JawaPos.com – Psikologi stres berlebihan mengungkap bahwa tanda stres kronis sering kali muncul secara tersembunyi jauh sebelum seseorang menyadari dampak stres pada tubuh dan pikirannya.
Stres yang dibiarkan tanpa penanganan akan mengacaukan hormon dalam tubuh dan menciptakan kondisi fight-or-flight yang terus-menerus merusak kesehatan mental secara perlahan.
Dampak stres pada tubuh jauh lebih luas dari yang dibayangkan dan mencakup gangguan fisik, kognitif, serta emosional yang saling memperburuk satu sama lain.
Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (19/6), berikut sepuluh tanda stres kronis yang secara psikologi perlu dikenali agar dampak stres pada tubuh dan kesehatan mental bisa segera ditangani dengan tepat.
Baca Juga: 10 Kebiasaan Tanda Trauma Emosional akibat Kesepian di Masa Kecil Menurut Psikologi
1. Lebih sering sakit dari biasanya
Stres memiliki hubungan langsung dengan sistem kekebalan tubuh karena hormon stres mengubah cara kerja sel imun sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit.
Jika kamu merasa terus-menerus terkena flu atau sulit pulih dari satu penyakit ke penyakit berikutnya, tubuh kemungkinan besar sedang mengirimkan sinyal peringatan yang penting.
Mengabaikan gejala ini sebagai sekadar alergi biasa bisa berbahaya karena tubuh mungkin sedang merespons tekanan psikologis yang sudah melampaui batas toleransinya.
2. Merasa kelelahan tapi tidak bisa tidur
Stres yang terlalu tinggi secara signifikan memengaruhi kualitas tidur dan dalam kasus terparah bisa berkembang menjadi insomnia jangka pendek maupun kronis.
Ketidakmampuan tidur di malam hari membuat fungsi otak dan tubuh semakin menurun di siang hari, menciptakan siklus kelelahan yang semakin sulit dihentikan.
Dampak stres pada tubuh ini sangat nyata karena tanpa tidur yang cukup, kemampuan seseorang untuk mengelola tekanan emosional menjadi semakin terbatas setiap harinya.
3. Terbangun di tengah malam tanpa alasan jelas
Dokter spesialis tidur Keisha Sullivan menjelaskan bahwa kadar kortisol yang tinggi akibat stres adalah penyebab umum seseorang terbangun tiba-tiba di tengah malam.
Kondisi ini sering diperparah oleh pikiran yang berpacu tanpa henti saat terbangun dini hari, membuat proses kembali tidur menjadi semakin sulit dan melelahkan.
Menghindari layar ponsel dan tidak memantau jam adalah langkah sederhana yang bisa membantu meredakan kecemasan ketika terbangun di tengah malam akibat stres.
4. Mudah marah dan kehilangan kendali emosi
Stres yang tinggi membuat seseorang terus beroperasi dalam kondisi siaga penuh sehingga ambang toleransi terhadap gangguan kecil menjadi sangat rendah dan rapuh.
Iritabilitas ini semakin diperparah oleh kondisi fisik yang ikut terganggu seperti kurang tidur dan penurunan daya tahan tubuh akibat tekanan psikologis yang berkepanjangan.
Tanda stres kronis seperti ini sering tidak disadari sebagai masalah serius karena kemarahan kecil tampak normal padahal mencerminkan kondisi batin yang sudah sangat kelelahan.
5. Kesulitan berkonsentrasi dan mengingat hal-hal penting
Peneliti Harvard menegaskan bahwa stres berat membuat seseorang kesulitan berpikir jernih dan mengingat informasi karena bagian otak yang aktif bergeser ke mode bertahan hidup.
Dampak stres pada tubuh di level kognitif ini sangat mengkhawatirkan karena para ilmuwan menduga stres kronis yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko demensia jangka panjang.
Kondisi ini adalah tanda kuat bahwa kamu perlu segera mencari dukungan profesional sebelum gangguan kognitif semakin dalam memengaruhi kualitas kehidupan sehari-hari.
6. Merasa kewalahan oleh hal-hal kecil yang biasanya mudah ditangani
Psikolog klinis Sabrina Romanoff menjelaskan bahwa rasa kewalahan muncul ketika berbagai stresor seperti masalah keuangan, pekerjaan, dan hubungan bertumpuk melebihi kapasitas seseorang.
Berbeda dari stres biasa, rasa kewalahan mengubah cara seseorang memandang masalah sehingga hambatan kecil pun terasa mustahil untuk dihadapi atau diselesaikan.
Ketidakmampuan berfungsi normal dalam aktivitas harian adalah tanda stres kronis yang serius dan memerlukan perhatian serta penanganan yang tidak bisa terus ditunda.
7. Kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya disukai
Ketidakmampuan menikmati aktivitas favorit tidak hanya merupakan gejala depresi, tetapi juga bisa menjadi dampak stres pada tubuh yang sudah mencapai titik kritis.
Kondisi ini dikenal sebagai anhedonia, yaitu hilangnya kemampuan merasakan kesenangan akibat gangguan pada sistem dopamin di otak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Psikologi stres berlebihan menjelaskan bahwa menjauh dari hal-hal yang disukai justru memperburuk kondisi emosional karena sumber pemulihan alami itu ikut hilang bersamanya.
8. Merasa selalu harus mengerjakan sesuatu setiap saat
Terapis Emily Sotiriadis menjelaskan bahwa rasa bersalah saat tidak melakukan apa pun berakar dari keyakinan mendalam bahwa nilai diri harus dibuktikan melalui hasil kerja yang terus-menerus.
Produktivitas memberikan rasa lega sementara dari tekanan emosional, namun karena itu hanya solusi jangka pendek, kebiasaan ini berkembang menjadi pola yang berbahaya dan sulit dihentikan.
Tanda stres kronis ini sering disalahartikan sebagai semangat kerja yang tinggi padahal sesungguhnya adalah cara seseorang menghindari emosi tidak nyaman yang belum terselesaikan.
9. Menarik diri dari orang-orang terdekat
Studi tahun 2021 menemukan fenomena yang disebut stress-induced social avoidance, di mana orang cenderung menghindari sosialisasi setelah melewati hari yang sangat menekan.
Meski menyendiri terasa lebih nyaman saat stres memuncak, menarik diri dari dukungan sosial justru memperparah kondisi psikologis dan memperdalam perasaan terisolasi.
Menyadari pola penarikan diri ini sebagai tanda stres kronis adalah langkah penting agar kamu tidak terjebak dalam lingkaran isolasi yang semakin memperburuk kesehatan mental.
10. Selalu mengantisipasi masalah berikutnya yang akan datang
Kondisi di mana seseorang terus-menerus menunggu hal buruk terjadi disebut anticipatory stress, sebuah pola pikir yang menjebak pikiran dalam kecemasan akan masa depan yang belum pasti.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion membuktikan bahwa kekhawatiran tentang masa depan tidak membuat seseorang lebih siap, melainkan justru memperburuk kesehatan mental secara nyata.
Psikologi stres berlebihan menegaskan bahwa tanda stres kronis ini adalah sinyal jelas bahwa pikiran sudah kehilangan kemampuan untuk beristirahat dan merasa aman di masa kini.