← Beranda
10 Kepribadian Orang yang Berhenti Posting di Media Sosial tapi Masih Scroll Setiap Hari Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSenin, 22 Juni 2026 | 15.42 WIB
Kepribadian orang berhenti posting di media sosial tapi masih scroll menurut psikologi./Magnific/ freepik

JawaPos.com – Berhenti posting di media sosial namun masih scroll setiap hari adalah perilaku yang secara psikologi mencerminkan kepribadian langka yang sangat menarik untuk dipahami.

Orang-orang ini bukan sekadar pengguna pasif, melainkan individu yang sudah menemukan cara lebih sehat untuk berhubungan dengan dunia digital di sekitar mereka.

Memahami sifat-sifat yang mendorong pilihan ini penting karena media sosial memiliki dampak nyata pada kesehatan mental yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Dilansir dari laman YourTango pada Senin (22/6), berikut sepuluh kepribadian langka yang hampir selalu dimiliki oleh orang yang memilih berhenti posting di media sosial namun tetap memeriksanya setiap harinya.

Baca Juga: Simak Jadwal Waktu Shalat untuk Wilayah Tasikmalaya Hari Ini Senin, 22 Juni 2026

1. Lebih suka mengamati daripada menyiarkan diri

Dunia media sosial yang penuh drama dan negativitas mendorong banyak orang untuk mundur dari peran sebagai pembuat konten dan lebih memilih menjadi pengamat yang tenang.

Studi yang diterbitkan dalam Healthcare menemukan bahwa tingkat stres yang tinggi secara negatif memengaruhi perhatian dan fungsi kognitif seseorang secara signifikan.

Dengan begitu banyak yang terjadi dalam kehidupan nyata, memilih untuk mengamati daripada terus memperbarui dunia tentang diri sendiri adalah pilihan yang jauh lebih bijak.

Baca Juga: Song Weilong Raih People's Choice Award di Global OTT Awards 2026, Peran Lin Yusen di Shine on Me Tuai Pengakuan Dunia

2. Sangat menjaga privasi diri

Beberapa orang tidak ingin seluruh kehidupan mereka tersebar di internet, dan mereka memilih untuk menyimpan apa yang mereka anggap berharga hanya untuk diri sendiri.

Mereka mungkin memiliki profil kosong atau tidak pernah memperbarui status, yang membuat orang lain mengira mereka tidak aktif padahal sebenarnya mereka tetap memantau.

Menetapkan batas yang tegas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dibagikan secara online adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap nilai-nilai yang mereka pegang.

3. Sangat penuh pertimbangan sebelum bertindak

Mereka yang berhenti posting memahami kekuatan internet dan lebih memilih menyelesaikan masalah secara nyata daripada mempertontonkannya di hadapan orang banyak.

Memeriksa diri sendiri sebelum memposting sesuatu dan mengingat bahwa tidak ada yang bisa menggantikan koneksi tatap muka adalah cara mereka menjaga hubungan tetap berkualitas.

Berpikir sebelum bertindak di media sosial memperkuat hubungan nyata dan mencegah kemunduran kesejahteraan yang sering terjadi akibat reaksi impulsif di dunia digital.

4. Sangat selektif tentang ke mana energi mereka diberikan

Semakin banyak yang diberikan di media sosial, semakin banyak energi yang tersedot, dan orang-orang ini sudah memahami dengan baik dinamika tersebut.

Mereka ingin berbagi momen penting dan memperjuangkan hal yang mereka percaya, namun melakukannya dengan sangat intentional dan bukan secara reaktif atau kompulsif.

Kesehatan mental selalu menjadi prioritas utama, sehingga aktivitas apa pun yang menambah stres akan segera mereka tinggalkan tanpa rasa bersalah.

5. Memiliki validasi yang sangat kuat dari dalam diri

Studi tahun 2021 menemukan bahwa orang yang mendasarkan harga diri mereka pada persetujuan orang lain cenderung lebih memprioritaskan penampilan luar daripada nilai sejati mereka.

Orang yang berhenti posting tidak membutuhkan penegasan dari orang asing di internet untuk merasa bahwa kehadiran mereka memiliki arti dan nilai yang nyata.

Mereka tidak menyamakan harga diri dengan jumlah komentar atau tanda suka yang diterima karena fondasi rasa berharga mereka sudah dibangun dari dalam.

6. Rentan secara selektif dan hanya dengan orang yang tepat

Alih-alih berbagi kerentanan di depan audiens anonim, mereka menginginkan percakapan yang dalam, intim, dan bermakna dengan orang-orang yang benar-benar mereka percaya.

Mereka mendambakan stimulasi intelektual dan koneksi emosional yang tidak bisa dipenuhi oleh kolom komentar atau fitur story yang hilang dalam dua puluh empat jam.

Kerentanan sejati bagi mereka hanya bisa terjadi dalam konteks hubungan nyata di mana seseorang benar-benar hadir dan mendengarkan dengan sepenuh hati.

7. Aktif menjaga kedamaian batin mereka

Tingkat kecemasan yang tinggi akibat gulir tanpa henti mendorong sebagian orang untuk melindungi kedamaian batin mereka dari kebisingan yang tidak ada habisnya.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan layar yang berlebihan berkaitan langsung dengan peningkatan kecemasan dan depresi yang semakin sulit dikendalikan seiring waktu.

Memilih untuk tidak posting adalah cara mereka memastikan bahwa kehadiran online tidak menggerogoti kualitas kehidupan nyata yang sedang mereka perjuangkan untuk dijaga.

8. Mengutamakan keaslian daripada performa

Di dunia yang dipenuhi oleh citra yang dikurasi dan kehidupan yang dipoles, mereka memilih untuk tidak ikut-ikutan mempertontonkan versi palsu dari diri mereka.

Selama mereka hidup sesuai dengan keinginan dan nilai mereka sendiri, kebisingan media sosial hanya menjadi suara latar yang tidak perlu mendapat perhatian lebih.

Mereka menikmati dorongan dopamin sesekali dari melihat konten, namun dengan kesadaran penuh untuk tidak membiarkannya mengorbankan kesehatan mental yang sudah susah payah mereka jaga.

9. Sangat menghargai koneksi yang nyata

Penulis kesehatan Karolyn A. Gazella menjelaskan bahwa koneksi adalah fondasi dari kesehatan mental dan fisik yang membantu mengurangi perasaan isolasi dan kesepian.

Meskipun mereka masih menikmati scrolling dan bertukar pesan, pilihan untuk bertemu langsung selalu mengalahkan segala bentuk interaksi digital yang tersedia.

Mereka memahami bahwa hanya koneksi tatap muka yang mampu menciptakan kenangan mendalam dan hubungan yang benar-benar bertahan melampaui dunia maya.

10. Melindungi momen-momen bermakna dari eksposur berlebihan

Dengan fokus penuh pada kehadiran di saat ini, mereka menempatkan koneksi sejati jauh di atas kebutuhan untuk memamerkan atau mendapatkan pengakuan dari audiens online.

Berbagi momen secara berlebihan di media sosial sering kali mengalihkan fokus dari pengalaman itu sendiri menuju penampilan luar yang dinilai oleh orang yang bahkan tidak mengenal mereka.

Dengan mengambil langkah mundur dari dunia online, mereka mengarahkan kembali perhatian pada pembentukan kenangan nyata yang bisa bertahan seumur hidup.

EDITOR: Hanny Suwindari