JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada puluhan bahkan ratusan keputusan. Mulai dari hal sederhana seperti memilih menu sarapan, hingga keputusan besar yang berkaitan dengan karier, hubungan, atau masa depan. Ironisnya, semakin banyak pilihan dan informasi yang tersedia, semakin mudah seseorang terjebak dalam kebiasaan berpikir berlebihan atau overthinking.
Menurut psikologi, terlalu banyak berpikir tidak selalu membuat keputusan menjadi lebih baik. Sebaliknya, kebiasaan ini sering kali menimbulkan kecemasan, keraguan, dan penundaan yang justru menghambat tindakan. Seni pengambilan keputusan bukanlah tentang menemukan pilihan yang sempurna, melainkan tentang memilih dengan cukup bijak dan mampu menerima hasilnya.
Dilansir dari Expert Editor pada Kamis (18/6), terdapat tujuh cara sederhana yang didukung oleh prinsip psikologi untuk membantu berhenti terlalu banyak berpikir dan membuat keputusan dengan lebih tenang.
1. Tetapkan Batas Waktu untuk Memutuskan
Salah satu penyebab utama overthinking adalah keinginan untuk mempertimbangkan semua kemungkinan secara terus-menerus. Padahal, semakin lama seseorang merenungkan pilihan, semakin besar kemungkinan ia mengalami kelelahan mental.
Psikolog menyebut fenomena ini sebagai decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan. Ketika energi mental berkurang, kualitas keputusan justru menurun.
Cara sederhana untuk mengatasinya adalah dengan menentukan batas waktu. Misalnya:
Lima menit untuk keputusan kecil.
Satu hari untuk keputusan yang cukup penting.
Satu minggu untuk keputusan besar yang membutuhkan pertimbangan matang.
Memberi tenggat waktu membantu otak fokus pada informasi yang benar-benar relevan dan mengurangi kecenderungan berpikir tanpa akhir.
2. Jangan Mencari Kesempurnaan
Banyak orang menunda keputusan karena takut membuat kesalahan. Mereka berusaha menemukan pilihan yang sempurna, padahal dalam kenyataannya kesempurnaan hampir tidak pernah ada.
Psikolog dan peraih Nobel Herbert Simon memperkenalkan konsep satisficing, yaitu memilih opsi yang cukup baik dibandingkan terus mencari pilihan terbaik yang mungkin belum tentu ada.
Misalnya, ketika mencari pekerjaan, rumah, atau pasangan hidup, tidak semua aspek akan memenuhi keinginan seratus persen. Memilih sesuatu yang memenuhi kebutuhan utama sering kali lebih sehat daripada mengejar kesempurnaan yang tidak realistis.
3. Fokus pada Hal yang Dapat Dikendalikan
Salah satu ciri overthinking adalah memikirkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Misalnya:
Bagaimana pendapat orang lain nanti?
Bagaimana jika semuanya gagal?
Bagaimana jika saya menyesal?
Psikologi kognitif menunjukkan bahwa kecemasan meningkat ketika seseorang terlalu fokus pada faktor eksternal yang tidak dapat ia kendalikan.
Daripada menghabiskan energi untuk memikirkan hasil yang belum tentu terjadi, lebih baik fokus pada hal-hal yang bisa dilakukan sekarang, seperti:
Mengumpulkan informasi yang cukup.
Menyusun rencana cadangan.
Mengembangkan keterampilan yang diperlukan.
Dengan demikian, perhatian berpindah dari ketakutan menuju tindakan nyata.
4. Gunakan Aturan 80 Persen Informasi
Banyak orang merasa harus memiliki semua data sebelum memutuskan sesuatu. Akibatnya, mereka terus mencari informasi tambahan tanpa pernah benar-benar membuat keputusan.
Dalam praktiknya, keputusan yang baik tidak selalu membutuhkan informasi sempurna. Banyak pakar manajemen menggunakan prinsip 80 persen, yaitu membuat keputusan ketika informasi yang dimiliki sudah cukup memadai.
Menunggu kepastian mutlak hanya akan memperlambat tindakan. Sering kali, pengalaman langsung justru memberikan pembelajaran yang lebih berharga dibandingkan analisis yang berlebihan.
5. Tulis Pikiran di Atas Kertas
Ketika semua pertimbangan hanya berputar di dalam kepala, pikiran menjadi terasa penuh dan membingungkan.
Menulis membantu otak mengorganisasi informasi secara lebih jelas. Teknik sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat dua kolom:
Keuntungan
Peluang berkembang.
Pendapatan lebih baik.
Pengalaman baru.
Kerugian
Risiko kegagalan.
Perlu beradaptasi dari awal.
Membutuhkan biaya tambahan.
Dengan melihat semuanya secara visual, seseorang dapat memisahkan fakta dari ketakutan yang hanya berasal dari imajinasi.
Baca Juga: 9 Kebiasaan yang Harus Ditinggalkan Menurut Psikologi jika Anda Ingin Akhirnya Mencintai Hidup Lagi
6. Terima Bahwa Tidak Ada Keputusan yang Bebas Risiko
Banyak orang terjebak dalam overthinking karena berharap ada pilihan yang sepenuhnya aman. Padahal, setiap keputusan selalu mengandung risiko tertentu.
Psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan loss aversion, yaitu rasa takut kehilangan yang sering kali lebih kuat dibandingkan keinginan memperoleh keuntungan.
Akibatnya, seseorang memilih diam dan tidak mengambil keputusan sama sekali. Padahal, tidak memutuskan juga merupakan sebuah keputusan yang memiliki konsekuensi tersendiri.
Belajar menerima ketidakpastian membantu seseorang menjadi lebih berani mengambil langkah dan lebih siap menghadapi hasil apa pun yang terjadi.
7. Percayalah pada Intuisi yang Dibangun oleh Pengalaman
Intuisi bukan sekadar perasaan tanpa dasar. Dalam banyak kasus, intuisi merupakan hasil dari pengalaman dan pola yang telah dipelajari otak selama bertahun-tahun.
Psikolog Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia memiliki sistem berpikir cepat yang mampu mengenali pola secara otomatis. Ketika seseorang memiliki pengalaman yang cukup dalam suatu bidang, intuisi dapat menjadi alat yang sangat berguna.
Namun, intuisi sebaiknya digunakan setelah memperoleh informasi yang memadai, bukan sebagai pengganti pemikiran rasional.
Jika setelah mempertimbangkan berbagai aspek Anda masih bimbang, terkadang mendengarkan suara hati dapat membantu menemukan arah yang paling sesuai dengan nilai dan tujuan pribadi.
Mengapa Terlalu Banyak Berpikir Justru Menghambat?
Banyak orang mengira bahwa semakin lama mereka berpikir, semakin baik keputusan yang dihasilkan. Kenyataannya, psikologi menunjukkan bahwa analisis yang berlebihan dapat menyebabkan:
Stres dan kecemasan meningkat.
Menurunnya kepercayaan diri.
Sulit mengambil tindakan.
Munculnya penyesalan terhadap keputusan yang sudah dibuat.
Kelelahan mental dan emosional.
Pada akhirnya, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berpikir, tetapi juga oleh keberanian untuk bertindak.
Kesimpulan
Seni pengambilan keputusan bukanlah tentang selalu benar atau tidak pernah membuat kesalahan. Tidak ada manusia yang mampu memprediksi masa depan secara sempurna. Yang terpenting adalah membuat keputusan dengan informasi yang cukup, menerima bahwa risiko selalu ada, dan terus belajar dari pengalaman.
Dengan menetapkan batas waktu, menghindari pencarian kesempurnaan, fokus pada hal yang dapat dikendalikan, menggunakan informasi secukupnya, menulis pertimbangan secara jelas, menerima ketidakpastian, serta mempercayai intuisi yang dibangun oleh pengalaman, seseorang dapat terbebas dari jebakan overthinking.
Pada akhirnya, keputusan yang baik bukan selalu keputusan yang sempurna, melainkan keputusan yang memungkinkan kita terus bergerak maju.