← Beranda
11 Ucapan Orang Tua Menyinggung Anak Dewasa yang Merusak Hubungan Keluarga Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalKamis, 18 Juni 2026 | 16.55 WIB
Ucapan orang tua menyinggung anak dewasa yang merusak hubungan keluarga menurut psikologi / foto : Magnific/ freepik

JawaPos.com – Psikologi hubungan orang tua dan anak dewasa menunjukkan bahwa ucapan menyinggung anak dewasa bisa merusak hubungan keluarga secara perlahan tanpa disadari.

Cara berkomunikasi yang salah dari orang tua sering kali menjadi akar dari jarak emosional yang tumbuh antara mereka dan anak-anak dewasa mereka.

Psikologi hubungan orang tua mengungkap bahwa kalimat yang merusak hubungan keluarga sering kali diucapkan tanpa niat jahat namun berdampak sangat dalam.

Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (18/6), berikut sebelas ucapan menyinggung anak dewasa yang perlu dihindari orang tua demi menjaga cara berkomunikasi yang sehat dan hubungan keluarga yang hangat.

Baca Juga: 11 Ucapan yang Menunjukkan Orang Tua Tidak Mengajarkan Literasi Finansial soal Nilai Uang Menurut Psikologi

1. "Kapan kamu mau settle down?"

Tekanan untuk segera menikah dan berkeluarga sudah sangat berat dirasakan anak dewasa dari lingkungan sosial mereka tanpa harus ditambah dari orang tua sendiri.

Kalimat seperti ini secara tidak sadar menambah kecemasan dan mendorong anak ke arah ekspektasi tradisional yang belum tentu sesuai dengan kondisi hidup mereka saat ini.

2. "Kamu harus lebih dewasa"

Mengatakan ini kepada anak dewasa yang sedang berbagi keresahan adalah cara paling cepat untuk membuat mereka merasa tidak didengar dan tidak dihargai.

Rasa hormat dalam hubungan orang tua dan anak dewasa harus berjalan dua arah, dan menutup percakapan dengan kalimat ini adalah bentuk penolakan emosional yang nyata.

3. "Hidupmu jauh lebih enak dari zamanku"

Membandingkan kondisi kehidupan masa kini dengan masa lalu orang tua adalah bentuk penolakan terhadap realitas nyata yang dihadapi anak dewasa setiap harinya.

Psikologi hubungan orang tua menunjukkan bahwa kalimat yang merusak hubungan keluarga seperti ini menandakan orang tua tidak benar-benar mendengarkan tantangan yang dihadapi anak.

4. "Kamu lebay banget sih"

Menggunakan kalimat yang meremehkan emosi anak dewasa justru mendorong mereka untuk menutup diri dan tidak lagi mau berbagi masalah kepada orang tua.

Cara berkomunikasi yang lebih baik adalah membimbing anak menuju kesadaran emosional yang lebih matang tanpa harus merendahkan perasaan yang sedang mereka rasakan.

5. "Kamu tidak pernah meluangkan waktu untuk kami"

Kalimat bernada menyalahkan ini hampir selalu tidak akurat dan sering kali mencerminkan kecemasan orang tua akan jarak alami yang terbentuk saat anak tumbuh dewasa.

Menurut psikolog Lynn Margolies, orang tua yang mengandalkan rasa bersalah dalam komunikasi sering kali kurang memiliki kesadaran diri dan kebingungan menghadapi emosinya sendiri.

6. "Kamu tidak tahu bagaimana dunia ini bekerja"

Ucapan menyinggung anak dewasa seperti ini bersifat merendahkan dan secara langsung mengabaikan pengalaman serta kecerdasan yang sudah diperoleh anak selama masa dewasanya.

Studi tahun 2015 tentang estrangement orang tua dan anak menemukan bahwa perasaan tidak didukung dan tidak diterima adalah alasan paling umum anak menjauh dari orang tua.

7. "Nanti kamu juga akan mengerti kalau sudah tua"

Kalimat ini secara implisit menyiratkan bahwa anak dewasa masih dianggap tidak cukup matang untuk memahami hal-hal yang sebenarnya bisa dijelaskan secara terbuka.

Anak dewasa sepenuhnya mampu berempati dan memahami pengalaman orang tua jika diajak berdialog dengan setara, bukan disingkirkan dari percakapan penting.

8. "Itu bukan pekerjaan sungguhan"

Mengatakan ini kepada anak dewasa yang membangun karier di industri baru adalah bentuk ketidaktahuan sekaligus penghinaan terhadap pilihan hidup yang sudah mereka buat.

Di era digital ini sangat wajar jika anak dewasa bekerja di bidang yang tidak pernah ada saat orang tua mereka muda, dan itu tidak menjadikan pilihan mereka lebih rendah.

9. "Kamu tidak pernah mau mendengar saranku"

Terapis keluarga Sarah Epstein menyebut pemberian saran tanpa diminta sebagai salah satu cara paling umum orang tua secara tidak sadar merusak percakapan dengan anak dewasa.

Cara berkomunikasi yang lebih sehat adalah menawarkan saran hanya ketika diminta dan menggantinya dengan kalimat dukungan yang memberi kepercayaan kepada anak.

10. "Aku sudah berkorban banyak untukmu"

Penelitian dalam Psychology and Aging menemukan bahwa ucapan menyinggung anak dewasa seperti ini memicu kebencian dan mendorong anak memutus hubungan dari dinamika yang terasa transaksional.

Orang tua yang membangun hubungan keluarga yang sehat mengajarkan rasa syukur tanpa pernah menjadikan kasih sayang dan pengorbanan sebagai hutang yang harus dilunasi.

11. "Kalau kamu benar-benar sayang, kamu pasti mau melakukan ini"

Kalimat ini memosisikan cinta sebagai alat tawar yang harus dibuktikan melalui kepatuhan, bukan sebagai ikatan tulus yang bersifat tanpa syarat antara orang tua dan anak.

Psikologi hubungan orang tua menjelaskan bahwa pola komunikasi transaksional seperti ini secara diam-diam menggerogoti harga diri anak dewasa dan membuat mereka meragukan nilai diri sendiri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho