← Beranda
8 Cara Halus Orang Arogan Membuat Percakapan Hanya Berpusat pada Diri Mereka Sendiri Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahJumat, 26 Juni 2026 | 01.53 WIB
seseorang yang membuat percakapan hanya berpusat pada dirinya sendiri / foto: Magnific/fatir29c

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua sikap arogan muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Sebagian orang justru terlihat ramah, mudah berbicara, bahkan tampak antusias ketika berinteraksi. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, hampir setiap percakapan yang terjadi selalu berakhir dengan topik yang kembali kepada dirinya sendiri.

Psikologi menjelaskan bahwa kecenderungan untuk terus menjadikan diri sebagai pusat pembicaraan dapat berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan, keinginan mempertahankan citra diri, hingga rendahnya kemampuan mendengarkan secara empatik. Sikap ini sering dilakukan secara halus sehingga tidak selalu mudah dikenali.

Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (24/6), terdapat delapan cara yang sering dilakukan orang arogan untuk membuat percakapan hanya berpusat pada diri mereka sendiri.

1. Selalu Mengalihkan Topik ke Pengalaman Pribadinya

Pada dasarnya, berbagi pengalaman adalah hal yang wajar dalam sebuah percakapan. Namun, orang yang arogan cenderung menggunakan pengalaman orang lain hanya sebagai jembatan untuk kembali membahas dirinya sendiri.

Misalnya, ketika seseorang bercerita tentang pencapaian di tempat kerja, mereka langsung menyela dengan cerita tentang keberhasilan yang menurut mereka lebih besar. Akibatnya, perhatian yang seharusnya diberikan kepada lawan bicara justru berpindah sepenuhnya kepada mereka.

Dalam psikologi, perilaku ini menunjukkan rendahnya kemampuan untuk memberikan ruang kepada orang lain dan adanya kebutuhan kuat untuk mendapatkan validasi.

2. Mendengarkan Hanya untuk Menunggu Giliran Berbicara

Mereka tampak mendengarkan, mengangguk, bahkan memberikan respons singkat. Namun sebenarnya, fokus utama mereka bukan memahami isi pembicaraan, melainkan menunggu kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau kisah mereka sendiri.

Psikolog menyebut kemampuan mendengarkan yang sehat sebagai active listening, yaitu mendengarkan dengan tujuan memahami. Sebaliknya, orang yang terlalu berpusat pada diri sendiri lebih banyak melakukan waiting to talk, yakni mendengarkan hanya demi mendapatkan giliran berbicara.

Karena itu, percakapan dengan mereka sering terasa melelahkan dan tidak benar-benar memberikan ruang bagi orang lain untuk didengar.

3. Menjadikan Setiap Cerita Sebagai Ajang Kompetisi

Ketika orang lain menceritakan sesuatu, mereka merasa perlu menunjukkan bahwa pengalaman mereka lebih hebat, lebih sulit, atau lebih mengesankan.

Jika seseorang mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk bekerja, mereka akan menjawab, "Kalau aku lebih parah lagi, hampir tidak punya waktu istirahat."

Jika ada teman yang bercerita tentang perjalanan liburannya, mereka segera membandingkan dengan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi.

Menurut psikologi, perilaku ini sering muncul dari kebutuhan mempertahankan superioritas dan keinginan untuk selalu terlihat lebih unggul dibanding orang lain.

4. Sering Menyela Sebelum Orang Lain Selesai Berbicara

Menyela sesekali mungkin terjadi pada siapa saja. Namun, orang yang arogan melakukannya berulang kali karena merasa apa yang ingin mereka katakan lebih penting.

Mereka kesulitan menunggu, tidak sabar mendengar penjelasan secara utuh, dan cenderung menganggap sudut pandangnya lebih bernilai.

Kebiasaan ini secara tidak langsung mengirimkan pesan bahwa pendapat orang lain tidak terlalu penting. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat membuat hubungan menjadi kurang sehat karena salah satu pihak merasa tidak dihargai.

5. Memberikan Nasihat yang Tidak Diminta

Sekilas, memberikan saran terlihat seperti bentuk perhatian. Akan tetapi, orang yang arogan sering menggunakan nasihat sebagai cara untuk menunjukkan bahwa mereka lebih tahu dan lebih berpengalaman.

Alih-alih mendengarkan terlebih dahulu, mereka langsung menawarkan solusi, bahkan ketika lawan bicara hanya ingin didengar.

Psikologi menunjukkan bahwa kebutuhan untuk selalu menjadi "orang yang paling tahu" dapat berasal dari dorongan untuk mendapatkan rasa penting dan mempertahankan citra diri yang superior.

6. Jarang Mengajukan Pertanyaan Tulus kepada Orang Lain

Percakapan yang sehat berlangsung dua arah. Orang yang benar-benar tertarik pada lawan bicaranya akan mengajukan pertanyaan, mendengarkan jawaban, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus.

Sebaliknya, orang yang arogan biasanya lebih banyak berbicara daripada bertanya. Kalaupun mereka bertanya, sering kali pertanyaan itu hanya menjadi pembuka untuk kembali menceritakan pengalaman mereka sendiri.

Karena itu, setelah berbicara dengan mereka, seseorang sering menyadari bahwa hampir tidak ada bagian dari dirinya yang benar-benar dibahas.

7. Selalu Membawa Prestasi dan Keberhasilan ke Dalam Pembicaraan

Tanpa diminta, mereka berulang kali menyebut pencapaian, jabatan, koneksi, atau berbagai hal yang dapat meningkatkan citra diri mereka.

Cara penyampaiannya sering kali sangat halus sehingga tampak seperti cerita biasa. Namun jika diperhatikan, tujuan utamanya adalah memastikan orang lain mengetahui keunggulan mereka.

Menurut psikologi, kebutuhan untuk terus memamerkan prestasi dapat berkaitan dengan pencarian pengakuan eksternal. Semakin besar ketergantungan seseorang pada pujian orang lain, semakin besar pula kecenderungannya menjadikan dirinya pusat perhatian.

8. Mengembalikan Fokus Pembicaraan kepada Emosi dan Masalah Mereka

Ketika orang lain sedang berbagi kesulitan atau menceritakan pengalaman yang menyedihkan, orang yang arogan kerap mengalihkan fokus dengan mengatakan bahwa mereka pernah mengalami sesuatu yang lebih berat.

Alih-alih menunjukkan empati, mereka justru membuat situasi menjadi tentang diri mereka sendiri.

Akibatnya, orang lain merasa tidak didengarkan dan tidak memperoleh dukungan emosional yang diharapkan.

Psikologi menekankan bahwa empati adalah kemampuan untuk hadir bersama pengalaman orang lain tanpa harus menjadikannya sebagai panggung bagi diri sendiri.

Penutup

Sikap arogan tidak selalu muncul dalam bentuk kesombongan yang jelas terlihat. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut hadir secara halus melalui kebiasaan mengalihkan topik, mendominasi percakapan, atau terus mencari pengakuan.

Penting untuk dipahami bahwa sesekali membicarakan diri sendiri merupakan hal yang normal. Namun, ketika hampir setiap interaksi selalu berakhir dengan satu orang menjadi pusat perhatian dan mengabaikan kebutuhan orang lain untuk didengar, hubungan yang sehat dan seimbang menjadi sulit terwujud.

Percakapan yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, melainkan tentang bagaimana kedua pihak merasa dihargai, didengarkan, dan memiliki ruang yang sama untuk berbagi pengalaman.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho