar orang lain hanya akan membuat rasa percaya diri terus menurun.
2. Terlalu Fokus pada Kesalahan Masa Lalu
Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki. Namun tidak sedikit orang yang justru membawa beban penyesalan ke mana pun mereka pergi.
Mereka terus mengingat keputusan yang dianggap salah, peluang yang terlewat, atau kegagalan yang pernah dialami puluhan tahun lalu.
Psikologi menyebut kecenderungan ini sebagai rumination, yaitu kebiasaan mengulang-ulang pikiran negatif tanpa menemukan solusi.
Alih-alih belajar dari pengalaman, seseorang justru terjebak dalam rasa bersalah yang membuatnya kehilangan keyakinan untuk mencoba hal baru.
3. Takut Mencoba Hal Baru karena Merasa Sudah Terlambat
Banyak orang mulai mengatakan kalimat seperti:
"Saya sudah terlalu tua untuk belajar."
"Usia saya tidak lagi cocok memulai bisnis."
"Anak muda lebih cepat memahami teknologi."
Pernyataan semacam ini sebenarnya merupakan bentuk pembatasan diri (self-limiting beliefs).
Psikologi menunjukkan bahwa keyakinan negatif terhadap kemampuan diri sering kali lebih berpengaruh dibanding usia itu sendiri.
Saat seseorang berhenti mencoba, ia kehilangan kesempatan membuktikan bahwa dirinya masih mampu berkembang.
4. Terlalu Mengandalkan Validasi dari Orang Lain
Sebagian orang mengira kebutuhan akan pengakuan hanya dimiliki anak muda. Faktanya, banyak orang dewasa bahkan lanjut usia masih menggantungkan rasa percaya dirinya pada penilaian orang lain.
Mereka baru merasa berharga ketika dipuji, dihargai, atau dianggap berhasil.
Masalahnya, validasi dari luar bersifat sementara.
Psikologi menekankan pentingnya self-validation, yaitu kemampuan menghargai diri sendiri tanpa harus selalu menunggu persetujuan orang lain.
Ketika seluruh rasa percaya diri bergantung pada lingkungan, seseorang akan mudah merasa kecewa saat tidak mendapatkan apresiasi yang diharapkan.
5. Menghindari Tantangan demi Tetap Merasa Aman
Semakin bertambah usia, banyak orang semakin mencintai zona nyaman.
Mereka enggan mengambil tanggung jawab baru, belajar keterampilan baru, atau menghadapi perubahan karena takut gagal.
Padahal psikologi menjelaskan bahwa kepercayaan diri justru tumbuh melalui pengalaman menghadapi tantangan.
Setiap keberhasilan kecil setelah melewati kesulitan memperkuat keyakinan bahwa seseorang mampu mengatasi masalah berikutnya.
Sebaliknya, terus menghindari tantangan hanya membuat rasa takut semakin besar.
6. Terlalu Keras Mengkritik Diri Sendiri
Suara negatif dalam kepala sering kali menjadi musuh terbesar kepercayaan diri.
Banyak orang tanpa sadar mengatakan kepada dirinya sendiri:
"Saya memang tidak cukup pintar."
"Saya selalu gagal."
"Saya tidak berbakat."
"Saya sudah tidak berguna."
Psikologi menyebut pola ini sebagai negative self-talk.
Jika dilakukan terus-menerus, otak mulai mempercayai narasi tersebut sebagai kenyataan.
Akibatnya, seseorang semakin sulit melihat kelebihan dirinya dan merasa tidak layak mencoba sesuatu yang baru.
7. Mengabaikan Kesehatan Fisik dan Mental
Kepercayaan diri ternyata memiliki hubungan erat dengan kondisi tubuh.
Kurang tidur, pola makan yang buruk, minim aktivitas fisik, serta stres berkepanjangan dapat memengaruhi suasana hati dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik saling berkaitan.
Saat tubuh terasa lemah dan pikiran dipenuhi kelelahan, seseorang cenderung merasa kurang mampu menghadapi tantangan sehari-hari.
Merawat kesehatan bukan hanya tentang umur panjang, tetapi juga menjaga rasa percaya diri tetap kuat.
8. Terlalu Sering Mengatakan "Saya Memang Begini"
Kalimat seperti:
"Saya memang pemalu."
"Saya memang tidak bisa bicara di depan umum."
"Saya memang tidak berbakat memimpin."
sekilas terdengar sebagai bentuk penerimaan diri.
Namun dalam banyak kasus, pernyataan tersebut justru menjadi identitas tetap yang membatasi perkembangan diri.
Psikologi, khususnya konsep growth mindset, menjelaskan bahwa kemampuan manusia dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman.
Saat seseorang terus memberi label negatif pada dirinya, ia berhenti mencari peluang untuk berubah.
9. Menganggap Nilai Diri Ditentukan oleh Produktivitas
Seiring bertambahnya usia, perubahan karier, pensiun, atau berkurangnya aktivitas sering membuat seseorang merasa kehilangan identitas.
Mereka mulai berpikir bahwa dirinya hanya berharga jika masih bekerja, menghasilkan uang, atau terus mencapai prestasi.
Padahal psikologi menegaskan bahwa nilai seseorang tidak semata ditentukan oleh produktivitas.
Hubungan yang sehat, pengalaman hidup, kebijaksanaan, empati, serta kemampuan memberi dukungan kepada orang lain juga merupakan bagian penting dari makna diri.
Ketika seseorang hanya mengukur harga dirinya dari pencapaian, rasa percaya dirinya menjadi sangat rapuh saat keadaan berubah.
Mengapa Kebiasaan Ini Sulit Disadari?
Kebiasaan-kebiasaan di atas berkembang secara perlahan. Tidak ada perubahan besar yang langsung terasa.
Seseorang mungkin hanya mulai sedikit ragu pada dirinya, lebih sering menunda mencoba hal baru, atau lebih mudah merasa minder dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Lama-kelamaan, pola tersebut membentuk keyakinan bahwa dirinya memang tidak lagi mampu berkembang.
Padahal yang berubah bukan selalu kemampuan, melainkan cara memandang diri sendiri.
Psikologi menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kemampuan pribadi sangat memengaruhi tindakan, keputusan, hingga kualitas hidup seseorang. Ketika kepercayaan diri melemah, seseorang cenderung menghindari tantangan, kehilangan motivasi, dan semakin sulit keluar dari lingkaran tersebut.
Penutup
Bertambahnya usia seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun rasa percaya diri yang lebih kuat, bukan sebaliknya. Pengalaman hidup, keberhasilan, bahkan kegagalan dapat menjadi sumber pembelajaran yang memperkaya cara seseorang memandang dirinya.
Namun, hal itu hanya mungkin terjadi jika kita menyadari kebiasaan-kebiasaan yang tanpa sengaja mengikis keyakinan terhadap diri sendiri. Berhenti membandingkan diri, mengurangi kritik berlebihan, berani mencoba hal baru, menjaga kesehatan, dan menerima bahwa setiap orang terus memiliki peluang untuk berkembang merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat membantu membangun kembali rasa percaya diri.