JawaPos.com – Perbedaan generasi di tempat kerja semakin terasa nyata terutama antara Gen Z dengan Generasi Boomer dan Gen X yang memiliki nilai kerja yang sangat berbeda.
Di tengah ketidakpastian ekonomi, gesekan antara generasi muda dan tua di tempat kerja menjadi semakin emosional dan sulit untuk dihindari setiap harinya.
Memahami perspektif Gen Z tentang perilaku generasi yang lebih tua penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan produktif bagi semua pihak.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (27/6), berikut sepuluh perilaku generasi Boomer dan Gen X di tempat kerja yang paling sering dianggap tidak menarik dan membuat frustrasi oleh generasi muda saat ini.
1. Setia pada perusahaan meski merugikan diri sendiri
Banyak generasi tua membeli narasi loyalitas terhadap perusahaan dengan rela lembur dan menerima gaji rendah demi hubungan baik dengan atasan mereka.
Gen Z yang jauh lebih bersedia berpindah kerja demi budaya perusahaan dan kompensasi yang lebih baik merasa frustrasi dengan standar yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Harapan agar karyawan muda menunjukkan loyalitas serupa meskipun tidak mendapat dukungan setimpal menjadi salah satu sumber ketegangan terbesar antargenerasi.
2. Membutuhkan struktur yang kaku untuk bisa bekerja
Studi dari Futures menemukan bahwa generasi muda memprioritaskan keseimbangan kerja dan pertumbuhan pribadi, sementara generasi tua lebih mengutamakan stabilitas dan struktur.
Gen Z menginginkan fleksibilitas melalui kerja hibrida atau jarak jauh, sementara generasi Boomer dan Gen X cenderung menginginkan kesamaan rutinitas dari hari ke hari.
Ketegangan semakin dalam ketika generasi tua mengharapkan anak muda mengalami perjuangan yang sama persis dengan yang mereka alami pada usia yang sama dulu.
3. Menjadikan pekerjaan sebagai seluruh identitas hidup
Bagi banyak generasi tua, pekerjaan adalah puncak dari kehidupan dan kesuksesan sehingga identitas mereka sangat bergantung pada apa yang mereka kerjakan setiap harinya.
Gen Z justru secara aktif melindungi waktu pribadi dan membangun keseimbangan hidup agar identitas mereka tidak sepenuhnya bergantung pada performa di tempat kerja.
Perbedaan filosofi ini menciptakan kesalahpahaman yang dalam tentang apa artinya bekerja dengan sungguh-sungguh di era yang sangat berbeda ini.
4. Gaya komunikasi yang penuh jargon korporat
Studi dari University of Florida menemukan bahwa jargon korporat tidak hanya merusak moral kerja tetapi juga menjadi hambatan bagi inklusivitas di tempat kerja.
Gen Z yang harus mempelajari bahasa korporat sepenuhnya dari awal merasa sangat frustrasi dengan pilihan komunikasi yang dianggap tidak perlu rumit dan eksklusif.
Setiap generasi memiliki cara berbicara yang khas, namun penggunaan jargon berlebihan oleh generasi tua sering terasa lebih sebagai penghalang daripada tanda profesionalisme.
5. Berpegangan kuat pada tradisi yang sudah tidak relevan
Banyak anak muda melaporkan merasa tidak didengar dan diabaikan di tempat kerja karena generasi tua menolak mengubah tradisi yang sudah tidak efektif lagi.
Upaya untuk memperbarui cara kerja yang sudah ketinggalan zaman sering kali ditolak oleh atasan yang lebih tua, membuat pekerjaan terasa sia-sia dan penuh hambatan.
Ketika generasi tua terus bertahan pada kebiasaan lama yang menurunkan efisiensi, seluruh tim menanggung beban rasa frustrasi dan ketidakpuasan yang terus menumpuk.
6. Menolak teknologi baru di tempat kerja
Meskipun penggunaan teknologi secara berlebihan memiliki dampak negatifnya sendiri, di banyak situasi penggunaan platform dan alat digital bisa membuat pekerjaan jauh lebih efisien.
Namun banyak pekerja muda menyaksikan rekan-rekan senior mereka menolak teknologi baru dan mengharapkan semua orang bekerja lebih lama demi mempertahankan rutinitas tradisional.
Kurangnya keterbukaan dan fleksibilitas terhadap inovasi ini membuat Gen Z merasa tidak didengar dan terhambat dalam upaya mereka untuk bekerja lebih efisien.
7. Membuat PTO terasa seperti sesuatu yang memalukan
Gen Z jauh lebih nyaman mengambil cuti, termasuk hari kesehatan mental, sebagai bagian dari nilai keseimbangan hidup yang mereka pegang dengan kuat.
Namun budaya generasi tua yang menghindari cuti demi loyalitas perusahaan secara tidak langsung menciptakan rasa bersalah pada anak muda yang menggunakan hak yang sah mereka.
Membuat orang merasa bersalah karena menggunakan waktu istirahat yang mereka berhak dapatkan adalah sesuatu yang dirasakan sangat tidak adil oleh generasi muda.
8. Menganggap burnout sebagai prestasi
Banyak generasi tua telah menjadikan kelelahan kerja sebagai bagian dari identitas profesional mereka, seolah kesibukan tanpa henti adalah tanda komitmen yang patut dibanggakan.
Sebagian bahkan mengikat harga diri mereka pada performa kerja sehingga masukan dari rekan yang lebih muda terasa seperti serangan personal yang sangat mengancam.
Gen Z menolak untuk melampaui batas demi perusahaan, terutama ketika permintaan itu datang dalam bentuk panggilan setelah jam kerja atau masuk di akhir pekan tanpa bayaran tambahan.
9. Terlalu banyak mengadakan rapat yang tidak perlu
Studi dari Jabra menemukan bahwa 58 persen waktu rapat sepanjang minggu sepenuhnya tidak diperlukan dan menciptakan inefisiensi yang signifikan bagi perusahaan maupun karyawan.
Gen Z yang lebih menyukai komunikasi tertulis seperti email merasa cara kerja ini sangat tidak efisien dan mengganggu fokus serta ritme kerja individual mereka.
Dipaksa untuk terus berpikir dan bekerja dalam lingkungan yang terlalu sosial membuat banyak anak muda justru menjadi kurang produktif dan lebih mudah terkuras energinya.
10. Mengabaikan percakapan tentang kesehatan mental
Gen Z sedang mengubah lanskap diskusi kesehatan mental di tempat kerja dengan secara aktif mencari akomodasi dan merasa nyaman berbicara tentang kesulitan dengan atasan.
Namun banyak generasi tua masih terjebak dalam stigma kesehatan mental dari masa muda mereka sehingga cenderung menutup atau menghindari topik yang sangat penting ini.
Sikap ini membuat kerentanan dan pencarian dukungan menjadi jauh lebih sulit bagi anak muda, yang semakin memperlebar jurang yang sudah ada antargenerasi di tempat kerja.