← Beranda
10 Hal yang Dilakukan Orang Tidak Berkelas di Tempat Umum yang Membuat Mereka Menonjol karena Alasan yang Salah Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 21 Juni 2026 | 00.18 WIB
Ilustrasi seseorang yang menonjol karena alasan yang salah (Magnific/Rawpixel.com)

JawaPos.com - Di tempat umum, setiap orang tentu ingin dihargai dan dipandang positif oleh orang lain. Namun, sering kali tanpa disadari, ada perilaku tertentu yang justru membuat seseorang menarik perhatian karena alasan yang salah. Dalam psikologi sosial, cara seseorang membawa diri, menghormati orang lain, dan memahami norma bersama memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana ia dinilai oleh lingkungan.

Menjadi "berkelas" bukan soal kekayaan, pakaian mahal, atau status sosial. Berkelas lebih berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, memiliki empati, dan memahami bahwa hidup bersama orang lain membutuhkan rasa hormat dan kesadaran sosial.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (19/6), terdapat sepuluh kebiasaan yang sering dianggap tidak berkelas di tempat umum menurut sudut pandang psikologi.

Baca Juga: 8 Tanda Halus Seseorang Berpura-pura Baik tetapi Sebenarnya Menyimpan Niat Buruk Menurut Psikologi

1. Berbicara Terlalu Keras dan Selalu Ingin Menjadi Pusat Perhatian

Sebagian orang merasa perlu berbicara dengan suara keras, tertawa berlebihan, atau menceritakan segala sesuatu dengan dramatis agar diperhatikan. Dalam psikologi, perilaku ini terkadang berkaitan dengan kebutuhan akan validasi dan pengakuan dari lingkungan.

Ironisnya, orang yang benar-benar percaya diri tidak merasa perlu mendominasi suasana. Mereka mampu menarik perhatian secara alami tanpa memaksakan diri. Berbicara dengan volume yang sesuai menunjukkan kemampuan membaca situasi dan menghormati kenyamanan orang lain.

2. Merendahkan Orang Lain untuk Terlihat Lebih Hebat

Ada orang yang senang mengoreksi orang lain di depan umum, mengejek pelayan, atau meremehkan seseorang yang dianggap lebih rendah secara ekonomi atau pendidikan. Psikologi menunjukkan bahwa perilaku seperti ini sering kali berakar pada rasa tidak aman dan kebutuhan untuk meningkatkan harga diri melalui perbandingan sosial.

Seseorang yang memiliki harga diri sehat tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk merasa bernilai.

3. Memamerkan Kekayaan secara Berlebihan

Tidak ada yang salah dengan kesuksesan. Namun, ketika seseorang terus-menerus memamerkan harga barang, saldo rekening, atau pencapaiannya kepada orang lain, kesan yang muncul justru sering kali negatif.

Menurut psikologi, perilaku pamer berlebihan dapat menjadi bentuk kompensasi atas kebutuhan akan pengakuan. Orang yang benar-benar nyaman dengan dirinya biasanya tidak merasa perlu membuktikan nilai dirinya melalui simbol-simbol materi.

4. Tidak Menghormati Aturan dan Antrean

Menyela antrean, menerobos lalu lintas pejalan kaki, atau mengabaikan aturan sederhana menunjukkan rendahnya kesadaran sosial. Dalam psikologi, perilaku ini berkaitan dengan sifat egosentris, yaitu kecenderungan melihat kepentingan pribadi lebih penting daripada hak orang lain.

Orang yang berkelas memahami bahwa aturan dibuat untuk menjaga kenyamanan bersama, bukan untuk membatasi kebebasan pribadi.

Baca Juga: 8 Tanda Seseorang Memiliki Masa Kecil yang Menakjubkan Meskipun Jarang Membicarakannya Menurut Psikologi

5. Bermain Ponsel saat Sedang Berinteraksi dengan Orang Lain

Tidak sedikit orang yang sibuk memeriksa media sosial ketika sedang makan bersama teman atau berbicara dengan seseorang. Kebiasaan ini memberikan kesan bahwa lawan bicara tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian penuh.

Psikologi hubungan menunjukkan bahwa perhatian adalah salah satu bentuk penghargaan paling mendasar. Mengabaikan orang yang sedang bersama kita dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai dan merusak kualitas hubungan.

6. Mengeluh dan Mengkritik Segala Hal di Depan Umum

Ada orang yang hampir selalu mengeluh tentang makanan, pelayanan, cuaca, atau keadaan sekitar. Mereka seolah ingin menunjukkan standar yang tinggi, padahal yang muncul justru kesan negatif.

Psikologi menjelaskan bahwa emosi bersifat menular. Orang-orang cenderung menjauh dari individu yang terus-menerus menyebarkan energi negatif. Sebaliknya, orang yang mampu menjaga sikap tenang dan fleksibel biasanya lebih disukai dalam lingkungan sosial.

7. Memotong Pembicaraan dan Tidak Mau Mendengarkan

Sebagian orang hanya menunggu giliran berbicara tanpa benar-benar mendengarkan. Mereka sering menyela dan mengarahkan pembicaraan kembali kepada diri sendiri.

Dalam psikologi komunikasi, kemampuan mendengarkan merupakan salah satu tanda kecerdasan emosional. Orang yang mampu memberikan perhatian kepada orang lain cenderung dianggap lebih bijaksana, matang, dan menyenangkan untuk diajak berinteraksi.

Baca Juga: 7 Hal yang Dianjurkan Filsafat Stoicisme untuk Anda Simpan Sendiri Menurut Psikologi

8. Tidak Memiliki Empati terhadap Orang di Sekitar

Misalnya membiarkan sampah berserakan, berbicara kasar kepada petugas kebersihan, atau tidak peduli terhadap kenyamanan orang lain. Perilaku seperti ini sering kali menunjukkan kurangnya kesadaran sosial.

Empati adalah kemampuan memahami dan menghargai perasaan orang lain. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa individu dengan tingkat empati tinggi cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat dan mendapatkan kepercayaan lebih besar dari lingkungan.

9. Selalu Ingin Menang dalam Setiap Percakapan

Beberapa orang menganggap setiap diskusi sebagai kompetisi. Mereka harus selalu benar, selalu lebih tahu, dan tidak pernah mau mengakui kesalahan.

Menurut psikologi, kebutuhan berlebihan untuk selalu menang sering kali berasal dari ego yang rapuh. Orang yang matang secara emosional memahami bahwa mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan.

10. Tidak Mampu Mengendalikan Emosi di Depan Umum

Marah-marah kepada pegawai, membentak pasangan, atau meluapkan emosi secara berlebihan membuat seseorang menonjol dengan cara yang negatif. Psikologi menyebut kemampuan mengendalikan emosi sebagai bagian penting dari kecerdasan emosional.

Orang yang mampu tetap tenang dalam situasi sulit biasanya lebih dihormati dibandingkan mereka yang mudah meledak. Ketenangan menunjukkan kedewasaan, pengendalian diri, dan rasa hormat terhadap orang lain.

Baca Juga: 7 Hal yang Dianjurkan Filsafat Stoicisme untuk Anda Simpan Sendiri Menurut Psikologi

Penutup

Menurut psikologi, perilaku yang dianggap "tidak berkelas" sebenarnya jarang berkaitan dengan latar belakang ekonomi atau pendidikan. Sebaliknya, perilaku tersebut lebih banyak mencerminkan rendahnya kesadaran sosial, kurangnya empati, serta kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan.

Menjadi pribadi yang berkelas tidak berarti harus sempurna. Hal itu lebih tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, menjaga sikap di ruang bersama, dan mampu mengendalikan diri. Pada akhirnya, orang yang paling dihormati bukanlah mereka yang paling keras suaranya atau paling banyak memamerkan pencapaian, melainkan mereka yang mampu membuat orang lain merasa dihargai dan nyaman berada di sekitarnya.

EDITOR: Candra Mega Sari