← Beranda
11 Kecakapan Orang Telah Dewasa yang Sulit Dikuasai Orang Belum Dewasa Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalRabu, 17 Juni 2026 | 16.22 WIB
Kecakapan orang telah dewasa yang sulit dikuasai orang belum dewasa menurut psikologi / foto : Magnific/ katemangostar

JawaPos.com – Kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usia, karena banyak orang dewasa yang masih terjebak dalam pola perilaku immature alias belum dewasa.

Psikologi menunjukkan bahwa kecerdasan emosional adalah faktor paling penting yang membedakan orang yang benar-benar matang dari yang belum.

Orang yang belum dewasa secara emosional cenderung kesulitan menguasai kecakapan hidup dasar yang dianggap mudah oleh kebanyakan orang.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (17/6), berikut sebelas kecakapan hidup yang hampir mustahil dikuasai oleh mereka yang masih berpola pikir dan berperilaku immature.

Baca Juga: 11 Perilaku yang Menunjukkan Seseorang Akan Kaya dan Sukses serta Mindsetnya Menurut Psikologi

1. Menjaga keseimbangan emosi

Orang yang belum matang cenderung hidup di dua ekstrem emosi, selalu ingin merasa positif atau selalu merasa menjadi korban.

Kedewasaan emosional berarti menerima seluruh spektrum perasaan, memprosesnya, lalu menentukan langkah terbaik ke depan.

2. Menerima bahwa tidak ada yang dijamin dalam hidup

Orang immature percaya bahwa kerja keras seharusnya selalu menghasilkan hasil sempurna sesuai harapan mereka.

Orang yang matang memahami bahwa kekecewaan adalah bagian dari kehidupan dan justru mengajarkan rasa syukur atas apa yang dimiliki.

3. Berkata tidak tanpa membuat alasan panjang

Orang yang belum matang tidak bisa menetapkan batasan tanpa rasa bersalah, sehingga mereka sering berlebihan mengiyakan permintaan orang lain.

Kedewasaan berarti memahami bahwa berkata tidak adalah bentuk perawatan diri, bukan tanda keegoisan atau ketidakpedulian.

4. Menerima umpan balik dengan lapang

Orang immature sering menafsirkan kritik sebagai serangan terhadap karakter mereka, bukan sebagai informasi yang bisa membantu mereka berkembang.

Orang matang mampu memilah bagian umpan balik yang relevan dan memanfaatkannya sebagai bahan pertumbuhan yang nyata.

5. Mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak

Orang yang belum matang cenderung mendahulukan kepuasan instan tanpa memikirkan dampak jangka panjang dari setiap tindakannya.

Kedewasaan mengajarkan seseorang untuk berhenti sejenak, mengamati situasi, dan memilih tindakan yang paling bijaksana secara sadar.

Metode S.T.O.P. yang mengajarkan berhenti, bernapas, mengamati, dan melanjutkan dengan kesadaran penuh sangat membantu dalam proses ini.

6. Mengakui peran dan tanggung jawab diri sendiri

Orang immature memandang hidup sebagai sesuatu yang terjadi pada mereka, bukan sesuatu yang mereka aktif ciptakan dan kendalikan.

Kedewasaan hadir saat seseorang berhenti menyalahkan orang lain dan mulai mengambil tanggung jawab penuh atas pilihan-pilihannya sendiri.

7. Menikmati kesendirian

Orang yang belum matang melihat kesendirian sebagai sesuatu yang menakutkan dan selalu mencari stimulasi eksternal untuk mengisi kekosongan.

Orang matang memahami bahwa momen sendirian adalah kesempatan berharga untuk mengenal diri lebih dalam dan menemukan kedamaian sejati.

8. Bersyukur atas hal-hal sederhana

Orang immature terlalu terfokus pada apa yang tidak berjalan baik sehingga melewatkan keajaiban kecil yang ada di depan mata mereka.

Kedewasaan membuka kemampuan untuk melihat betapa penuhnya hidup ketika perhatian dialihkan dari keluhan menuju rasa syukur yang nyata.

9. Mendefinisikan ulang arti kesuksesan

Orang yang belum matang terjebak pada definisi sempit tentang sukses yang hanya diukur dari jabatan, harta, atau pengakuan eksternal.

Orang yang sudah dewasa memahami bahwa kesuksesan sejati mencakup kualitas hubungan, kenangan yang dibangun, dan kasih yang diberikan.

10. Menerima ketidaksempurnaan diri

Orang immature terus mengejar kesempurnaan yang mustahil, sehingga mereka tidak pernah benar-benar menerima diri sendiri apa adanya.

Kedewasaan memberi perspektif bahwa menjadi tidak sempurna adalah bagian alami dari kemanusiaan dan tidak mengurangi nilai diri seseorang.

11. Bertanggung jawab atas emosi sendiri

Orang yang belum matang menganggap tanggung jawab atas perasaan mereka adalah beban yang menakutkan dan lebih mudah menyalahkan orang lain.

Orang matang justru menemukan kekuatan dari proses menelusuri emosi secara jujur dan mengakui peran diri dalam setiap situasi yang terjadi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho