← Beranda
7 Kebiasaan Mengelola Uang yang Sering Dianggap Bijak dan Pintar namun Justru Membuat Kita Sulit Kaya
Akhmad Iqbal FirmansyahRabu, 17 Juni 2026 | 19.08 WIB
Ilustrasi orang yang tidak bisa mengelola uang. (Magnific)

JawaPos.com – Tidak semua orang pandai dalam mengelola uang atau menyusun rencana keuangan jangka panjang untuk masa depan.

Bahkan ada beberapa orang yang tampak pandai mengelola uang namun berdampak membuat mereka miskin.

Ini karena kesalahpahaman dalam membiasakan diri mengelola uang atau membelanjakan uang dari hasil gaji.

Selain itu, sebanyak apapun seseorang mendapatkan uang namun jika tidak bisa mengelolanya, itu justru membuat mereka sulit kaya.

Oleh sebab itu, perlu kita sadari bahwa ada beberapa kebiasaan yang bisa menghambat kita untuk menjadi kaya secara diam-diam.

Kebiasaan-kebiasaan tertentu membuat kita sulit untuk menyusun rencana pensiun masa depan atau mencapai kemakmuran hidup secara finansial.

Dilansir dari Your Tango, ada tujuh kebiasaan yang dianggap cerdas dalam mengelola uang namun sebenarnya membuat kita sulit untuk menjadi kaya raya.

1.     Bertahan di Pekerjaan Bergaji Rendah

Semua orang pasti ingin mendapatkan pekerjaan untuk mencapai kemakmuran dan kekayaan hidup.

Namun, tak jarang orang terjebak dengan pekerjaan yang justru membuat mereka sulit untuk mencapai kekayaan.

Meskipun memiliki pekerjaan tetap dengan gaji rutin memang memberikan ketenangan batin dan rasa aman.

Namun, menolak mencari peluang baru atau tidak berani meminta kenaikan gaji hanya karena takut keluar dari zona nyaman adalah sebuah kesalahan.

Kebiasaan ini seiring berjalannya waktu membuat kita sulit kaya karena inflasi akan terus menggerus nilai uang kita.

Oleh karena itu, jika penghasilan kita tidak ikut naik, daya beli kita sebenarnya sedang menyusut setiap tahunnya.

2.     Fokus Hanya Menabung

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar pepatah “Menabung pangkal kaya” yang memang tidak sepenuhnya salah.

Namun, jika kita terus berprinsip bahwa menabuh dapat memberikan kita kekayaan, itu salah besar.

Memang menabung itu penting karena memiliki dana darurat di rekening tabungan adalah langkah awal yang sangat baik.

Namun, jika kita menyimpan seluruh sisa uang kita di tabungan biasa, kita kehilangan potensi besar untuk melipatgandakan kekayaan.

Ini karena bunga tabungan biasa sangatlah kecil dan seringkali tidak bisa mengalahkan laju inflasi.

Oleh karena itu, mulailah mengalokasikan sebagian dana kita ke instrumen investasi seperti reksa dana, saham, atau obligasi untuk masa depan.

3.     Anti dengan Hutang atau Pinjaman untuk Bisnis

Banyak orang menganggap bahwa hutang adalah sesuatu yang harus dihindari karena dapat berdampak negatif untuk masa depan.

Namun, itu tidak sepenuhnya benar, karena ada beberapa hal yang perlu kita berhutang agar dapat menyisihkan uang untuk kebutuhan yang lain.

Kita perlu paham bahwa yang merugikan adalah hutang konsumtif dengan bunga tinggi, dan itu memang harus dihindari.

Namun, menghindari hutang sepenuhnya juga berarti kita tidak membangun riwayat kredit untuk masa depan.

Padahal, rekam jejak kredit yang baik sangat dibutuhkan ketika kita nanti ingin mengajukan kredit besar yang bermanfaat, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

4.     Tidak Bisa Mengendalikan Diri Membeli Barang Diskon

Membeli barang kebutuhan sehari-hari dalam ukuran besar atau grosir memang sering kali lebih murah jika dihitung per satuannya.

Namun, kita perlu sadar bahwa ada batasan antara membeli barang karena memang murah atau justru terkena ilusi marketing.

Dan kebanyakan taktik ini hanya menghemat uang jika kita benar-benar menghabiskan produk tersebut.

Jika kita membeli bahan makanan dalam jumlah besar lalu separuhnya terbuang karena kadaluarsa, kita justru melakukan pemborosan.

Justru lebih baik jika kita membeli kebutuhan sesuai dengan periode tertentu agar tidak terbuang sia-sia.

5.     Mudah Tergiur Barang Murah namun Tidak Butuh

Diskon memang membuat kebanyakan orang tergiur untuk melakukan pembelian impulsif tanpa mempertimbangkan anggaran.

Ini karena papan tulisan "Diskon 70%" atau promo "Flash Sale" seringkali memicu ketakutan seseorang akan ketertinggalan.

Ini membuat kita merasa rugi jika tidak membelinya sekarang karena harganya sedang murah.

Kenyataannya, jika barang tersebut tidak ada dalam anggaran bulanan kita dan tidak benar-benar kita butuhkan, kita tidak sedang menghemat uang.

Pola kebiasaan ini justru menunjukkan bahwa kita sedang mengeluarkan uang yang seharusnya bisa disimpan atau diinvestasikan.

6.     Membuat Anggaran Ketat dan Menyiksa

Menyusun anggaran keuangan memang sangat penting, dan berkomitmen pada anggaran keuangan itu wajib.

Namun, memangkas seluruh hiburan, hobi, dan kesenangan demi berhemat justru bisa memicu stres finansial.

Ini sama seperti diet yang terlalu ekstrim, anggaran yang terlalu ketat biasanya tidak bertahan lama.

Hingga pada akhirnya, kita bisa merasa jenuh, dan malah menghamburkan uang secara impulsif.

Oleh karena itu, sisihkanlah sedikit pengeluaran untuk self-reward atau pengeluaran bersenang-senang agar kita tetap termotivasi.

7.     Gaji Hanya untuk Membayar Kartu Kredit

Membayar tagihan minimum kartu kredit memang terasa meringankan beban pengeluaran bulanan.

Kebiasaan ini membuat kita merasa aman karena tidak dikenakan denda keterlambatan atau biaya bunga.

Faktanya, ini adalah salah satu jebakan hutang terbesar yang membuat kita sulit untuk mencapai kekayaan finansial.

Sisa tagihan yang tidak dibayarkan akan terus berbunga hingga melebihi biaya tagihan yang kita miliki.

Pada akhirnya, kita akan membayar jauh lebih mahal dari harga asli barang yang kita beli, dan hutang tersebut akan mengendap bertahun-tahun.

EDITOR: Hanny Suwindari