← Beranda
10 Kebiasaan Tanda Trauma Emosional akibat Kesepian di Masa Kecil Menurut Psikologi
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 19 Juni 2026 | 15.53 WIB
Kebiasaan tanda trauma emosional akibat kesepian di masa kecil menurut psikologi / foto : Magnific/ freepik

JawaPos.com – Psikologi pria sulit ekspresi emosi menjelaskan bahwa kesepian emosional masa kecil meninggalkan tanda trauma emosional yang terbawa hingga kehidupan dewasa seseorang.

Kebiasaan pria tertutup yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sering kali berakar dari pola pengabaian emosional yang terbentuk sejak masa pertumbuhan mereka.

Psikologi pria sulit ekspresi emosi mengungkap bahwa tanda trauma emosional ini diperparah oleh tekanan sosial yang mengharuskan pria tampak kuat dan tidak mudah terluka.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (19/6), berikut sepuluh kebiasaan pria tertutup yang secara psikologi mencerminkan tanda trauma emosional dari kesepian emosional masa kecil yang belum terselesaikan.

Baca Juga: 10 Kebiasaan Kecil yang Buat Seseorang Jauh Lebih Cantik Alami di Usia Berapa Pun Menurut Psikologi

1. Melarikan diri dari kenyataan melalui berbagai aktivitas

Pria yang tidak nyaman dengan emosinya cenderung menghindari perasaan mereka dengan cara melarikan diri ke berbagai aktivitas yang menyibukkan pikiran mereka.

Pelarian ini bisa berupa bermain gim, berolahraga berlebihan, atau menghabiskan waktu dengan aktivitas apa pun yang mencegah mereka duduk dan merasakan emosi secara langsung.

Jika dilakukan secara berlebihan, escapism ini bisa membuat mereka kehilangan sentuhan dengan tanggung jawab dan hubungan-hubungan penting dalam kehidupan nyata mereka.

2. Mengisi setiap waktu dengan produktivitas berlebihan

Psikolog klinis Natalie Dattilo menjelaskan bahwa produktivitas toksik adalah tekanan internal untuk selalu mengerjakan sesuatu dengan mengorbankan kesehatan mental maupun fisik.

Selalu sibuk adalah cara yang efektif untuk menekan emosi tidak nyaman, namun dalam jangka panjang kebiasaan ini justru meningkatkan risiko burnout dan depresi.

Pria dengan kebiasaan ini menggunakan daftar tugas sebagai pelindung dari perasaan yang belum pernah mereka pelajari cara menghadapinya sejak kecil.

3. Merasakan emosi lebih sebagai sensasi fisik daripada perasaan

Koneksi antara pikiran dan tubuh sangat erat, sehingga emosi yang ditekan sering kali muncul sebagai ketidaknyamanan fisik tanpa disadari sumbernya adalah emosional.

Pria yang terbiasa mengabaikan perasaannya mungkin menyadari ada yang tidak beres secara fisik namun tidak mampu mengidentifikasi emosi spesifik yang menjadi penyebabnya.

Kondisi ini adalah salah satu tanda trauma emosional yang paling nyata namun paling jarang dikenali karena tampak seperti masalah kesehatan biasa semata.

4. Kesulitan meminta maaf dalam berbagai situasi

Meminta maaf membutuhkan pengakuan bahwa seseorang telah salah, dan bagi pria yang kesulitan dengan emosi hal itu terasa seperti menyerahkan kendali kepada orang lain.

Ketidakmampuan mengelola perasaan sejak kecil membuat proses meminta maaf terasa mengancam karena mengharuskan mereka mengakui kerentanan secara terbuka di hadapan orang lain.

Dampaknya sangat nyata dalam kehidupan pribadi mereka karena hubungan yang sehat hampir selalu membutuhkan kemampuan untuk saling mengakui kesalahan dengan tulus.

5. Menggunakan humor sebagai tameng untuk menyembunyikan perasaan

Humor memang terbukti dapat mengurangi beban stres dan meningkatkan kondisi emosional positif saat seseorang menghadapi situasi yang menekan.

Namun pria yang tidak nyaman dengan emosinya sering menggunakan sarkasme atau lelucon untuk mengalihkan perhatian orang lain dari keadaan emosional mereka yang sebenarnya.

Kebiasaan pria tertutup ini membuat humor berubah menjadi mekanisme penghindaran daripada cara tulus untuk terhubung dengan orang lain.

6. Takut untuk menunjukkan kerentanan diri

Penelitian dari Universitas Mannheim menemukan bahwa orang cenderung memandang kerentanan sebagai hal positif ketika ditunjukkan orang lain namun merasa tidak aman melakukannya sendiri.

Bagi pria yang tumbuh tanpa dukungan emosional, kerentanan terasa seperti ancaman yang harus dihindari karena tidak ada pengalaman bahwa membuka diri itu aman.

Psikologi pria sulit ekspresi emosi menjelaskan bahwa ketakutan ini mendorong mereka menjalani kehidupan yang semakin terisolasi secara emosional dari orang-orang terdekat.

7. Tidak pernah meminta bantuan meski sangat membutuhkan

Pria yang tumbuh tanpa sistem dukungan yang kuat belajar sangat awal untuk menyelesaikan semua masalah sendiri dan tidak bergantung kepada siapa pun.

Psikoterapis Amy Brodsky menjelaskan bahwa meminta bantuan terasa seperti pengakuan diam-diam bahwa seseorang tidak mampu, sesuatu yang sangat sulit diterima oleh pria seperti ini.

Kebiasaan bertahan sendiri ini justru membuat masalah yang ada semakin membesar karena tidak ada ruang untuk mendapat perspektif atau dukungan dari luar.

8. Tidak mampu menjelaskan apa yang dirasakan

Pria yang diajarkan bahwa emosinya tidak penting cenderung tidak mengembangkan kemampuan untuk memahami apalagi mengartikulasikan apa yang mereka rasakan secara verbal.

Kondisi ini bisa berkembang menjadi alexithymia, yaitu gangguan di mana seseorang benar-benar kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi yang sedang dialaminya.

Tanda trauma emosional ini membuat mereka tampak datar atau tidak responsif secara emosional meski di dalam diri mereka sebenarnya ada banyak hal yang bergejolak.

9. Langsung masuk ke mode pemecahan masalah tanpa memproses emosi

Ketika sesuatu terasa tidak beres, pria dengan kebiasaan ini langsung mencari solusi tanpa meluangkan waktu untuk memahami bagaimana situasi itu mempengaruhi mereka secara emosional.

Mereka mencoba menghilangkan ketidaknyamanan secepatnya daripada menerima bahwa beberapa emosi tidak perlu diperbaiki melainkan cukup dirasakan dan diberi ruang.

Psikologi pria sulit ekspresi emosi menegaskan bahwa menerima emosi yang tidak nyaman adalah keterampilan penting yang tidak pernah mereka pelajari sejak masa kecil.

10. Menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dari orang lain

Menyembunyikan emosi adalah mekanisme pertahanan umum yang digunakan orang yang tidak ingin tampak tidak terkendali atau memberi orang lain celah untuk menyakiti mereka.

Namun penelitian menunjukkan bahwa menekan dan menyembunyikan perasaan justru meningkatkan stres dan memperbesar risiko depresi dalam jangka waktu yang panjang.

Kebiasaan pria tertutup seperti ini berakar dari kesepian emosional masa kecil yang tidak pernah mendapat ruang aman untuk mengekspresikan perasaan secara jujur dan terbuka.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho