← Beranda
Jika Anda Lebih Menyukai Teh daripada Kopi, Anda Mungkin Memiliki 9 Ciri Berikut Ini Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 28 Juni 2026 | 04.22 WIB
seseorang yang lebih menyukai teh daripada kopi / foto: Magnific/pressfoto

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sebagian orang tidak bisa memulai hari tanpa secangkir kopi, sementara yang lain merasa secangkir teh hangat sudah lebih dari cukup?

Sekilas, pilihan minuman tampak seperti masalah selera semata. Namun, psikologi menunjukkan bahwa preferensi kita terhadap makanan dan minuman sering kali berkaitan dengan kepribadian, kebiasaan berpikir, bahkan cara kita menghadapi kehidupan.

Tentu saja, menyukai teh tidak secara otomatis membuat seseorang memiliki kepribadian tertentu. Kepribadian manusia dibentuk oleh banyak faktor, mulai dari genetika, pengalaman hidup, hingga lingkungan sosial. Namun, sejumlah penelitian dalam psikologi konsumen dan psikologi kepribadian menemukan adanya pola-pola menarik antara preferensi minuman dan karakter seseorang.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (26/6), jika Anda termasuk orang yang lebih memilih teh dibandingkan kopi, berikut sembilan karakter yang mungkin lebih sering muncul dalam diri Anda.

1. Anda cenderung lebih tenang dalam menghadapi tekanan

Peminum teh sering kali menikmati proses, bukan hanya hasil akhirnya. Ritual menyeduh teh yang perlahan, menunggu air mencapai suhu yang tepat, hingga menikmati aromanya memberikan pengalaman yang menenangkan.

Psikologi mengenal konsep self-regulation, yaitu kemampuan seseorang mengelola emosi dan respons terhadap situasi yang menekan. Orang yang menikmati aktivitas santai seperti minum teh sering kali lebih terbiasa memberi jeda sebelum bereaksi.

Bukan berarti mereka tidak pernah stres. Namun, mereka cenderung tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak.

Alih-alih bereaksi secara impulsif, mereka lebih memilih berpikir beberapa saat sebelum bertindak.

2. Anda menikmati momen-momen sederhana

Bagi sebagian orang, kebahagiaan tidak selalu berasal dari pencapaian besar.

Mereka justru menemukan kepuasan dalam hal-hal kecil: hujan di sore hari, membaca buku favorit, atau menikmati secangkir teh hangat sambil mendengarkan musik.

Dalam psikologi positif, kemampuan menghargai pengalaman sehari-hari dikenal sebagai savoring. Orang yang memiliki kemampuan ini cenderung lebih mudah merasakan kepuasan hidup karena tidak selalu bergantung pada peristiwa luar biasa untuk merasa bahagia.

Teh sering kali menjadi bagian dari kebiasaan tersebut.

3. Anda lebih sabar

Tidak semua jenis teh bisa langsung diminum begitu diseduh.

Sebagian membutuhkan waktu agar rasa dan aromanya keluar dengan sempurna. Menariknya, orang yang menikmati proses tersebut sering kali juga memiliki kecenderungan lebih sabar dalam kehidupan sehari-hari.

Psikologi menyebut kemampuan menunda kepuasan sebagai delayed gratification.

Orang dengan kemampuan ini biasanya lebih mampu mengejar tujuan jangka panjang karena tidak selalu tergoda oleh hasil instan.

Mereka memahami bahwa hal-hal terbaik sering membutuhkan waktu.

4. Anda cenderung menjadi pendengar yang baik

Banyak pecinta teh menikmati percakapan yang tenang dibandingkan diskusi yang penuh kompetisi.

Mereka lebih suka memahami sudut pandang orang lain sebelum memberikan pendapat.

Dalam hubungan sosial, kemampuan mendengarkan aktif merupakan salah satu bentuk kecerdasan emosional.

Orang yang memiliki sifat ini biasanya membuat lawan bicara merasa dihargai karena tidak terburu-buru menyela atau menghakimi.

Jika Anda lebih sering menjadi tempat curhat teman-teman, mungkin inilah salah satu alasannya.

5. Anda lebih reflektif

Sebagian orang menggunakan waktu minum teh sebagai kesempatan untuk berpikir.

Mereka mengevaluasi keputusan yang telah diambil, mempertimbangkan langkah berikutnya, atau sekadar menikmati keheningan.

Psikologi menyebut kebiasaan ini sebagai refleksi diri.

Refleksi yang sehat membantu seseorang memahami emosi, mengenali pola perilaku, dan membuat keputusan yang lebih matang.

Orang yang reflektif tidak selalu lambat.

Mereka hanya lebih berhati-hati sebelum melangkah.

6. Anda menghargai keseimbangan hidup

Jika kopi sering dikaitkan dengan produktivitas dan energi tinggi, teh lebih identik dengan keseimbangan.

Banyak pecinta teh tidak hanya mengejar pencapaian, tetapi juga memperhatikan waktu istirahat, kesehatan mental, dan kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat.

Dalam psikologi, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berhubungan dengan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih baik.

Mereka memahami bahwa bekerja keras memang penting, tetapi memulihkan energi juga sama pentingnya.

7. Anda lebih terbuka terhadap pengalaman budaya

Teh memiliki sejarah panjang di berbagai negara.

Dari upacara minum teh di Jepang, tradisi teh sore di Inggris, hingga beragam teh herbal di berbagai belahan dunia, minuman ini sering kali membawa nilai budaya yang kaya.

Orang yang tertarik mengeksplorasi berbagai jenis teh sering menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.

Dalam model kepribadian Big Five, sifat ini dikenal sebagai openness to experience, yaitu keterbukaan terhadap ide, pengalaman, seni, dan budaya baru.

Mereka senang mencoba sesuatu yang berbeda dan melihat dunia dari berbagai perspektif.

8. Anda tidak selalu membutuhkan perhatian

Banyak pecinta teh menikmati waktunya sendiri.

Mereka tidak merasa harus selalu menjadi pusat perhatian agar merasa berharga.

Psikologi membedakan antara introversi dan rasa malu.

Tidak semua orang yang senang menikmati waktu sendiri adalah pemalu.

Sebaliknya, sebagian orang memang memperoleh energi dari suasana yang tenang dan aktivitas yang lebih intim.

Jika Anda menikmati secangkir teh sambil membaca buku daripada menghadiri pesta besar, itu bukan berarti ada yang salah dengan Anda.

Itu hanya menunjukkan cara Anda mengisi ulang energi.

9. Anda menghargai kualitas dibanding kuantitas

Pecinta teh sering kali lebih memperhatikan rasa, aroma, suhu, hingga proses penyeduhan dibandingkan sekadar menghabiskan minumannya.

Kecenderungan ini dapat mencerminkan pola pikir yang menghargai kualitas dalam berbagai aspek kehidupan.

Mereka lebih memilih memiliki beberapa teman dekat daripada banyak kenalan.

Mereka lebih menyukai hubungan yang mendalam daripada interaksi yang dangkal.

Dalam bekerja pun, mereka cenderung mengejar hasil yang baik dibanding sekadar menyelesaikan banyak hal tanpa perhatian pada detail.

Penutup

Pilihan antara teh dan kopi tentu bukan alat untuk mengukur kepribadian seseorang secara mutlak. Tidak semua pecinta teh memiliki seluruh karakter di atas, dan banyak peminum kopi yang juga menunjukkan sifat-sifat yang sama.

Namun, psikologi memang menunjukkan bahwa preferensi sehari-hari sering kali mencerminkan pola perilaku, nilai, dan kebiasaan yang lebih luas.

Jika Anda lebih memilih secangkir teh hangat dibandingkan kopi, mungkin Anda termasuk pribadi yang menikmati ketenangan, menghargai proses, mampu merefleksikan diri, dan lebih mengutamakan keseimbangan dalam hidup.

Pada akhirnya, bukan teh atau kopi yang menentukan siapa diri kita. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita pilih setiap hari membantu membentuk cara kita berpikir, berinteraksi dengan orang lain, dan menjalani kehidupan dengan lebih sadar.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho